ARTIKEL GILAMOLOGI

Assalamulaikum Wr.Wb… اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

BERAT/MASSA MATERI (ZAT/SEL) ALAM SEMESTA SELALU SAMA?

(Gilamologi Sebuah Kajian Alternatif Filsafat Bebas)

By: Filsuf Gila

Bismillahhirohmanirohim… بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya,”

(Al Hajr 22;8)

"Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?"

(Al Anbiyaa 21;10)

“Ini lah (Qur’an) pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang sungguh-sungguh meyakininya."

(Al-Jathiya 45: 20)

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”

(Injil 1 Tesalonika. 5:21)

“Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu laku-kan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.” (Ulangan 12:32)

ISLAM AJARAN TAUHID

ISLAM AJARAN TAUHID
"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (Al Ikhlas 112;1-4)

Rabu, 23 Februari 2011

Perang Konsep (JILID 4 Hal : 20 - 26)

Perang Konsep
Setelah penemuan diatas, saya mencoba untuk lebih memahami sehingga pencarian saya lebih jauh lagi sampai pada tehnologi yang canggih seperti sekarang ini yaitu internet. Saya melakukan pencarian sampai mengikuti lebih dari 100 milist, serta ratusan bahkan ribuan web yang saya kunjungi. Akhirnya bertemu dengan beberapa milist yang saya lihat aktifitasnya sedang mendiskusikan masalah-masalah yang selama ini saya cari. Jadi alasan yang kedua,   saya mendapatkan ide menulis Gilamologi ini justru setelah menjadi penonton dan mangamati milist-milist (filsafat dan keagamaan) selama 2 tahun yang didalamnya terdapat orang-orang yang saling mengadu/menguji kemampuan dan paradigma ilmu filsafat dan keagamaan mereka. 
Dalam diskusi dan perdebatan milist tersebut, saya perhatikan orang-orang banyak menggunakan konsep idealis semata, dimana menampilkan banyak ayat-ayat Kitab Suci yang sama sekali tidak berhubungan atau berusaha untuk dihubung-hubungkan, sehingga seolah-olah penjelasannya masuk diakal (jika tidak diterima, tidak beriman). Ada yang hanya menggunakan konsep Materialistis semata, dimana hanya kenyataan yang dilihat oleh indera manusia (Empiris) yang hanya menjadi alat bukti, termasuk artikel media masa (padahal tidak semua hasil media masa dapat dijadikan alat bukti). Malah banyak sekali tulisan yang berasal dari artikel media masa, digunakan sebagai alat pengambilan kesimpulan sebelum diadakannya analisis terlebih dahulu yang sesuai kaidah keilmuan. Ada data-data rekayasa.  Metode penulisannya tidak jelas. Ada yang mengedepankan dialektis semata, dimana paradigma pribadi, asumsi, dugaan, persepsi/opini, tafsir pribadi, doktrin/dogma golongan dan analogi/ilustrasi dongeng dianggap sebagai alat bukti yang nyata. Sebuah contoh yang saya dapatkan :
“Ternyata bukan hanya TUHAN YESUS saja yang bisa menjadi JURUSELAMAT. Musapun  bisa menjadi juruselamat. Sesuatu hal yang sangat rasional bagi seorang yang berjiwa Kepemimpinan yang penuh tanggung-jawab atas anak buahnya. Dia rela berkorban untuk  kepentingan perlindungan anak buahnya. Bukan Pemimpin yang justru bersembunyi mencari selamat dari anak buahnya, macam Muhammad. Hidup mencari kemakmuran dengan dikelilingi oleh istri-istrinya yang sekampung banyaknya. Tiap hari kerjanya happy-happy dengan Aisyah. Anak buahnya dimakankan peperangan dengan Bom bunuh dirinya yang terkenal itu, tapi dirinya sendiri ternyata mati secara biasa-biasa saja. Sudah begitu, karena merasa tidak bisa selamat, dia meminta semua orang mendoakan keselamatan buat diri dan keluarganya. Pikirnya: “Siapa tahu jika didoakan rame-rame dirinya bisa selamat?” - Logika mengangkat lemari yang digunakan. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.” (Rudy –Hakekat Hidup)

Kemudian pada tulisan lain:
“Karena itu Muhammad adalah musuh saya dan agama Islam harus saya robohkan konsep-konsepnya seperti yang sekarang ini saya lakukan. Semua itu untuk merebut dan menyelamatkan umat Muslim dari api neraka. Ini tugas saya yang akan saya lakukan sampai titik darah saya yang terakhir. Karena itu sampai kapanpun saya tak akan berhenti untuk menghina dan menginjak-injak Muhammad sampai hancur menjadi debu!” (Bung Hakekat Hidup)

AlKitab memerintahkan hal ini juga:
“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.”(Matius 5;43)
"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Matius  10:34) 
AlQuran sudah mengetahui hal ini:
ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya ? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”(An Nisa 4;54)
Tulisan pertama oknum diatas adalah bagian dari tulisan dengan judul dan tema “Apakah Hari Paskah?. Dan tiba-tiba setelah memasukan ayat dari Kitab Keluaran 12; 2-19, sedikit penjelasan tentang penanggalan baru Yahudi dan cerita roti tak beragi, kemudian disusul ayat dari Kitab Keluaran 32;32, masuklah pada tulisan yang saya kutip diatas. Yang jika saya perhatikan penekanannya pada kata Juru Selamat, bukan tema Paskah. Tetapi kemudian dikaitkan dengan Poligaminya Nabi Muhammad SAW, metode pembuktian dan penulisan ilmiah apakah ini? Ataukah ini yang namanya penulisan Rohani? Ataukah ini yang dimaksud dengan, Logika Kekristenan = Keimanan Kristen?
Saya mencatat pula catatan oknum Kristen diatas yang mengatakan:
“Injil ini berkali-kali diajukan (Injil barnabas oleh Umat Muslim) kepada sarjana-sarjana Kristen, namun berkali-kali pula ditolak. Apa sebab? Sebab mereka itu pinter-pinter, nggak gampangan  bisa dibohongi orang.  Bahwa Kristen itu bukan model orang lumpuh yang terkena stroke, melainkan  orang yang terbentengi dengan logika yang baik”. (Bung Hakekat)

Dari sisi tulisan, oknum ini tidak mengedepankan analisis ilmiah. Menuliskan kata “logika dan rasional”, tetapi seringkali tulisannya tidak mengandung logika dan rasionalitas. Misalnya dalam tulisan diatas Tuhan Yesus = Juru selamat = Musa. Apakah Musa dapat dikatakan sebagai  Tuhan Musa? Nanti kita lihat siapa yang tulisannya lebih logis dan rasional rasional? Tulisan Oknum tersebut atau tulisan Gilamologi? Apakah karena ada tulisan Tuhan Yesus, maka Yesus menjadi Tuhan? Lihatlah perbandingannya dengan apa yang dikatakan dalam Alquran.
“Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, "(yaitu) Tuhan Musa dan Harun". (Al Araf 7;121-122)
Apakah dengan tulisan pada ayat Alquran yang menuliskan Tuhan Musa dan Harun, maka umat Islam dapat menafsirkan Musa dan Harun sebagai Tuhan? Tidak, ayat itu menegaskan bahwa Allah SWT sebagai pencipta alam semesta adalah Tuhannya Musa dan Harun.
Sejujurnya saya mau katakan, jika agama Islam dan Alqurannya kita anggap tidak pernah lahir, artinya hanya Kristen yang ada seperti sekarang ini, maka saya lebih baik memilih menjadi Atheis daripada tetap pada Kristen yang melacurkan intelektual saya atas nama doktrin atau dogma.
Kemudian yang menarik adalah disatu sisi pernyataannya ingin dianggap logis dan rasional, tetapi disisi lain (pada saat terdesak/kepepet) oknum ini mengungkapkan dengan huruf kapital :
“AGAR ANDA TIDAK TERKECOH OLEH TIPU DAYA AJARAN YANG BERDIMENSI LOGIKA DAN AGAR ANDA TIDAK TERPEDAYAI OLEH PENAMPILAN SESEORANG ! JIKA ANDA DOMBA ALLAH BIARLAH SEGALA KEMULIAAN HANYA BAGI ALLAH !” (Bung Hakekat)

Tulisan oknum diatas mencoba mengalihkan ketidakmampuanya dan kelemahan referensinya dan Kitab Sucinya dengan cara menuliskan seperti diatas. Oknum ini menyatakan bahwa dengan kerusakan Alkitabnya sebesar 82%, mampu untuk melawan siapapun dengan logika kristennya yang terbentengi dengan baik. Tapi pada saat dia terdesak oleh tulisan logis dan rasional, dia keluarkan senjata jawab pamungkasnya dengan tulisan kapital diatas. Semua tulisan oknum ini hanya berisi doktrin/dogma, berasumsi, analogi, metafora, character assasination, fitnah, plin-plan,  kedangkalan berpikir, provokasi, hiperbolis dan banyak lagi kesesatan berpikir. Menuliskan banyak ayat-ayat, tetapi tidak berhubungan dengan topik, untuk menimbulkan kesan seolah-olah kedalaman religius si oknum tersebut. Menjawab pertanyaan yang sering kali ngawur dan keluar dari topik yang didiskusikan. Memaksakan diri menjawab semua pertanyaan seolah-olah mampu dan paing benar. Menggunakan statusnya sebagai Pendeta, seolah-olah bahwa dengan status ahli agama/ahli kitab akan selalu berkata “benar”.
“Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (Roma 3;7)
Mungkin ini tujuannya :
“Oleh karena kamu melemahkan hati orang benar dengan dusta , sedang Aku tidak mendukakan hatinya, dan sebaliknya kamu mengeraskan hati orang fasik, sehingga ia tidak bertobat dari kelakuannya yang fasik itu, dan kamu membiarkan dia hidup. (Yeh 13;22)
 Apakah Kebenaran dapat didustakan? Apakah ajaran kebaikan bagi manusia disampaikan dengan Kedustaan? Apakah oknum ini benar-benar seorang ahli Alkitab? Yang mengejutkan saya adalah oknum ini berani menyatakan bahwa ayat Alkitab dari salah satu saksi (Matius) adalah salah dan ayat lain pada cerita yang sama adalah benar, pada saat terjadi kontradiksi ayat pada Alkitab. Apakah oknum ini paham tentang prinsip Falsifabilitas? Apakah oknum ini punya hak untuk menyalahkan Alkitab? Mari kita lihat nanti:
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Matius 7; 1-2)
Model tulisan seperti oknum ini dan metode pencitraan yang ingin digunakannya adalah model dengan target sasaran tingkat intelektual bawah/rendah, sesuai dengan Matius 11;25. Metode ini cocok sekali untuk orang-orang yang berada pada masa “Kegelapan” alias masa kebodohan.
Apakah seperti ini tulisan agama/filsafat masa kini yang hendak berdiskusi atau mencari pemahaman tentang masing-masing agama? Atau ada motif dibalik ini semua? Mari kita ukur dari apa yang dia ukur. Dan apa yang dilakukan oleh oknum ini adalah dengan menspamer kepada banyak sekali milist tanpa mengindahkan etika berinternet, dengan mengatasnamakan “Hidup di Jalan Tuhan”. Tapi disisi lain oknum tersebut (Bung Hakekat) mendeklarasikan dirinya juga sebagai “Pendusta” (mengadopsi Roma 3;7), dengan alasan katanya bahwa “walaupun hanya dengan keakuratan 18% AlKitabnya, tapi dia bisa membuat keok semua orang”.  Bagaimana orang mau beli mobil yang kesalahan rakitnya atau manual booknya mengalami kesalahan 82%? Yang pantas adalah Departemen Perhubungan mengeluarkan surat TIDAK LAIK jalan bagi kendaraan yang mengalami kerusakan 82%, karena membahayakan dirinya dan masyarakat.
Alquran mengidentifikasi hal ini :
“Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah ? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).” (An Nisaa 4;50)
Tipe orang seperti diatas juga sudah jelas digambarkan dalam AlQuran :
“Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.”(Al-i Imran 3;78)
Dan ada juga tulisan dalam milist-milist itu yang mengedepankan hal Logis semata, padahal mengalami juga Kesesatan Logika. Kaidah dasarnya belum dikuasai, bahkan tidak jelas. Sedikit sekali yang menggabungkan konsep-konsep diatas menjadi sesuai dengan kaidah-kaidah filsafat atau tidak sepotong-sepotong. Malah ada yang mencoba untuk saling menabrakan atau bertabrakan antara keempat kaidah tadi. Kerumitan ini ditambah lagi dengan bagaimana membuktikan alat bukti sebagai alat bukti yang sah. Akhirnya terjadi perdebatan kusir yang dipenuhi oleh suasana emosi dan tidak beretika dalam standar diskusi ilmiah. Diperparah lagi dengan caci maki dan bahasa kotor yang sangat tidak etis.
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,” (Al Humaza 104;9)
Suatu tontonan yang sebenarnya sudah tidak menarik lagi, tapi cukup untuk kajian Gilamologi.
“Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa, Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya), Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat), Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar kebenaran yang diyakini. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar.” (Al Haqqa 69;48-52)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung ke-... JILID 5 Hal : 26 - 32

Metode Kajian Kitab Suci (JILID 3 Hal : 12- 20)

Metode Kajian Kitab Suci
Pertanyaan ilmiah dan kritisi subjektif  itu sendiri ternyata terjawab semua oleh Al-Quran, malah sebelum saya konfirmasi dengan Ulama (Ahli Kitab). Bagaimana hal itu bisa terjawab? Alquran memberikan keyakinan kepada saya bahwa :
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mu'jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (An Nisaa 4;174-175)
Menurut pengamatan saya ternyata ada beberapa metode pengujian ilmiah terhadap Kitab Suci tersebut, yaitu :
  1. Memahami berdasarkan Kaidah Kebahasaan dan Nilai-Nilai Estetika Bahasa. Dimana dalam memahami Kitab Suci dan pengujiannya bisa melalui pendekatan ilmu kebahasaan (Linguistik, Etimologi, Semantik, dsb), pemahaman terjemahan dan penafsiran. Cara- cara ini menurut saya adalah cara yang paling konvensional. Pendekatan tafsir secara harafiah atau pendekatan syariat, dan tarekat saja, bukan hakekat apalagi Marifat, akan menimbulkan distorsi tafsir. Kajian keilmuan tafsir memiliki syarat-syarat yang cukup banyak dalam menafsirkan bahasa Ketuhanan menjadi Bahasa Manusia, minimal harus menguasai ilmu kebahasaan/Sastra bahasa asli (Teks Asli) dari Kitab Sucinya dan bahasa yang akan diterjemahkannya (1 tahap). Tidak serta merta orang biasa dapat menafsirkan dari terjemahan Kitab Suci tersebut (2 tahap). Karena Tuhan menyampaikan Logika Ketuhanan-Nya dengan kaidah kebahasaan dari bahasa asli yang dipilih-Nya.  Seringkali orang menafsirkan dari hasil terjemahan dari bahasa aslinya (2 tahap). Malah ada tafsir dari terjemahan dari hasil terjemahan dari bahasa aslinya (3 tahap). Contoh yang 3 tahap. Kitab Suci dari Injil yang manuscriptnya berbahasa Aram atau Ibrani diterjemahkan menjadi bahasa Yunani (1 tahap). Kemudian dari bahasa Yunani diterjemahkan menjadi bahasa Inggris (2 tahap). Setelah itu diterjemahkan menjadi bahasa Indonesia (3 tahap). Barulah hasil terjemahan tahap ke-3 ini ditafsirkan oleh para ahli kitab Indonesia.Kesalahan penafsiran dari bahasa aslinya saja masih mungkin sering terjadi, apalagi yang melalui proses tahapan yang panjang. Semakin panjang tahapannya, kemungkinan terjadinya distorsi terjemahan dan distorsi tafsir menjadi semakin besar. Kesalahan itu terjadi salah satunya karena kelengkapan bahasa dari terjemahannya masih belum lengkap, ilmu pengetahuan yang masih terbatas dan keterbatasan manusia itu sendiri. Apalagi jika proses tahapan ini diselipi dengan berbagai macam kepentingan manusia. Maka tuntutan terhadap konsistensi penulisan (terjemahan maupun tafsir) khususnya pada Kitab Suci mutlak diperlukan.
    Contoh nyata dari distorsi terjemahan (revisi) pada Alkitab dengan kepentingan manusia dalam bahasa Indonesia. Dalam Alkitab Injil yang diterbitkan tahun 1968 bunyi kitab Imamat 11:7 diterjemahkan sebagai berikut  :
"Demikian juga Babi, meskipun berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu."
Sedangkan pada Alkitab Injil yang diterbitkan tahun 1979 diterjemahkan:
"Demikian juga Babi Hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu."
Perhatikan kata “Babi” pada terjemahan tahun 1968 dengan kata “Babi Hutan” pada terjemahan tahun 1979. Semua orang Indonesia tahu, jika kata “Babi” saja berarti atau ditafsirkan sebagai semua jenis/variasi Babi (umum). Sedangkan kata “Babi Hutan” adalah bagian dari variasi Babi yang bersifat khusus. Artinya tafsir ini dapat menghasilkan pengecualian terhadap variasi Babi lainnya, misalnya Babi Ternak. Jadi pada terjemahan tahun 1968 ditafsirkan “semua babi haram”. Sedangkan pada terjemahan tahun 1979 ditafsirkan “hanya Babi Hutan yang haram, sedangkan Babi lainya (termasuk Babi ternak) adalah Halal”. Satu kesalahan dari sebuah distorsi yang berada dalam buku biasa dapat dimaklumi. Tetapi jika itu terjadi pada Kitab Suci yang diklaim mengandung Kebenaran Mutlak (hukum), hal ini sulit dan tidak dapat dimaklumi begitu saja. Kecil terlihat permasalahannya, tetapi mengimplikasikan permasalahan yang besar bagi ayat tersebut dan keseluruhan Kitab Suci tersebut. Sehingga timbul pertanyaan sederhana, Apakah hal ini terjadi pada ayat lainya? Inikah campur tangan manusia terhadap Firman Tuhan? Siapa yang memiliki hak untuk merubah (revisi) sebuah Kitab Suci? Jika Kitab Suci diklaim sebagai Firman Tuhan, Apakah Manusia pantas untuk merubahnya?
“Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, lalu keterangan itu menunjukkan (kebenaran) apa yang mereka selalu mempersekutukan dengan Tuhan? Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.” (Ar Rum 30;35-36)
Walaupun pola penafsiran dengan cara ini banyak distorsinya, tidak berarti selalu salah jika digunakan oleh orang-orang yang ahli (bukan orang yang sekedar yang bisa membaca). Tapi biasanya pola penafsiran seperti ini tetap mengandung nilai-nilai Subjektif, jika tidak memiliki standar terjemahan dan tafsir. Pola pengujian dengan metode inilah yang menjadi penyebab timbulnya banyak aliran. Cara-cara ini tidak akan saya fokuskan, tetapi beberapa hasilnya akan saya kutip, karena sudah banyak tulisan dan orang-orang yang ahli dalam bidang ini.
  1. Memahami Berdasarkan Kaidah Historis.  Dimana dengan cara ini ayat-ayat Kitab Suci akan dikomparasikan atau mencoba mencari litelatur, artikel, hasil penelitian manuskrip, bukti historis (artefak, situs, dsb) dan sebagainya, berdasarkan pendekatan Sejarah. Tapi hal ini juga belum memuaskan saya, karena data historikal dan penerjemahan sejarah itu bisa saja merupakan hasil rekayasa. Walaupun tidak semuanya juga salah atau hasil rekayasa. Artinya harus ada pembuktian alat bukti historisnya secara empiris terlebih dahulu, kemudian dianalisis sebelum mencapai kesimpulan. Dalam menggunakan metode ini minimal orang harus menguasai ilmu sejarah atau yang lebih spesifik misalnya Antropologi.Cara-cara ini sering dilakukan oleh para ahli kitab atau pendakwah, tapi tanpa bukti historis dari hasil penelitian ilmiah. Cara ini juga banyak mengandung Doktrin-doktrin/ Dogma, rekayasa, bahkan propaganda dari masing-masing ahli kitab/pendakwahnya. Bahkan ada indikasi intimidasi terhadap para ilmuwan atau rekayasa terhadap bukti historis agar sesuai dengan ayat-ayat Kitab Sucinya. Salah satu contohnya adalah tekanan dari kelompok “Inquisisi” Gereja Katholik, Ordo Bait Allah dan Freemansory terhadap Ilmuwan masa lalu. Banyak bukti-bukti sejarah yang disembunyikan atau diputarbalikan faktanya. Sekarang ini seringkali bukti historis ditampilkan dalam bentuk Film yang seolah-olah menjadi bukti nyata. Jadi saya akan sedikit membatasi dengan cara-cara ini. Kecuali jika kaidah historisnya sudah ada hasil uji/kajiannya.
  1. Menggunakan Perbandingan Agama (Theologi). Dimana dengan cara ini kita membandingkan antara ayat Kitab Suci dengan ayat lain Kitab suci yang sama dan antara ayat Kitab Suci yang satu dengan ayat dari Kitab Suci yang lainnya. Perbandingan ini sangat layak dilakukan, karena masing-masing Kitab Suci sama-sama derajatnya mengandung Hukum. Tinggal kemudian kita mencari korelasi, kontradiksi dan kebenaran Mutlak (hukum) diantara keduanya tentang hukum yang diakui mengajarkan kebenaran dan kebaikan, serta diakui oleh hukum ilmu pengetahuan. Cara-cara ini membutuhkan keilmuan khusus yaitu ilmu Theologi. Cara-cara ini juga masih mengandung subjektifitas dari pelakunya. Atau bahkan menggunakan ayat-ayat yang belum teruji Ke-Maha-anNya, atau ayat-ayat yang hasil penulisan manusia (revisi/perbaikan/tidak asli).
Cara menguji gabungan poin No.1-3 ini sudah dapat dikategorikan pendekatan dengan metode pendalaman Hakekat, sudah tidak lagi sekedar Syariatnya, jika memenuhi syarat-syaratnya. Metode ini banyak dilakukan pemikir Islam seperti Ahmed Dedat. Beliau melakukan ini karena beliau sendiri seorang sarjana Theologi. Beliau melakukan penelaahan melalui Theologi dan kemampuan otodidak, dan gaya oratornya yang jenius. Dan hasil penelaahannya tersebut banyak yang menjadi acuan peneliti, pendakwah dan  ahli agama lainnya. Cara-cara ini saya hanya akan menggunakan hasilnya saja, karena saya bukan seorang Theolog. Tetapi saya akan mencoba dengan cara ini sesuai dengan tingkat pendidikan dan kemampuan ilmu pengetahuan yang saya miliki sampai sekarang.
  1. Menggunakan Pembanding Terbalik. Saya tahu dan yakin bahwa Al-Quran itu adalah sumber ilmu pengetahuan manusia. Hal ini disebabkan Alquran berisi tentang Hukum-hukum alamiah Alam semesta, bukan hanya sekedar teori. Artinya dalam metode ini metode berpikir deduktif dan induktif akan dipergunakan bersamaan, untuk melahirkan hasil yang akurat. Dalam Deduktif, Kitab suci harus dapat menjadi landasan dasar secara umum bagi hal-hal yang bersifat khusus yang sekarang diakui oleh manusia. Sedangkan dalam hal induktif, apapun yang sudah ditemukan oleh manusia sudah sepantasnya ada hukumnya secara umum dalam Kitab Suci. Dan jika kedua metode tersebut berhasil menguji hukum dalam Kitab Suci tersebut, maka Kitab Suci tersebut berhak menyandang Kitab Suci yang diturunkan oleh sesuatu yang memiliki sifat ke”Maha”an.Salah satu bentuk sumbangsih Alquran sebagai sumber ilmu pengetahuan dapat dilihat pada sejarah bangsa Arab. Kemajuan Bangsa Arab justru banyak terjadi sejak diturunkannya Al-Quran. Bangsa Arab pada waktu sebelum diturunkan Al-Quran adalah bangsa yang memiliki Kebudayaan tinggi (Bahasa salah satunya), tetapi rendah dalam moral/etika kebudayaannya dan Peradaban. Karena terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan pada waktu itu, jumlah orang yang bisa membaca saja sangat sedikit. Tetapi setelah Islam lahir, banyak Ilmu pengetahuan bangsa Arab menjadi berkembang karena bersumber dari Al-Quran dan memperkaya Kebudayaan Arab (khususnya perubahan moral/etika) dan memajukan peradabannya pula.
Tetapi saya ingin memposisikan seolah-olah sebagai orang diluar Islam, dimana saya mencoba membandingkan  hasil penelitian ilmu pengetahuan kepada Al-quran itu sendiri. Apakah Kitab Suci hanya kumpulan tulisan yang berisi tentang sekedar teori Surga dan Neraka atau pahala baik dan hukumannya (reward and punishment)? Bagaimana kaitannya antara Kitab Suci dengan manusia yang diciptakan-Nya untuk menggunakan akal budinya (ilmu pengetahuan)? Apakah Al-Quran adalah agama yang ketinggalan jaman atau membuktikan dirinya sebagai Kitab Suci segala jaman? Apakah Ilmu Pengetahuan sumber dari Kitab Suci? Atau Kitab Suci sebagai sumber Ilmu (hukum alam)? Kitab Suci mana yang dapat menjawab pertanyaan diatas? Saya ingin menguji, seperti apa yang dikatakan oleh Kitab Suci sendiri :
"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir dan Yang Batin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Hadiid 57; 3)
Jika memang Kitab Suci (Kitab Suci) mengandung sumber ke-Maha-an sebagai bentuk eksistensi Allah SWT (KeTuhanan), sudah sepantasnya jika Kitab Suci (Kitab Suci) tidak boleh berkontradiksi dengan ilmu pengetahuan (tidak logis), malah seharusnya mengandung hukum-hukum alam sebagai acuan dan inspirasi bagi ilmu pengetahuan, tidak berkontradiksi antar ayatnya, serta tidak mengandung inkonsistensi dalam penulisan (tidak sistematis) satu ayatpun.
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”(An Nisaa 4;82)
Tetapi saya agak kesulitan dalam mengambil ayat dari Kitab Suci  lain yang dapat saya kaji sebagai sumber ilmu pengetahuan, misalnya Kitab Suci Alkitab. Apakah ini yang dimaksud dalam kutipan Matius 11;25, bahwa ilmu pengetahuan untuk orang yang bijak dan pandai akan disembunyikanNya? Mengapa Matius 11;25 berbenturan (kontradiksi)  dengan ayat Matius 22;36-38 dan ayat 1 Tesalonika. 5:21? Pada ayat ini saja saya sudah dibenturkan kepada hal yang sudah tidak memungkinkan kita untuk menganalisisnya. Bagaimana dengan ayat-ayat lainnya, apakah ada ayat yang meupakan sumber ilmu pengetahuan dalam Alkitab? Saya hanya melihat cerita sejarah dalam Alkitab, tetapi tidak dalam ilmu pengetahuan. Malah dalam ayat Kitab Kejadian yang di halaman pertama saja, saya sudah dapat berargumen secara logis karena ketidak logisan secara ilmiah ayat-ayat pada Kitab Kejadian tersebut. Mungkin nanti akan ada kajian yang mirip dengan tulisan Gilamologi ini, yang membantu untuk mengungkapkan sumber-sumber ilmu pengetahuan yang berasal dari Alkitab.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (Surat an-Nahl, 125)
Metode pengujian seperti ini menurut saya adalah pengujian yang paling sedikit distorsinya dan tingkat keakuratan objektifitasnya paling tinggi, karena saya hanya menggunakan hasil penelitian ilmiah yang sudah dilakukan oleh pihak lain. Kemudian kita cari sumbernya (hukumnya) dari Kitab Suci yang mengandung ilmu pengetahuan tersebut, atau sebaliknya. Jika sesuai, maka akan dikaji berdasarkan waktunya (mana yang lebih dahulu?). sedangkan bila tidak sesuai, Apa penyebabnya?  Saya akan banyak melakukan hal ini pada Gilamologi. Jadi nanti kita dekati dengan pendekatan sejarahnya (tinggal lihat tahun ditemukannya penelitian tersebut), apakah lebih dahulu ditemukan ilmu pengetahuan tersebut atau turunnya Al-Quran? Apakah ada bentuk plagiatisme dalam penulisan dalam Kitab Suci, jika penemuan ilmiah lebih dahulu ditemukan? Kalau lebih dahulu Al-quran (Kitab Suci), maka TERBUKTI ini bukan KATA-KATA MANUSIA melainkan ALLAH. Didalam Gilamologi ini juga berisi beberapa hasil pengujian saya melalui metode ini. Salah seorang yang menggunakan hasil penelitian dan pola pendakwahaannya seperti ini adalah Dr. Zakir Naek dan Harus Yahya (Adnan Oktar). Pola Dr. Zakir Naek dan Adnan Oktar inilah yang mengunakan pola perbandingan riset pengetahuan. Perbedaan antara Dakwah Dr Zakir Naek dan Adnan Oktar adalah pada segmen audiensnya. Dr Zakir Naek lebih menekankan kajian Theologi berdasarkan ilmu pengetahuan untuk kaum yang beragama. Sedangkan Adnan Oktar lebih menekankan pada kaum Atheis yang begitu percaya dengan Kitab Suci Teori Evolusinya dengan Tuhan atau Nabi Darwin-nya.
Hal ini ditulis juga dalam Al-Quran :
“Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah.” (Al-Hajj  22:70)
      Mengapa keterangan ayat diatas kita tidak buktikan?
  1. Penggabungan Pembuktian Metode-Metode diatas.
Pengunaan metode ini membutuhkan kemampuan tingkat tinggi dan hasil yang akan dicapai akan mencapai tingkat keakuratan yang tinggi. Selain harus memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, orang-orang yang melakukan metode ini sudah dipastikan menggunakan metode pemikiran Marifat. Hasil pengamatannya dalam melihat Kitab suci, apakah terjadi inkonsistensi dan kontradiksi (seperti buatan manusia) ayat-ayat Kitab Suci yang meniadakan Kebenaran Mutlak sebagai bentuk Ke”Maha”an?
Pengujian terhadap Al-Quran, dipersilahkan dan dijelaskan sendiri oleh Al-Quran dalam ayat :
“Dan telah Kami turunkan Kitab Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya), dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu…” (Al Maa-idah 5;48)
Al-Quran membenarkan adanya kitab-kitab suci sebelumnya dan menguji kemurnian dari kitab-kitab suci itu. Dimana Kemurnian dari Kitab Suci AlQuran sendiri telah teruji selama ribuan tahun, dan ini bukan karena kehebatan manusia, tetapi sudah menjadi sebuah Mukzijat, serta tertulis pula dalam Kitab Suci:
”Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Suci (Al Quran) dan sesungguhnya kami tetap memeliharanya” (Al Hijr 15;9)
Bagi setiap ajaran (agama/keyakinan), sungguh nyatalah perbedaan dalam mencapai tingkat (proses) keimanannya. Dalam Islam, proses keimanan didapatkan dari proses belajar (membaca dan diskusi), proses berpikir dan perbuatan (pengalaman religius) yang akan diwujudkan dalam bentuk keimanan dan ketaqwaan, serta menjadi manusia yang Ihsan adalah tujuan akhirnya. Mencari Kebenaran memang tidak mudah, tetapi hidup tanpa Kebenaran lebih sulit lagi. Dengan tegas AlQuran menegaskan bagi orang-orang yang ingin memahami tentang Keimanan sebagai sebuah proses pembelajaran, bahwa :
“dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur'an itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Al hajj 22;54)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung ke-...JILID 4 Hal 20 -  26

Selasa, 22 Februari 2011

Pencarian Jati Diri (JILID 2 Hal: 7 -12)

Pencarian Jati Diri
Mengapa saya masukan unsur Keimanan disini? Pertama, karena saya sedang mencari kejatian diri dalam bentuk keimanan bagi diri saya sendiri, termasuk diawali dan didalamnya adalah kritisi saya terhadap Al-Quran. Dan saya merasa beruntung lahir sebagai Muslim, karena saya sudah belajar dan membaca Al-Quran sejak kecil. Di dalam Al-Quran sendiri Allah sudah mempersilahkan manusia yang berakal dan mau berpikir logis untuk membedah Al-Quran yang didalamnya mengandung sumber-sumber ilmu pengetahuan. Dimana hal ini sudah diberitahukan dalam AlQuran:
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur'an) dengan terperinci (fully detailed), kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya (teaching) atas dasar ilmu pengetahuan (knowledge) Kami; menjadi petunjuk (bimbingan/ guidance), dan rahmat (mercy) bagi orang-orang yang beriman.” (Al A’raf 7;52)
Allah SWT akan murka jika apa yang diberikannya pada manusia sebagai wujud kesempurnaan ciptaan-Nya yaitu akal budi tersebut tidak dimanfaatkan:
“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (Yunus 10;100)
AlQuran sebagian besarnya berisi panduan (hukum) moral dan etika umat Muslim. Tetapi didalamnya juga mengandung ilmu pengetahuan. Hal ini dimaksudkan oleh Allah SWT sebagai wujud eksistensinya (KeberadaanNya) kepada umat manusia melalui wujud material Firman/Wahyu Kitab Suci Alquran. Manusia yang cenderung menuntut bukti bentuk material dari wujud Tuhannya dipersilahkan oleh Allah SWT untuk membuktikan KeberadaanNya/Eksistensinya (Bukti Empiris) melalui ilmu pengetahuan dalam Kitab Suci AlQuran.  
“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfa'atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).” (Al An Am 6;104)
Karena zat Allah SWT tidak dapat dilihat oleh mata manusia yang memiliki keterbatasan. Seperti yang sudah disampaikan dalam Alquran:
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Al An Am 6;103)
Seperti contoh ilmu pengetahuan yang tercantum dalam ayat Kitab Suci AlQuran, dalam Bahasa Ketuhanan yang begitu luas dan dalam:
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama, Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain, tentang rasa (dan bentuknya). Sesungguhnyalah pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (Ar Ra’d 13;4) 
Dalam pemahaman Bahasa Ketuhanan yang luas dan dalam, artinya jika landasan berpikir kita berangkat dari Kitab suci sudah pastilah manusia harus menggunakan “metode berpikir deduktif”. Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Artinya pula dalam menjelaskan secara terperinci tentang Kitab Suci (umum), maka hal-hal yang bersifat khusus seperti Hadist, fatwa ulama dan ilmu pengetahuan dapat mendukung pemahaman Kitab Suci tersebut. Metode berpikir ini digunakan umat Islam untuk menjadikan Kitab sucinya sebagai pedoman Hidup.
Sedangkan jika kita berangkat dari Hadist, fatwa ulama dan ilmu pengetahuan, maka pola berpikir kita haruslah menggunakan “metode induktif”. Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Dalam berpikir induktif, kita tidak dapat menyimpulkan sebuah teori atau satu kasus saja, kemudian dibenturkan seolah-olah sama dengan atau digeneralisasikan dengan Kitab Suci, kemudian seolah-olah menjadi benar. Karena teori manusia tersebut harus diuji dahulu dengan teori manusia yang lainya sehingga pantas teori atau kasus tersebut disebut sebagai hukum. Sehingga hukum akan disandingkan/diperbandingkan dengan hukum, karena Kitab suci berisi hukum bukan teori, apalagi sekedar kasus. Metode ini ini digunakan oleh Umat Islam sebagai metode pembuktian illmiah bagi Kebenaran Alquran, selain pula dapat menggunakan metode deduktif untuk pembuktiannya. Metode induktif seminimal mungkin dihindari bagi pedoman hidup umat Islam, karena akan menimbulkan penafsiran pribadi. Artinya umat Islam harus sering membaca Alquran untuk baru melaksanakan kehidupannya dengan baik, benar dan tepat.
Jadi jika mendekati/memperbandingkan sebuah teori dengan Kitab Suci, haruslah teori tersebut sudah diuji sehingga teori tersebut mendekati kebenaran mutlak (hukum). Misalnya Hukum (sebenarnya Teori) yang ditemukan manusia menyatakan bahwa bumi sebagai pusat Tata Surya. Sedangkan Kitab Suci menyatakan bahwa Matahari sebagai pusat Tata surya. Karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan peralatan tehnologinya, maka manusia lebih cenderung percaya pada hasil penemuan manusia. Walaupun ada sebagian manusia lainnya yang percaya dengan agama akan mempertahankan bahwa kebenaran dalam Kitab Sucilah yang benar. Dengan berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu pengetahuan, maka Kebenaran Mutlak dari Kitab Sucilah yang merupakan Hukum yang sebenarnya.
Tetapi bagaimana jika terjadi hal sebaliknya? Kitab Suci menyatakan bumi sebagai Pusat Tata Surya dan Manusia menemukan bahwa Matahari yang menjadi Pusat Tata Surya. Waktu membuktikan bahwa penemuan manusialah yang benar. Maka secara jujur Kitab Suci tersebut sudah gugur dalam menyandang Kitab Firman/wahyu Tuhan. Karena Tidak mungkin Tuhan yang kita percaya memiliki sifat ke”Maha”an dapat salah dengan apa yang Dia ciptakan.
Contoh hukum dalam Kitab Suci yang satu ini:
“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu terdapat pelajaran bagimu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang hendak meminumnya”.(An nahl 16;66)
Bukti ilmiah menunjukan bahwa kelenjar susu induk binatang mamalia ternak berada antara saluran tahi dan pembuluh darah. Atau juga, pada zaman Nabi pengetahuan tentang angin yang mengawinkan benang sari dan putik dari tumbuhan belum dikenal. Kemudian bagaimana air yang hujan yang ditampung dan diserap oleh tanah, disimpan dalam tempat-tempatnya di dalam tanah. Sekarang ini hal tersebut sudah merupakan pengetahuan yang umum (hukum).
"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya." (Al Qur'an 15:22)
Jadi mari kita lihat apa yang disampaikan Al-Quran tentang hukum alam, bukan hanya sekedar menceritakan saja, melainkan menunjukan juga letaknya secara detail (pengetahuan) dimana proses pembuatan susu didalam tubuh mahluk hidup, bagaimana proses penyerbukan dan sebagainya. Bagaimana Alquran yang hadir pada abad permulaan dapat menjelaskan secara detail, sedangkan kaidah ilmu kesehatan (Bedah/anatomi) sendiri baru berkembang pada abad pertengahan.
Bagaimana AlQuran juga hadir pada objek yang tidak membeda-bedakan (diskriminasi) kelas atau kaum manusia atau memiliki nilai universal (hukum umum) bagi seluruh umat manusia. Kitab suci sekarang harusnya untuk seluruh umat manusia (bukan untuk satu kaum). Subjek pembeda yang jelas antara Pencipta Alam Semesta (Allah SWT) dan orang pilihan (Nabi Muhammad dan nabi-nabi lainnya) yang akan menjadi tauladan dan contoh manusia lainnya untuk mengaplikasikan hukum-hukum Alquran masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Memiliki hukum-hukum dan akibat hukum terhadap predikat yang jelas serta keterangan yang jelas, baik di dalam Alquran itu sendiri, maupun didalam keterangan As Sunnah (Hadisth).
"Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu." [Surat Thaahaa: 98]
Sebenarnya bagi umat Muslim dan manusia yang berakal tinggal mengembangkan turunan ilmu tersebut menjadi sebuah bentuk aplikasi (Imu Terapan) yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia (metode deduktif). Informasi dasar Hukum alam (umum) sudah ada dalam AlQuran. Seperti aplikasi ilmu terapan (khusus) untuk membangun sebuah gedung bertingkat (Ilmu Bangunan) sebenarnya ini adalah ilmu yang didapatkan dari Kitab Suci tentang hukum “Tiang Pancang” :
“Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata. Untuk menjadi pengajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat) Allah “.(Qaaf 50;7-8)
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?” (An-Naba 78;6-7) 
Walaupun Kitab Suci sudah kita ketahui sejak lahir, tetapi perkembangan akal budi manusia itu akan terjadi secara alamiah. Perkembangan pola berpikir yang dipengaruhi oleh lingkungan dan akibat perkembanganya itu sendiri menimbulkan keraguan, karena terlalu banyak melihat kenyataan. Salah satunya adalah pertanyaan-pertannyaan kritis tentang kejatian diri. Pertanyaan yang umumnya terjadi pada setiap manusia yang menginginkan kebenaran dan mencari kesempurnaan. Pertanyaan tentang keberadaan Allah? Apakah Allah itu Nyata atau Tidak Nyata? Kalau Allah Nyata bagaimana bentuknya? Kalau Tidak Nyata, tanda-tanda apa yang bisa diberikan akan ke-Nyata-annya? Apakah saya Islam keturunan ataukah karena saya sadar dimana harus memilih Islam sebagai agama saya? Apakah Islam agama pemaksaan ataukah agama yang memberikan petunjuk bagi mereka yang menyadari hakekat kebenaran? Apakah Islam bagi yang berpikir logis ataukah bagi kepentingan doktrin/dogma-dogma belaka? Apakah Islam dapat menjelaskan Ilmu Pengetahuan atau sebaliknya? Apakah Islam membatasi manusia untuk berpikir logis dan mengatur kebebasan hak asasi manusia dalam menjalankan kehidupannya? Apakah Keselamatan dulu yang kita cari, baru kita memilih agama ataukah sebaliknya ataukah bersamaan? Apakah kita perlu sebuah Kepastian? Dan banyak pertanyaan lagi yang berkembang akibat dari pencarian dari satu pertanyaan saja. 
“Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah." Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa". [Ar Ra’d 13:16]
Tampaknya Alquran keutamaannya bukan hanya sebagai pedoman hidup umat Islam (muslim), tetapi juga merupakan sarana dan fasilitas, serta sumber ilmu pengetahuan (hukum) kehidupan umat Islam (muslim). Alquran adalah Kitab Suci yang layak dikaji dengan menggunakan kaidah ilmu pengetahuan.
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung ke-...JILID 3 Hal: 12 - 20

Senin, 21 Februari 2011

Latar Belakang Dan Dasar Pemikiran (JILID 1 Hal: 1 - 7)

Assalamulaikum Wr.Wb…                اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

BERAT/MASSA MATERI (ZAT/SEL) ALAM SEMESTA SELALU SAMA?
(Gilamologi Sebuah Kajian Alternatif Filsafat Bebas)
By: Filsuf Gila

Bismillahhirohmanirohim…                   بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya,”
(Al Hajr 22;8)
Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?
(Al Anbiyaa 21;10)
“Ini lah (Qur’an) pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang sungguh-sungguh meyakininya.
(Al-Jathiya 45: 20)
 
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
(Injil 1 Tesalonika. 5:21)

LATAR BELAKANG DAN DASAR-DASAR PEMIKIRAN
Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah merestuI/meridhoi rampungnya tulisan ini. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk memberikan Kajian Alternatif dan wawasan atau paradigma baru tentang RAHASIA ALAM SEMESTA.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." [Ali 'Imran 3:190-191]
Tulisan ini mungkin dapat dijadikan sebagai sebuah landasan untuk terlahirnya sebuah penemuan baru bagi kepentingan umat manusia. Tulisan ini diharapkan pula dapat menjadi alat komunikasi, pengisi, dan jembatan “Ruang Kosong” antara Logika Ketuhanan dan Logika Manusia. Jika saya analogikan mengenai “Ruang kosong ini” adalah seperti sebuah komputer. 

Dalam Komputer ada Bahasa Mesin dan bahasa Manusia. Bagaimana sebuah mesin elektronik (benda mati) mengolah bahasa manusia dengan menggunakan bahasa mesin (bahasa/bilangan binary). Yang menjadi menarik adalah ketika manusia menemukan bahwa bahasa/bilangan binary dapat menjadi “jembatan “ bagi seonggok benda mati (komputer/Hardware) dengan bahasa yang dapat dipahami manusia. Pemahaman “Ruang kosong” ini adalah bahasa/bilangan binary tersebut. Tidak semua orang memahami bahasa binary ini. Hanya orang yang belajarlah yang akan memahami ini.
Jika bahasa mesin (buatan manusia juga) saja tidak semua orang mampu untuk memahami/ menterjemahkan bahasanya, bagaimana dengan bahasa/Logika Ketuhanan? Jika manusia merasa mampu melebihi kemampuan Tuhan, maka inilah yang disebut dengan manusia yang melampaui batas. Jika ruang kosong ini terisi/dipahami sedikit saja, maka ilmu ini akan mengisi ruang kosong tersebut.  Sebuah ilmu yang akan menjadi sebuah alat untuk mencapai keyakinan, keimanan dan ketaqwaan kepada pencipta-Nya (Allah SWT). Tulisan ini juga ingin menunjukan salah satu bentuk “Tanda-tanda Kebesaran dan Keberadaan Allah SWT”. Seperti yang dikatakan dalam Kitab Suci Al-Quran :
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Az Zumar 39;9)
Selain Allah menegaskan bahwa Al-Quran tersebut diperuntukkan bagi orang-orang yang berakal,  Allah SWT juga akan meninggikan derajat orang yang berilmu pengetahuan dan taat pada agama, seperti yang dinyatakan:
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”. (Al Mujaadalah 58;11)
Bukti menunjukan bagaimana Allah meninggikan para pemikir Islam seperti kepada Ibnu Khaldun (1332-1406 M/732-808 H) dari wikipedia :
“Ibnu Khaldun adalah seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi,  sosiologi  dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah  (Pendahuluan).
Di antara sekian banyak pemikir masa lampau yang mengkaji ekonomi Islam, Ibnu Khaldun merupakan salah satu ilmuwan yang paling menonjol. Ibnu Khaldun sering disebut sebagai raksasa intelektual paling terkemuka di dunia. Ia bukan saja Bapak sosiologi tetapi juga Bapak ilmu Ekonomi, karena banyak teori ekonominya yang jauh mendahului Adam Smith dan Ricardo. Artinya, ia lebih dari tiga abad mendahului para pemikir Barat modern tersebut. Muhammad Hilmi Murad secara khusus telah menulis sebuah karya ilmiah berjudul Abul Iqtishad : Ibnu Khaldun. Artinya Bapak Ekonomi : Ibnu Khaldun.(1962) Dalam tulisan tersebut Ibnu Khaldun dibuktikannya secara ilmiah sebagai penggagas pertama ilmu ekonomi secara empiris. Karya tersebut disampaikannya pada Simposium tentang Ibnu Khaldun di Mesir 1978.
Sebelum Ibnu Khaldun, kajian-kajian ekonomi di dunia Barat masih bersifat normatif, adakalanya dikaji dari perspektif hukum, moral dan adapula dari perspektif filsafat. Karya-karya tentang ekonomi oleh para imuwan Barat, seperti ilmuwan Yunani dan zaman Scholastic bercorak tidak ilmiah, karena pemikir zaman pertengahan tersebut memasukkan kajian ekonomi dalam kajian moral dan hukum.
Sedangkan Ibnu Khaldun mengkaji problem ekonomi masyarakat dan negara secara empiris. Ia menjelaskan fenomena ekonomi secara aktual. Muhammad Nejatullah Ash-Shiddiqy, menuliskan poin-poin penting dari materi kajian Ibnu Khaldun tentang ekonomi.
“(Ibnu Khaldun membahas aneka ragam masalah ekonomi yang luas, termasuk ajaran tentang tata nilai, pembagian kerja, sistem harga, hukum penawaran dan permintaan, konsumsi dan produksi, uang, pembentukan modal, pertumbuhan penduduk, makro ekonomi dari pajak dan pengeluaran publik, daur perdagangan, pertanian, indusrtri dan perdagangan, hak milik dan kemakmuran, dan sebagainya. Ia juga membahas berbagai tahapan yang dilewati masyarakat dalam perkembangan ekonominya. Kita juga menemukan paham dasar yang menjelma dalam kurva penawaran tenaga kerja yang kemiringannya berjenjang mundur,).”
Sejalan dengan Shiddiqy Boulokia dalam tulisannya Ibn Khaldun: “A Fourteenth Century Economist”, menuturkan :
(Ibnu Khaldun telah menemukan sejumlah besar ide dan pemikiran ekonomi fundamental, beberapa abad sebelum kelahiran ”resminya” (di Eropa). Ia menemukan keutamaan dan kebutuhan suatu pembagian kerja sebelum ditemukan Smith dan prinsip tentang nilai kerja sebelum Ricardo. Ia telah mengolah suatu teori tentang kependudukan sebelum Malthus dan mendesak akan peranan negara di dalam perekonomian sebelum Keynes. Bahkan lebih dari itu, Ibnu Khaldun telah menggunakan konsepsi-konsepsi ini untuk membangun suatu sistem dinamis yang mudah dipahami di mana mekanisme ekonomi telah mengarahkan kegiatan ekonomi kepada fluktuasi jangka panjang…)”
Lafter, penasehat economi president Ronald Reagan, yang menemukan teori Laffter Curve, berterus terang bahwa ia mengambil konsep Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun mengajukan obat resesi ekonomi, yaitu mengecilkan pajak dan meningkatkan pengeluaran (ekspor) pemerintah. Pemerintah adalah pasar terbesar dan ibu dari semua pasar dalam hal besarnya pendapatan dan penerimaannya. Jika pasar pemerintah mengalami penurunan, maka adalah wajar jika pasar yang lainpun akan ikut turun, bahkan dalam agregate yang cukup besar.
S.Colosia berkata dalam bukunya, Constribution A L’Etude D’Ibnu Khaldaun Revue Do Monde Musulman, sebagaimana dikutip Ibrahim Ath-Thahawi, mengatakan:
”Apabila pendapat-pendapat Ibnu Khaldun tentang kehidupan sosial menjadikannya sebagai pionir ilmu filsafat sejarah, maka pemahamannya terhadap peranan kerja, kepemilikan dan upah, menjadikannya sebagai pionir ilmuwan ekonomi modern .(1974, hlm.477)”
Oleh karena besarnya sumbangan Ibnu Khaldun dalam pemikiran ekonomi, maka Boulakia mengatakan:
“Sangat bisa dipertanggung jawabkan jika kita menyebut Ibnu Khaldun sebagai salah seorang Bapak ilmu ekonomi.” Shiddiqi juga menyimpulkan bahwa Ibnu Khaldun secara tepat dapat disebut sebagai ahli ekonomi Islam terbesar (Ibnu Khaldun has rightly been hailed as the greatest economist of Islam) (Shiddiqy, hlm. 260)”
Paparan di atas menunjukkan bahwa tak disangsikan lagi Ibnu Khaldun adalah Bapak ekonomi yang sesungguhnya. Dia bukan hanya Bapak ekonomi Islam, tapi Bapak ekonomi dunia. Dengan demikian, sesungguhnya beliaulah yang lebih layak disebut Bapak ekonomi dibanding Adam Smith yang diklaim Barat sebagai Bapak ekonomi melalui buku The Wealth of Nation. Karena itu sejarah ekonomi perlu diluruskan kembali agar ummat Islam tidak sesat dalam memahami sejarah intelektual ummat Islam. Tulisan ini tidak bisa menguraikan pemikiran Ibnu Khaldun secara detail, karena ruang yang terbatas dan lagi pula pemikirannya terlalu ilmiah dan teknis jika dipaparkan di sini. Teori ekonomi Ibnu Khaldun secara detail lebih cocok jika dimuat dalam journal atau buku.”

Albert Einstein mengatakan :
“Ilmu Pengetahuan tanpa Agama, adalah Pincang, dan Agama tanpa Ilmu Pengetahuan, adalah Buta”.  (Albert Einstein)
Kemudian sudah ditegaskan lagi dalam Al-Quran :
“Dan barang siapa buta (di dunia) ini akan buta (pula) di akhirat dan lebih tersesat (lagi) dari jalan (yang benar).” (Al Israa 17;72)
Tetapi saya agak kesulitan memahami, pada saat saya dihadapkan pada salah satu ayat Alkitab (website Sabda) yang menyatakan:
“"Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil." (Matius 11:25).
Menurut Kaum Nasrani, Bahasa yang digunakan dalam Alkitab mudah dimengerti oleh Bangsa Indonesia. Artinya jika saya menafsirkan (tafsir bebas) berdasarkan pemahaman Bahasa Indonesia saya pada ayat Alkitab diatas secara harafiah atau Syariatnya saja, “Engkau Sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai”, artinya ada hal-hal yang akan ditutupi oleh Injil/Tuhan bagi orang-orang yang berakal (intelektual tinggi). Kemudian pada kalimat “Engkau nyatakan kepada orang kecil”, artinya bahwa ayat-ayat Injil ini hanya akan dipahami oleh “orang-orang kecil” atau untuk orang-orang kecil (intelektual rendah). Pola penafsiran bebas yang sering dilakukan oleh orang-orang yang sedang berdiskusi dalam milist/internet. Semoga saya tidak salah menafsirkannya, jadi kita harus hati-hati jika hendak menafsirkan sesuatu, dengan pendekatan Syariat, Tarekat, Hakekat ataukah Marifat? Ataukah hal ini karena ada kesalahan tulis (wikipedia) :
“Injil Matius yang berbahasa Arami telah lama hilang. Tiga Injil lainnya ditulis dalam bahasa Yunani. Buku-buku dari Kitab Suci juga injil-injilnya tidak tersimpan dengan sempurna dalam keadaan yang sama, dalam mana itu asalnya ditulis. Karena tidak adanya cetak-mencetak buku maka seringkali dilakukan pemindahtulisan berabad-abad lamanya, dan dalam memindahtuliskan itu kadang-kadang terjadi penghapusan kata-kata, penukaran kata-kata atau penulisan terbalik ...“ (Het Evangelie, 1929, Badan Perpustakaan Petrus Canisius)

Dari kutipan diatas, Apakah Injil Matius sekarang yang berada dalam Injil dapat dikatakan sahih atau sempurna sebagai Kitab Suci? Setelah melihat ayat Matius 11;25 dan di dalam Injil Matius sendiri ada kontradiksi antara Matius 11;25 dan Matius 22;36-38:
"Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?", Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.”(Matius 22;36-38)
Jika hal ini ditegaskan oleh Yesus sebagai “Hukum Utama dan Pertama” Taurat, artinya hukum ini berlaku secara mutlak bagi seluruh umat Kristen tanpa membagi menjadi kelompok orang bijak dan orang kecil. Ingat! Kitab suci menuliskannya sebagai “hukum” bukan “teori”. Berbeda antara “hukum” dengan teori” (nanti akan dijelaskan). Atau bandingkan dengan ayat yang saya jadikan kepala dari tulisan ini:
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tesalonika. 5:21)
Matius 11;25 menyatakan bahwa Alkitab hanya untuk orang-orang kecil, bukan untuk orang-orang bijak dan orang pandai. Sedangkan Hukum Taurat yang pertama pada Matius 22;36-38 menyatakan bahwa Hukum pertama Taurat harus menggunakan segenap akal Budi. Jika kita kaitkan antara ayat Matius 11;25 dengan Matius 22;36-38, artinya bahwa orang bijak dan pandai tidak akan pernah bisa memahami Alkitab (karena disembunyikan Tuhan), karena orang bijak dan pandai tidak memiliki segenap akal budi. Apakah ini Logika yang benar?
Tetapi disatu sisi Alkitab juga memerintahkan untuk diuji, supaya menjadi pegangan bagi umat yang mempercayainya. Siapa yang dapat mengujinya? Tentunya dan seharusnya adalah orang-orang bijak dan pandai sebagai panutan. Ataukah karena Umat Kristen takut dengan ayat ini:
tetapi pohon  pengetahuan tentang yang baik  dan yang  jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (Kejadian 2;17)
Sekali lagi ayat yang secara logis saling bertolak belakang. Disatu sisi diminta untuk diuji, disatu sisi jika dipelajari/dipahami (dimakan, dalam bahasa Tuhan) maka orang tersebut akan mati (tidak bermanfaat). Jadi apakah karena kesalahan tulis, atau kesalahan karena ditambahkan oleh tangan-tangan manusia, kontradiksi atau apakah ini benar hukum/Firman Tuhan? Siapakah yang berhak merubah, menambah, mengurangi, merevisi dari sebuah “Firman Tuhan”? Renungkanlah terhadap siapa yang memiliki hak ke”Maha”-an.
Mungkin kalau salah tulis/ketik, seperti ini kasus ayatnya (sabdaweb), dan saya bisa memahami:
“Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak. “(1 Yoh 2;22)
Perhatikan ada kata “dia” tanpa huruf kapital dan kata “Dia” yang dimulai dengan huruf Kapital. Kata penunjuk orang ketiga yang menggunakan huruf depan kapital, biasanya menunjukan arti Tuhan dalam Kitab Suci. Artinya dalam ayat tersebut memberitahukan bahwa “Tuhan adalah Anti Kristus”. Atau ini :
“Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus--padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan.” (1 Kor. 15;15)
Bahwa salah satu doktrin keyakinan umat Kristen bahwa Yesus adalah Tuhan, karena kebangkitannya. Tapi ada satu ayat yang mengatakan bahwa Tuhan (Ia) tidak membangkitkan-Nya. Mungkin ini salah tulis?@#$%.
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung ke-....JILID 2 Hal; 7 - 12