Dalam diskusi dan perdebatan milist tersebut, saya perhatikan orang-orang banyak menggunakan konsep idealis semata, dimana menampilkan banyak ayat-ayat Kitab Suci yang sama sekali tidak berhubungan atau berusaha untuk dihubung-hubungkan, sehingga seolah-olah penjelasannya masuk diakal (jika tidak diterima, tidak beriman). Ada yang hanya menggunakan konsep Materialistis semata, dimana hanya kenyataan yang dilihat oleh indera manusia (Empiris) yang hanya menjadi alat bukti, termasuk artikel media masa (padahal tidak semua hasil media masa dapat dijadikan alat bukti). Malah banyak sekali tulisan yang berasal dari artikel media masa, digunakan sebagai alat pengambilan kesimpulan sebelum diadakannya analisis terlebih dahulu yang sesuai kaidah keilmuan. Ada data-data rekayasa. Metode penulisannya tidak jelas. Ada yang mengedepankan dialektis semata, dimana paradigma pribadi, asumsi, dugaan, persepsi/opini, tafsir pribadi, doktrin/dogma golongan dan analogi/ilustrasi dongeng dianggap sebagai alat bukti yang nyata. Sebuah contoh yang saya dapatkan :
“Ternyata bukan hanya TUHAN YESUS saja yang bisa menjadi JURUSELAMAT. Musapun bisa menjadi juruselamat. Sesuatu hal yang sangat rasional bagi seorang yang berjiwa Kepemimpinan yang penuh tanggung-jawab atas anak buahnya. Dia rela berkorban untuk kepentingan perlindungan anak buahnya. Bukan Pemimpin yang justru bersembunyi mencari selamat dari anak buahnya, macam Muhammad. Hidup mencari kemakmuran dengan dikelilingi oleh istri-istrinya yang sekampung banyaknya. Tiap hari kerjanya happy-happy dengan Aisyah. Anak buahnya dimakankan peperangan dengan Bom bunuh dirinya yang terkenal itu, tapi dirinya sendiri ternyata mati secara biasa-biasa saja. Sudah begitu, karena merasa tidak bisa selamat, dia meminta semua orang mendoakan keselamatan buat diri dan keluarganya. Pikirnya: “Siapa tahu jika didoakan rame-rame dirinya bisa selamat?” - Logika mengangkat lemari yang digunakan. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.” (Rudy –Hakekat Hidup)
Tulisan pertama oknum diatas adalah bagian dari tulisan dengan judul dan tema “Apakah Hari Paskah?. Dan tiba-tiba setelah memasukan ayat dari Kitab Keluaran 12; 2-19, sedikit penjelasan tentang penanggalan baru Yahudi dan cerita roti tak beragi, kemudian disusul ayat dari Kitab Keluaran 32;32, masuklah pada tulisan yang saya kutip diatas. Yang jika saya perhatikan penekanannya pada kata Juru Selamat, bukan tema Paskah. Tetapi kemudian dikaitkan dengan Poligaminya Nabi Muhammad SAW, metode pembuktian dan penulisan ilmiah apakah ini? Ataukah ini yang namanya penulisan Rohani? Ataukah ini yang dimaksud dengan, Logika Kekristenan = Keimanan Kristen?
Dari sisi tulisan, oknum ini tidak mengedepankan analisis ilmiah. Menuliskan kata “logika dan rasional”, tetapi seringkali tulisannya tidak mengandung logika dan rasionalitas. Misalnya dalam tulisan diatas Tuhan Yesus = Juru selamat = Musa. Apakah Musa dapat dikatakan sebagai Tuhan Musa? Nanti kita lihat siapa yang tulisannya lebih logis dan rasional rasional? Tulisan Oknum tersebut atau tulisan Gilamologi? Apakah karena ada tulisan Tuhan Yesus, maka Yesus menjadi Tuhan? Lihatlah perbandingannya dengan apa yang dikatakan dalam Alquran.
Apakah dengan tulisan pada ayat Alquran yang menuliskan Tuhan Musa dan Harun, maka umat Islam dapat menafsirkan Musa dan Harun sebagai Tuhan? Tidak, ayat itu menegaskan bahwa Allah SWT sebagai pencipta alam semesta adalah Tuhannya Musa dan Harun.
Tulisan oknum diatas mencoba mengalihkan ketidakmampuanya dan kelemahan referensinya dan Kitab Sucinya dengan cara menuliskan seperti diatas. Oknum ini menyatakan bahwa dengan kerusakan Alkitabnya sebesar 82%, mampu untuk melawan siapapun dengan logika kristennya yang terbentengi dengan baik. Tapi pada saat dia terdesak oleh tulisan logis dan rasional, dia keluarkan senjata jawab pamungkasnya dengan tulisan kapital diatas. Semua tulisan oknum ini hanya berisi doktrin/dogma, berasumsi, analogi, metafora, character assasination, fitnah, plin-plan, kedangkalan berpikir, provokasi, hiperbolis dan banyak lagi kesesatan berpikir. Menuliskan banyak ayat-ayat, tetapi tidak berhubungan dengan topik, untuk menimbulkan kesan seolah-olah kedalaman religius si oknum tersebut. Menjawab pertanyaan yang sering kali ngawur dan keluar dari topik yang didiskusikan. Memaksakan diri menjawab semua pertanyaan seolah-olah mampu dan paing benar. Menggunakan statusnya sebagai Pendeta, seolah-olah bahwa dengan status ahli agama/ahli kitab akan selalu berkata “benar”.
Apakah Kebenaran dapat didustakan? Apakah ajaran kebaikan bagi manusia disampaikan dengan Kedustaan? Apakah oknum ini benar-benar seorang ahli Alkitab? Yang mengejutkan saya adalah oknum ini berani menyatakan bahwa ayat Alkitab dari salah satu saksi (Matius) adalah salah dan ayat lain pada cerita yang sama adalah benar, pada saat terjadi kontradiksi ayat pada Alkitab. Apakah oknum ini paham tentang prinsip Falsifabilitas? Apakah oknum ini punya hak untuk menyalahkan Alkitab? Mari kita lihat nanti:
Apakah seperti ini tulisan agama/filsafat masa kini yang hendak berdiskusi atau mencari pemahaman tentang masing-masing agama? Atau ada motif dibalik ini semua? Mari kita ukur dari apa yang dia ukur. Dan apa yang dilakukan oleh oknum ini adalah dengan menspamer kepada banyak sekali milist tanpa mengindahkan etika berinternet, dengan mengatasnamakan “Hidup di Jalan Tuhan”. Tapi disisi lain oknum tersebut (Bung Hakekat) mendeklarasikan dirinya juga sebagai “Pendusta” (mengadopsi Roma 3;7), dengan alasan katanya bahwa “walaupun hanya dengan keakuratan 18% AlKitabnya, tapi dia bisa membuat keok semua orang”. Bagaimana orang mau beli mobil yang kesalahan rakitnya atau manual booknya mengalami kesalahan 82%? Yang pantas adalah Departemen Perhubungan mengeluarkan surat TIDAK LAIK jalan bagi kendaraan yang mengalami kerusakan 82%, karena membahayakan dirinya dan masyarakat.
Dan ada juga tulisan dalam milist-milist itu yang mengedepankan hal Logis semata, padahal mengalami juga Kesesatan Logika. Kaidah dasarnya belum dikuasai, bahkan tidak jelas. Sedikit sekali yang menggabungkan konsep-konsep diatas menjadi sesuai dengan kaidah-kaidah filsafat atau tidak sepotong-sepotong. Malah ada yang mencoba untuk saling menabrakan atau bertabrakan antara keempat kaidah tadi. Kerumitan ini ditambah lagi dengan bagaimana membuktikan alat bukti sebagai alat bukti yang sah. Akhirnya terjadi perdebatan kusir yang dipenuhi oleh suasana emosi dan tidak beretika dalam standar diskusi ilmiah. Diperparah lagi dengan caci maki dan bahasa kotor yang sangat tidak etis.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar