ARTIKEL GILAMOLOGI

Assalamulaikum Wr.Wb… اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

BERAT/MASSA MATERI (ZAT/SEL) ALAM SEMESTA SELALU SAMA?

(Gilamologi Sebuah Kajian Alternatif Filsafat Bebas)

By: Filsuf Gila

Bismillahhirohmanirohim… بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya,”

(Al Hajr 22;8)

"Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?"

(Al Anbiyaa 21;10)

“Ini lah (Qur’an) pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang sungguh-sungguh meyakininya."

(Al-Jathiya 45: 20)

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”

(Injil 1 Tesalonika. 5:21)

“Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu laku-kan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.” (Ulangan 12:32)

ISLAM AJARAN TAUHID

ISLAM AJARAN TAUHID
"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (Al Ikhlas 112;1-4)

Sabtu, 05 Maret 2011

Contoh Perbedaan Hukum Dan Teori (JILID 12 Hal: 78-86)

Contoh Perbedaan Hukum Dan Teori


Mari kita bedah sedikit  tentang perbedaan antara hukum dan teori. Kaum Atheis sangat mengagungkan mengenai Fisika sebagai Bapak dari Ilmu pengetahuan. Sedangkan saya akan mengatakan bahwa Filsafat adalah Bapaknya ilmu pengetahuan manusia. Sedangkan Kitab suci Alquran adalah sumber dari ilmu pengetahuan manusia.
Jadi jika ada yang mengatakan susunannya seperti ini :
Fisika => Filsafat => Ilmu pengetahuan terapan
Maka saya akan mengatakan bahwa dalam Islam, sistematika berpikirnya :
Alquran (Kitab Suci) => Filsafat => Fisika, Matematika dan Ilmu Murni lainnya => Ilmu pengetahuan terapan.
Urutan inilah yang disebut dengan metode berpikir Deduktif. Artinya Alquran adalah “sumber dari sumber Ilmu pengetahuan”, yang menginspirasi manusia yang berakal untuk berpikir Filsafat dan merumuskan dalam pemikiran ilmu manusia yaitu Fisika (diamati fenomenanya) dan matematika (dihitung kuantitasnya) atau ilmu murni lainya sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Sedangkan Filsafat adalah “Bapaknya ilmu pengetahuan” Manusia.
Sedangkan jika kita balik urutannya, maka itulah yang disebut dengan metode berpikir Induktif. Artinya jika kita menemukan salah satu Hukum Filsafat atau Fisika kemudian kita bandingkan dengan hukum pada Kitab Suci, Inilah metode Induktif. Kedua metode berpikir ini nanti akan membuktikan bahwa Ktab Suci Alquran adalah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan manusia.
Kita ambil contoh Hukum Gravitasi (gaya tarik bumi) untuk melihat perbedaan antara hukum dengan teori. Hukum Gravitasi ditemukan oleh Newton “katanya”. Padahal umat Islam lebih meyakini bahwa ini adalah sudah tercantum dalam Kitab suci Alquran, salah satunya :
“Dan pada sisi Allah-lah kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]
Dimana manusia lebih mengagungkan penemuan manusia lainnya. Atau karena Newton hidup sebelum mengenal dan membaca Alquran. Coba jika Newton membaca Alquran, maka dia tidak perlu repot-repot menunggu tidur dibawah pohon apel dan kejatuhan buahnya. Karena kejatuhan buah itulah maka Newton bertanya pada dirinya, Mengapa benda selalu jatuh kebumi? Ini adalah pertanyaan Filsafat, bukan ujug-ujug ilmu Fisika. Dari pertanyaan Filsafat inilah Newton mencoba melakukan penelitian dengan pengamatan dan pembuktian sehingga melahirkan hukum Gravitasi dan teori fisikanya yaitu rumusan gravitasi dan konstanta gravitasi.
Hukum Gravitasi mengatakan bahwa “ gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel yang mempunyai massa di alam semesta.”. Secara lengkapnya seperti ini:
Hukum Newton (1687):
"Dua benda saling menarik dengan suatu gaya yang sebanding-laras dengan massa-massa dari kedua benda tersebut dan sebanding-balik dengan kuadrat dari jarak antara kedua benda itu.
Dan ini sudah dipercaya oleh semua manusia di jagat bumi ini sebagai sebuah bagian hukum alam sampai sekarang ini. Hukum dalam definisinya belum bicara secara detail tentang rumus dan konstanta. Hukum berbicara secara umum tentang hukum alam yang didefinisikan dengan konsep, etimologi dan terminologi yang jelas. Hukum biasanya disampaikan atau didefinisikan dengan simbol kalimat bahasa yang umum. Hukum adalah wilayah Filsafat, bukan wilayah Fisika bukan matematika. Hukum alam Fisika adalah bagian dari Filsafat Hukum alam semesta raya. Dan Hukum Gravitasi yang dicetuskan/ditemukan oleh Newton saja (Hukum Gaya Tarik bumi), bagi saya baru bagian sedikit dari Hukum Tuhan tentang Hukum-hukum “Gaya Tarik menarik Alam Semesta”, nanti saya akan saya jelaskan. Hukum Gravitasi baru setitik dari ilmu pengetahuan manusia tentang Hukum “Gaya Tarik Menarik” menurut Hukum Allah. Hukum Gravitasi ditemukan pada abad ke 17, sedangkan AlQuran diturunkan pada abad ke 6. Apakah Alquran adalah perbuatan manusia?
Sedangkan rumusan dan konstanta gravitasi yang kita akui sekarang adalah baru sebagai teori, bukan sebagai hukum. Hal ini terbukti bahwa rumusan Gravitasi yang dipergunakan oleh Newton masih banyak menggunakan variabel asumsi ceteris paribus (dianggap sama atau dianggap mendekati nol atau variabel yang tidak terlalu berpengaruh). Newton waktu melakukan penelitian dilakukan pada tempat yang terbatas dan pengukuran jarak yang terbatas pula. Tetapi hal ini masih berlanjut sampai sekarang sebagai standar penelitian, dimana penelitian biasanya menggunakan standar suhu, tekanan, kecepatan angin di dalam ruangan (Laboratorium). Semua itu untuk memudahkan penemuan standar rumusan fisika terlebih dahulu.
Kemudian pengetahuan tentang sifat materi/zat tersebut pada waktu itu masih terbatas. Misalnya Newton tidak menggunakan perbedaan variabel Kerapatan partikel lingkungan (udara) untuk menghitung pengaruh friksi (gaya gesek) lingkungannya terhadap benda yang jatuh. Kemudian Newton juga tidak menghitung perbedaan jarak (lebih tinggi/jauh), kecepatan angin, gaya perlawanan benda, pengaruh gaya tarik lain, titik berat suatu benda yang dijatuhkan, berat jenis benda yang dijatuhkan  serta bentuk dan luas penampang dari benda yang dijatuhkan, bahkan mungkin hal/varibel lain yang belum dideteksi/ terpikirkan manusia. Hal ini dianggap normal karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan tehnologi pada waktu itu, serta keterbatasan manusia.
Mengenai Kerapatan Partikel udara, 2 jenis benda yang berbeda dengan berat yang sama bila dijatuhkan dari ketinggian 100 m akan berbeda waktu jatuhnya dengan benda yang dijatuhkan dari 10.000 m pada lokasi yang sama. Hal ini karena dipengaruhi kerapatan partikel udara pada ketinggian 100 m berbeda dengan kerapatan partikel udara pada ketinggian 10.000 m. Kemudian juga bila 2 jenis benda yang berbeda dengan berat yang sama bila dijatuhkan dari ketinggian 1000 m yang lingkungannya memiliki tingkat kelembaban udara rendah akan berbeda waktu jatuhnya dengan lingkungan yang memiliki tingkat kelembaban udara tinggi (lingkungan/lokasi berbeda). Tingkat kelembaban udara ini menyangkut kerapatan partikel udara tersebut, sehingga menimbulkan perbedaan friksi (gaya gesek) terhadap benda yang dijatuhkan. Sehingga konstanta gravitasi tidak mutlak sama. Kerapatan partikel ini tidak akan berpengaruh (dianggap nol) jika ketinggiannya rendah dan berat benda dijatuhkan lebih berat daripada partikel udara.
Perbedaan jarak sangat mempengaruhi konstanta gravitasi. Semakin jauh jarak benda yang akan dijatuhkan ke bumi terhadap bumi, semakin melemah gaya tarik bumi tersebut. Sehingga konstanta gravitasi tidak mutlak sama.
Materi/zat tidak selalu apa yang kasat mata. Materi atau zat yang berbentuk partikel-partikelpun bertebaran di muka bumi. Mengenai Berat Jenis benda atau zat tersebut, saya meyakini bahwa berat jenis suatu benda berpengaruh pada konstanta gaya tarik bumi. Jika Gaya tarik bumi lebih besar atau kuat daripada berat jenis suatu zat, maka benda tersebut akan jatuh ke bumi. Sedangkan bila konstanta Gaya tarik bumi lebih kecil dari berat jenis benda/zat tersebut, maka benda/zat tersebut tidak akan jatuh kebumi. Jika ada gaya tarik lain yang lebih besar dari gaya tarik bumi dan lebih besar daripada berat jenis benda tersebut, maka benda tersebut akan menuju kepada gaya tarik lain yang lebih besar tersebut. Dan jika berat jenis benda/zat tersebut lebih besar dari gaya tarik bumi dan lebih besar dari gaya tarik lainya, maka benda/zat tersebut akan melayang-layang diudara (tidak tertarik oleh gaya tarik bumi dan tidak tertarik pula oleh gaya tarik lainnya).
Sampai disini saja, mungkin orang bertanya, dari mana saya dapat mengetahui hal ini, tentu saja dari Alquran yang menyebutkan :
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” ( Al Hadiid 57;4).
Ayat Alquran menjelaskan apa yang akan jatuh ke bumi (ditarik gaya gravitasi) dan apa yang akan keluar dari bumi (menolak gaya gravitasi bumi atau ada gaya tarik lain).
Luar biasa bukan Alquran dengan ilmu pengetahuannya. Contohnya zat/benda gas yang melayang-layang diudara, apakah benda/zat tersebut jatuh ke bumi? Tidak bukan. Atau air yang menguap, apakah akan jatuh ke bumi? Tidak bukan, tetapi pada saat uap air itu berkumpul diawan dan melakukan transformasi zat/materi sehingga membentuk formasi partikel baru setetes air yang berat jenisnya lebih kecil dari gaya tarik bumi, maka air setetes air tersebut jatuh ke bumi, karena berat jenisnya lebih kecil daripada gaya tarik bumi. Sedangkan mengenai Gaya tarik lain yang saya maksudkan adalah kemungkinan bahwa sinar matahari/energi panas matahari mengandung gaya tarik terhadap zat-zat yang ada di bumi. Dan mungkin saja ada gaya tarik lain dari luar bumi yang lebih kuat yang akan mempengaruhi benda yang dijatuhkan tersebut. Misalnya pula pengaruh gaya tarik bulan terhadap pasang surut air laut. Apakah Newton menghitung variabel-variabel ini dalam rumusannya? Sayangnya saya bukan ahli Fisika dan Matematika, sehinga saya tidak dapat lebih mendalam lagi tentang hal ini. Saya hanyalah seorang yang belajar tentang Filsafat dan Metode berpikir manusia saja.
Gaya perlawanan dari benda/zat yang dijatuhkan tersebut adalah gaya penolakan terhadap gaya gravitasi bumi. Misalnya sebuah Roket yang meluncur keruang angkasa adalah benda yang melawan gaya gravitasi bumi. Sama seperti pada berat jenis, bila gaya perlawanan ini lebih besar dari gaya tarik bumi, maka benda akan meluncur keatas, demikian sebaliknya. Mungkin saja dalam beberapa zat/materi yang ada di bumi yang memiliki kaidah dan melakukan gaya perlawanan seperti sebuah roket tersebut secara alami (seperti sebuah jet pendorong), yang melakukan perlawanan terhadap gaya gravitasi bumi. Selain gaya dorong jet pada roket tersebut, kita bisa juga mengambil contoh gaya dorong kepak sayap burung yang melawan gaya gravitasi bumi bumi. Alquran menggambarkan hal ini dengan hukum kekuatan:
“Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (Ar Rahman 55;33)
Gaya Bantu adalah gaya perlawanan yang arahnya menuju gravitasi bumi. Gaya tersebut dipergunakan justru bukan unutk melawan melainkan membantu percepatannya jatuh ke bumi. Roket yang arahnya menuju ke bumi, maka gaya dorongnya adalah gaya bantu untuk mempercepat jatuh ke bumi.
Titik Berat mempengaruhi kecepatan jatuh sebuah benda. Semakin banyak titik beratnya, maka semakin lambat dia turun. Atau misalnya sebuah benda yang memiliki titik berat yang merata pada bentuk (Volume) dan luas penampang yang lebar/luas, maka waktu jatuh ke buminya akan semakin lambat. Misalnya jika anda melempar 2 buah panci, panci satu diberikan konsentrasi berat pada lantai pancinya dan yang satu panci pada bibir pancinya. Maka pada saat jatuh panci yang titik beratnya pada lantai panci, maka dia akan jatuh dimana lantai panci akan menghadap kebawah (ke bumi) akan lebih cepat jatuh. Sedangkan panci yang satu lagi bibir pancinya yang akan menghadap kebawah (ke bumi). Bagi Panci yang bibir pancinya menghadap kebawah (ke bumi), dimana ada volume/ruangnya akan menangkap/menahan udara lebih besar di dalamnya, maka gaya friksinya semakin kuat, sehingga jatuh ke bumi akan lebih lambat daripada panci yang lantainya menghadap kebawah (ke bumi).
Bentuk dan luas penampang saling terkait dengan titik berat diatas, jika semakin besar bentuk dan luas penampangnya dengan titik berat yang merata, maka jatuh benda tersebut akan semakin lambat. Misalnya kita jatuhkan meja dan bola bowling dengan berat yang sama. Meja yang memiliki luas tersebut kita beri pemberat yang sama pada keempat sudutnya. Maka jika bola bowling dan Meja tersebut dijatuhkan dari ketinggian misalnya 1000 m, maka saya yakin bahwa bola bowling akan jatuh terlebih dahulu. Mengapa? Karena bentuk dan luas penampang bola bowling lebih kecil dari meja dan titik beratnya ada pada satu titik berat. Sedangkan meja yang memiliki luas penampang yang lebih luas dan memiliki 4 titik berat yang sama pada sudutnya dan titik berat yang merata pada luas penampangnya. Maka luas penampang meja tersebut akan menghambat laju atau gesekannya semakin kuat dengan udara, sehingga meja menjadi lambat untuk jatuh. Bentuk dan luas penampang ini dapat dikatakan pula sebagai aerodinamika benda tersebut.
Karena Rumusan yang banyak menggunakan asumsi tersebut diatas, maka percepatan gravitasi Newton yaitu 9,8 m/det ternyata mengandung relatifitas dan berbeda tergantung lokasinya di bumi. Percepatan gravitasi yang diakui sekarang adalah kisaran 9 m/det s/d 10 m/det. Seperti yang diungkapkan dalam Wikipedia:
“Percepatan gravitasi suatu obyek yang berada pada permukaan laut dikatakan ekivalen dengan 1 g, yang didefinisikan memiliki nilai 9,80665 m/s2. Percepatan di tempat lain seharusnya dikoreksi dari nilai ini sesuai dengan ketinggian dan juga pengaruh benda-benda bermassa besar di sekitarnya. Umumnya digunakan nilai 9,81 m/s2 untuk mudahnya.”

Sedangkan konstanta G (Konstanta Gravitasi) kira-kira sama dengan 6,67 × 10−11 N m2 kg−2. Sekali lagi teori manusia tidak sanggup membuat kepastian bilangan Percepatan dan konstantanya, hanya pendekatan saja. Teorinya memang dapat gugur oleh teori berikutnya, tetapi hukumnya sendiri tidak berubah. Inilah perbedaan antara hukum dan teori.
Dari gambaran diatas, sebenarnya Gilamologi ingin membuat distingsi besarnya saja, bahwa Hukum selalu memiliki 2  pengaruh besar. Dalam Hukum Gravitasi pengaruh tersebut terbagi :
1.      Pengaruh Internal
Pengaruh yang disebabkan oleh benda/zat atau objek/subjek yang diamati dari dalam dirinya sendiri. Hal ini disebabkan kelengkapan sistem yang sudah melekat pada benda/zat itu sendiri. Misalnya Berat jenis, Massa, Titik berat benda/zat, bentuk dan luas penampang, gaya perlawanan atau hal-hal yang muncul atau sudah ada pada benda/zat tersebut. Malah ada teori yang belum terpecahkan atau teori yang belum dapat dibuktikan menyebutkan bahwa gaya gravitasi timbul karena adanya partikel gravitron dalam setiap atom.
2.      Pengaruh Eksternal.
Sedangkan pengaruh Ekternal adalah pengaruh-pengaruh yang berasal dari luar benda/zat atau objek/subjek yang sedang diamati. Misalnya dalam hukum Gravitasi diatas seperti Kerapatan Partikel lingkungan, Gaya tarik lain (pengaruh konstanta gravitasi benda lainnya), jarak, dan variabel eksternal lainnya.
Semakin luas dan dalam (Holistis) variabel itu dipergunakan dalam teori manusia, maka semakin mendekati hukum alam yang sebenarnya hukum alam yang ditemukan manusia tersebut.
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (Az Zumar 39;3)
Dari penjelasan diatas, Apakah manusia sekarang sudah mampu membuat konstanta atau menemukan secara lengkap tentang gaya tarik lain yang mempengaruhi gaya tarik bumi (gravitasi). Apakah manusia sudah dapat melihat variabel-variabel yang lebih mendalam tentang gaya tarik bumi dan gaya tarik lainnya? Manusia akan menjawab, waktulah yang akan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Bagaimanapun manusia akan selalu tergantung pada variabel KETERBATASAN DAN terkungkung oleh variabel Ruang dan Waktu. Mengapa harus menunggu waktu jika hal itu sudah disuratkan dan  disiratkan dalam Alquran?
 “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)". (Al-I Imran 3;27)
Dari balik ayat diatas ini saja, kita dapat melihat ilmu pengetahuan didalamnya. Filsafat manusia kita akan bertanya, Apa yang hidup dari yang mati dan yang mati dari yang hidup? Ini bukan semata-mata ayat tentang hukum etika dan moral, melainkan ayat sumber ilmu pengetahuan. Apakah ada sebuah energi (hidup) yang dilepaskan oleh benda mati? Atau apapun itu, Alquran mempersilahkan manusia yang berilmu dan berakal untuk mengkaji bagi kepentingan kemakmuran dan kesejahteraan hidup umat manusia.
Kitab (Al Quraan ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quraan) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya.” (Az Zumar 39;1-2)
Bodoh dan egoisnya manusia karena hendak membuktikan bahwa dirinya lebih besar daripada Allah SWT. Betapa sombongnya, arogan dan tersesatnya manusia, serta melampaui batas hendak melebihi apa yang sudah dibuktikan secara jelas dan nyata dalam AlQuran sebagai bukti Alquran adalah sumber ilmu pengetahuan dan Alquran membuktikan secara Empiris bukti keberadaan dan Kekuasaan Allah SWT.
“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (Taha 20;110)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung Ke-...JILID 13 Hal: 86-96 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar