ARTIKEL GILAMOLOGI

Assalamulaikum Wr.Wb… اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

BERAT/MASSA MATERI (ZAT/SEL) ALAM SEMESTA SELALU SAMA?

(Gilamologi Sebuah Kajian Alternatif Filsafat Bebas)

By: Filsuf Gila

Bismillahhirohmanirohim… بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya,”

(Al Hajr 22;8)

"Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?"

(Al Anbiyaa 21;10)

“Ini lah (Qur’an) pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang sungguh-sungguh meyakininya."

(Al-Jathiya 45: 20)

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”

(Injil 1 Tesalonika. 5:21)

“Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu laku-kan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.” (Ulangan 12:32)

ISLAM AJARAN TAUHID

ISLAM AJARAN TAUHID
"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (Al Ikhlas 112;1-4)

Jumat, 18 Maret 2011

Perdebatan Ada Dan Tiada - Pendekatan Matematis 1 (JILID 19 Hal 128-135)

Perdebatan Ada Dan Tiada (Pendekatan Matematis 1)

Nah, yang pertama adalah pendekatan matematika, dimana di dalam teori matematika ada Teori Takterhingga. Teori Takterhingga itu sendiri ada 2 jenis yaitu “Takterhingga Takterhitung” dan “Takterhingga Terhitung”. Nah yang dimaksud dengan Takterhingga Takterhitung adalah seperti sebuah pertanyaan matematis sederhana yang saya ajukan yaitu berapakah hasil angka 2 dibagi dengan angka 3? Atau secara matematis yaitu 2 : 3 = 0,66666666666666666…
Disini saya hendak bertanya pada anda, seberapa jauh anda dapat menuliskan angka desimalnya (angka 6 dibelakang koma)? Saya yakin sampai anda meninggalpun (umur manusia terbatas) tidak akan selesai menuliskannya. Jadi apa yang kita dapat kesimpulan dari hal perhitungan matematis yang Nyata tersebut?
Metode perhitungan matematis standar yang sudah disepakati kaum rasionalis (Ilmuwan) dan manusia adalah model penambahan, pengurangan, pengalian dan pembagian. Kita lihat bahwa angka 2 dan angka 3 itu angka rasional (menurut kaum rasionalis), tapi pada saat kita bagi (metode yang sudah disepakati) angka 2 tersebut dengan angka 3, maka timbulah hasil angka yang disepakati sebagai angka Takterhingga takterhitung. Didalam bahasa matematika, penyebutan kata “Takterhingga” (definisi) tersebut adalah untuk menyampaikan sesuatu yang tanpa batas dan abstrak (Tidak nyata). Berarti angka desimal takterhingga takterhitung tersebut tidak akan pernah NYATA selama tidak dijadikan menjadi takterhingga terhitung, agar dapat dimengerti manusia dan dilanjutkan perhitungan matematisnya. Dalam kalimat bahasa, saya ingin mengatakan hasil metode perhitungan matematis pembagian tersebut bahwa, Di dalam KENYATAAN dapat menghasilkan KETIDAKNYATAAN.
Kalau kita beri contoh lagi angka desimal takterhingga takterhitung adalah misalnya, apakah 0,99999… jika ditambahkan 0,0…1 (nol koma nol, nol, nol dst takterhingga yang diakhiri angka 1), apakah akan sama dengan 1? Atau kalau kita rumuskan matematisnya menjadi 0,99999…+ 0,0…1 = 1? Tentu saja TIDAK. Apakah hal ini dapat kita jawab dengan menggunakan Dialektika semata? Dimana kita dapat mengatakan bahwa KEKEKALAN dan KEABADIAN yang NYATA di dunia adalah PERUBAHAN. Dengan dialektika tersebut menyatakan bahwa secara Logika kita akan menutup diri kita dari KETIDAKNYATAAN. Padahal dialektika PERUBAHAN itu sendiri dapat diartikan sebuah proses dari KETIDAKNYATAAN menjadi KENYATAAN, atau sebaliknya.
Dialektika sering digunakan sebagai alat propapaganda dan sering kali mengalami Kesesatan Logika. Ataukah kita hanya menjawab sesuatu dengan Materialisme semata? Dimana kita tidak sadar bahwa Materi atau Kenyataan itu sendiri lahir dari Materi itu sendiri atau dengan KESEPAKATAN MANUSIA, bahkan ilusi optik. Ataukah hanya ingin mengandalkan Logika semata yang seringkali kita mengalami Distorsi Logika, kesalahan premis, kehilangan rumusan logika dan kesesatan logika juga. Atau mengandalkan Dialektika Historis tanpa buki empiris, dimana kemungkinan data historisnya juga belum diuji dan mungkin mengalami rekayasa sebelumnya atau masa sesudahnya, demi kepentingan tertentu.
Mengapa hal ini tidak dijawab dengan integrasi semua elemen-elemen Filsafat? Misalnya dengan Madilog (Tan Malaka) yang mengintegrasikan Materialisme, Dialektika dan Logika, serta ditambah dengan bukti historis yang teruji. Sebuah ilmu yang dikembangkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Dimana Madilog berusaha meminimalkan distorsi dan kesesatan logika itu sendiri. Dimana masing-masing unsur diuji terlebih dahulu. Materialnya diuji KENYATAANNYA ataukah hasil KESEPAKATAN sehingga menjadi Nyata dan diungkapan dengan dialektika logika yang tepat, tidak semata dengan dialektika historis. Saya membaca buku-buku ideologi, tetapi tidak selalu setuju dengan ideologinya, saya hanya mengambil ilmu pengetahuannya.
Kembali ke perhitungan diatas, jadi selama desimal tak terhingga dari 0,66666… dan  0,999… tersebut diatas TIDAK DISEPAKATI atau dibuat TERHITUNG menjadi berapa desimal dibelakang koma, maka tidak akan pernah selesai perhitungannya, bukan? Misalnya kita SEPAKATI bahwa kita akan membatasi semua variabelnya menjadi 3 angka dibelakang koma, maka hasil perhitungan matematisnya akan menjadi 0,999 + 0,001 = 1.
Jadi kalau kita uraikan perhitungan/bahasa matematis kedalam bahasa kalimat akan menjadi kesimpulan bahwa  DI DALAM YANG NYATA DAPAT MENGHASILKAN KETIDAKNYATAAN. Atau dapat dikatakan pula bahwa jika KETIDAKNYATAAN tersebut TIDAK DISEPAKATI untuk menjadi KENYATAAN, maka itu akan tetap menjadi KETIDAKNYATAAN. Tetapi pada saat kita SEPAKATI bahwa KETIDAKNYATAAN ini kita SEPAKATI sebagai suatu KENYATAAN, maka itu akan menjadi KENYATAAN.
Sampai titik sini saja, saya dapat mengatakan bahwa Tuhan sebagai Zat yang tidak NYATA, jika kita sepakati untuk menjadi TIDAK NYATA seperti perhitungan matematis diatas, maka akan tetap menjadi KETIDAKNYATAAN. Tetapi jika ada tanda-tanda yang dapat menyatakan bahwa ada tanda-tanda KENYATAAN dalam KETIDAKNYATAAN, Mengapa hal ini tidak kita sepakati untuk menjadi KENYATAAN?
AlQuran kembali memberikan tanda-tanda :
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (pena), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).” (Al alaq 96;1-8)
Apa yang bisa dilakukan oleh manusia yang memiliki keterbatasan? Yah kita akan mendekati Takterhingga takterhitung tersebut dengan sebuah metode PENDEKATAN. Metode Pendekatan yang bertujuan untuk EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI kehidupan dan keterbatasan manusia itu sendiri. Karena selama pendekatan itu tidak dilakukan, maka efiensi dan efektifitas manusia tersebut tidak akan terpenuhi. Pendekatan itu tentunya akan disesuaikan dengan KEBUTUHAN, PILIHAN, PRIORITAS,  RUANG dan WAKTU, serta KESEPAKATAN manusia itu sendiri. Pada saat kesepakatan itu disepakati, maka takterhingga takterhitung (Ketidaknyataan) tersebut dapat dinyatakan menjadi takterhingga terhitung (Kenyataan). 
Sekarang bagaimana dengan pertanyaan saya yang kedua yaitu, bagaimana jika angka 2 tadi kita kurangi dengan angka 3,  atau 2 - 3 = (-) 1. Nah pertanyaannya adalah, apa yang dimaksud NEGATIF 1?  Mengapa hasilnya tidak dibuat bahwa 2 – 3 = 0, karena angka 2 sudah habis terlebih dahulu?  Bagaimana jika pertanyaan ini diajukan pada jaman Romawi Kuno yang tidak mengenal angka Nol (0)? Apakah yang dimaksud negatif (-)1 = 1? Tentu saja saja TIDAK kan? NEGATIF itu sendiri menunjukan atau alat bantu pendekatan angka 1 setelah tanda negatif yang TIDAK NYATA TERSEBUT, yang berusaha untuk di-NYATAKAN, agar perhitungannya menjadi NYATA secara matematis dan dapat dimengerti, serta dilanjutkan perhitungannya.  Jadi simbol Negatif tersebut adalah mewakili KETIDAKNYATAAN atau simbol untuk MERASIONALITASKAN KETIDAKNYATAAN. Artinya angka -1 dalam perhitungan matematis tersebut adalah KETIDAKNYATAAN DALAM KENYATAAN sesuai kesepakatan agar terlihat dan dapat terhitung secara matematis., atau sebaliknya. Karena angka yang diawali simbol negatif selalu LEBIH KECIL daripada NOL (0) dalam perhitungan matematis. Padahal angka Nol (0) sendiri sudah mewakili KETIDAKNYATAAN. Darimana angka nol ini muncul, adalah hasil penemuan bangsa Arab pasca Islam.
Kemudian sekarang bagaimana kalau saya memberikan perhitungan matematis dengan perhitungan: (-) 1 x (-) 1 = +1. Pertanyaan saya sekarang adalah, Mengapa negatif 1 dikalikan negatif 1 = positif 1 ? Atau dalam kalimat bahasanya adalah, Mengapa KETIDAKNYATAAN dikalikan KETIDAKNYATAAN bisa menghasilkan KENYATAAN? Masalah ini sebenarnya adalah sudah menjawab pertanyaan dari kaum Filsafat Materialistis sendiri tentang pertanyaan, Mana mungkin KETIDAKNYATAAN dapat menghasilkan KENYATAAN? Dan mereka sebenarnya sudah menjawab dengan ilmu pengetahuan rasional dan empirisnya mereka sendiri bukan? Dan jika mereka tidak percaya dengan hal ini, mengapa asumsi MERASIONALITASKAN KETIDAKNYATAAN masih mereka pakai?
Dari sini saja saya sekarang sudah dapat merancang sebuah Hipotesis bahwa, MERASIONALITASKAN KETIDAKNYATAAN menjadi KENYATAAN adalah hasil KESEPAKATAN dan PENDEKATAN MANUSIA, dimana KETIDAKNYATAAN tersebut harus menunjukan tanda-tanda yang dimengerti dan dipahami oleh manusia secara empiris.
Nah yang terakhir adalah, bagaimana jika saya katakan bahwa 2 + 3 = 5 adalah sebuah kepastian yang empiris dan rasional secara ilmu pengetahuan (matematis)? Para Filsafat Materialistis akan setuju dengan saya, bahwa itu adalah ilmu Pasti (matematika) dan sangat Rasional. Tetapi pada saat saya ajukan bahwa apakah 2 Ayam + 3 Telur = 5 Ayam? Atau hasilnya 5 Telur? Atau hasilnya  kita katakan sebagai 5 Ayam dan Telur? Ataukah anda mau menjawab lagi bahwa hasilnya adalah 2 Ayam dan 3 telur? Ataukah anda punya jawaban lain?
Kalau kita bedah dengan aljabar, dimana a dan  b adalah variabel zat berbeda, maka rumusan aljabarnya adalah : a + b = b + a, a + b tidak sama dengan ab (a+b#ab). Variabel a dan b adalah variabel zat. Jadi kalau kita masukan misal variabel a = ayam dan b = telur, dan jumlah ayam = 2 dan telur = 3, maka berdasarkan aljabar akan didapatkan perhitungan: 2 ayam + 3 telur = 3 telur + 2 ayam. Jika kita ingin mendapatkan hasil dari variabel yang sama, maka kita harus SEPAKATI dulu bahwa ASUMSI variabel adalah sama jenisnya, artinya variabel a dan b = ayam atau a = b = ayam atau a dan b = telur atau a = b = telur , maka 2a + 3b = 2 ayam + 3 ayam = 5 ayam atau maka 2a + 3b = 2 telur + 3 telur = 5 telur.
Dari gambaran diatas saja, saya bisa menggambarkan kelemahan dari Filsafat Materialistis yang mengagung-agungkan kenyataan. Mereka lupa bahwa angka adalah angka. Variabel disamping angka selalu di Asumsikan. Angka adalah HASIL KESEPAKATAN MANUSIA dari KETIDAKNYATAAN untuk didekati menjadi KENYATAAN. Kemudian Angka tidak dapat secara serta merta direkatkan dengan variabel zat  (KENYATAAN) pada perhitungan matematis yang menurut mereka adalah pasti dan rasional. Karena Angka secara Filsafat adalah KETIDAKNYATAAN yang disepakati untuk jadi UKURAN KENYATAAN. Oleh sebab itulah maka pada saat hendak direkatkan dengan zat yang nyata, maka harus disepakati dan diasumsikan terlebih dahulu variabelnya. Misalnya: asumsi variabelnya a dan b adalah manusia. Maka 2 manusia + 3 manusia = 5 manusia. Masuk diakal kan? Darimana Matematika Aljabar ini ditemukan? Dari Pemikir bangsa Arab Pasca Islam.
Apakah benar bahwa matematika adalah sebuah ketidaknyataan tapi terasa nyata? Mari kita lihat apa yang disampaikan oleh ilmuwan Matematika (wikipedia) :
“Beberapa orang pemikir memandang matematikawan sebagai ilmuwan, dengan anggapan bahwa pembuktian-pembuktian matematis setara dengan percobaan. Sebagian yang lainnya tidak menganggap matematika sebagai ilmu, sebab tidak memerlukan uji-uji eksperimental pada teori dan hipotesisnya. Namun, dibalik kedua anggapan itu, kenyataan pentingnya matematika sebagai alat yang sangat berguna untuk menggambarkan/menjelaskan alam semesta telah menjadi isu utama bagi filsafat matematika. Filsafat matematika adalah cabang dari filsafat yang mengkaji anggapan-anggapan filsafat, dasar-dasar, dan dampak-dampak matematika. Tujuan dari filsafat matematika adalah untuk memberikan rekaman sifat dan metodologi matematika dan untuk memahami kedudukan matematika di dalam kehidupan manusia. Sifat logis dan terstruktur dari matematika itu sendiri membuat pengkajian ini meluas dan unik di antara mitra-mitra bahasan filsafat lainnya.
Richard Feynman berkata, "Matematika itu tidak nyata, tapi terasa nyata. Di manakah tempatnya berada?", sedangkan Bertrand Russell sangat senang mendefinisikan matematika sebagai "subjek yang kita tidak pernah tahu apa yang sedang kita bicarakan, dan kita tidak tahu pula kebenarannya."

Apakah dengan pemikiran Filsafat saya dapat mempertanyakan Matematika ini, Apakah sebagai sebuah metodologi Logis (Rasio) atau sebagai metodologi Empiris (Materialis)? Pertanyaan manusia yang tidak pernah akan ada habisnya. Allah sudah memberikan tanda-tanda ini dalam ayat Al-Quran :
“Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat/tempat) bagi perjalanannya, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui” (Yunus 10;5)
Dari ayat diatas dijelaskan bahwa Kitab Suci AlQuran memberikan tanda-tanda kepada manusia, bahwa manusia dengan kemampuannya dapat membuat bilangan-bilangan dan perhitungannya (Matematika).
Kemudian ditegaskan lagi kepada manusia tentang ilmu bilangan :
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.” (Al Fajr 89; 1-5)
Alquran sudah memberikan informasi pengetahuan pada manusia, bahwa ada Hukum bilangan genap dan bilangan ganjil.
Perhitungan matematis yang paling rasional-pun memiliki keterbatasan variabel. Para pengikut dan pendukung Filsafat Materialistis lupa bahwa dalam MERASIONALKAN DAN MENYATAKAN sesuatu dengan ilmu pengetahuan, mereka juga selalu harus menggunakan variabel dengan kaidah-kaidah PENDEKATAN, PENGABAIAN, ASUMSI  dan lain sebagainya dengan tujuan efektifitas dan efisiensi perhitungan agar menjadi logis dan terbukti secara empiris. Kaidah-kaidah ini mereka pakai untuk mengeliminir dan distorsi terbatasnya Logika dan Indra manusia. Filsuf Materialistis selalu terjebak dalam pertanyaan, berapakah variabel yang anda pakai untuk menjelaskan hal itu? Bagaimana me-NYATA-kan hal itu? Pada suatu sisi mereka meminta pembuktian Ketidaknyataan yang takterhingga, tetapi disisi lain mereka dibatasi, membatasi atau terbatasi oleh variabel pembuktiannya sendiri seolah-olah menjadi terhingga terhitung (Kenyataan).
Oleh sebab itulah maka manusia perlu belajar dan sekolah terus sampai jenjang tertinggi dengan tujuan utamanya adalah untuk MEMPERLUAS, MEMPERBANYAK dan MEMPERDALAM VARIABEL. Akibat pendidikanlah maka akal budi manusia berkembang seperti sekarang ini. Karena semakin tinggi ilmu seseorang biasanya semakin spesifik bidangnya, tetapi semakin luas variabelnya dalam memandang suatu permasalahan dan membuat banyak hal-hal ketidaknyataan menjadi kenyataan. Tetapi dalam keilmuan juga tidak mengenal KAIDAH KACAMATA KUDA. Kaidah Kacamata Kuda adalah kaidah-kaidah yang didasarkan atas Doktrin, Dogma atau propaganda golongan tertentu, seperti teori kaum Rasionalis. Atau memasukan logika/filsafat Ketuhanan (ayat-ayat Kitab Suci yang belum teruji Kebenaran Mutlaknya) sebanyak mungkin sehingga SEOLAH-OLAH tulisan tersebut menjadi ilmiah atau mengandung kebenaran.  Bagaimanapun juga dalam memahami ilmu pengetahuan harus dapat MENDEKATI tingkat kepastian, rasional, logis dan sistimatis dengan pendekatan kaidah-kaidah keilmuan (metode) yang tepat.
Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”(An Najm 53;30)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung Ke...JILID 20 Hal : 135-142

Rabu, 16 Maret 2011

Perdebatan Ada Dan Tiada - Pendekatan Matematis dan Eksperimen (JILID 18 Hal 121-128)

Perdebatan Ada Dan Tiada (Pendekatan Matematis dan Eksperimen)

Dari penjelasan sebelumnya saya mencoba membatasi penelitian Filsafat itu sendiri dari permasalahan METODE BERPIKIR atau LOGIKAnya saja. Walaupun pada akhirnya saya harus sedikit keluar untuk memperdalam logikanya itu sendiri, saya juga harus menyinggung masalah estetika, metafisika, dialektika, historis dan materialistis, tapi tetap mengikuti kaidah epistemologinya.
Seperti yang sudah dijelaskan diatas,  perdebatan manusia ditemukan 2 pendekatan besar yang berbeda dalam Filsafat Manusia yaitu pendekatan “IDEALIS” = PIKIRAN/ABSTRAK/MISTIS/GAIB, yaitu Filsafat Manusia yang masih dipengaruhi oleh Filsafat Ketuhanan (logika Ketuhanan), dan pendekatan “MATERIALISTIS” = KEBENDAAN/NYATA, yaitu Filsafat Manusia yang murni menggunakan logika dan indra manusia. 
“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur'an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (An Nahl 16;64)
Filsafat Manusia sendiri dalam sudut pandang kaum Muslim dibedakan tingkatannya sebagai Syariat, Tarekat, Hakekat/Hakikat dan Marifat (nanti akan dijelaskan dalam subbab tersendiri). Seperti yang dijelaskan dalam wikipedia :
“Syari'at dalam perspektif faham tasawuf ada yang menggambarkannya dalam bagan Empat Tingkatan Spiritual Umum dalam Islam, syariat, tariqah atau tarekat,  hakikat. Tingkatan keempat, ma'rifat, yang 'tak terlihat', sebenarnya adalah inti dari wilayah hakikat, sebagai esensi dari kempat tingkatan spiritual tersebut.
Sebuah tingkatan menjadi fondasi bagi tingkatan selanjutnya, maka mustahil mencapai tingkatan berikutnya dengan meninggalkan tingkatan sebelumnya. Sebagai contoh, jika seseorang telah mulai masuk ke tingkatan (kedalaman beragama) tarekat, hal ini tidak berarti bahwa ia bisa meninggalkan syari'at. Yang mulai memahami hakikat, maka ia tetap melaksanakan hukum-hukum maupun ketentuan syariat dan tarekat.”

Tingkatan Syariat lebih menekankan pada perintah, pahala dan ancaman Kitab Suci. Tingkatan Tarekat pada pemikiran teknis pelaksanaan (tata cara) manusia untuk mencapai kesempurnaan dalam menjalankan kehidupan manusianya dengan acuan Logika Ketuhanan. Pada tingkatan Syariat dan Tarekat inilah kaum Muslim yang beraliran Filsafat Materialis bercokol. Apa yang terlihat, tertulis dan apa yang dikatakan pemimpinnya itulah yang akan mereka lakukan.
Tingkatan Hakekat lebih menitikberatkan pada hukum-hukum pemahaman syariat logika Ketuhanan. Sedangkan Marifat sendiri adalah tingkatan tertinggi dalam filsafat Idealis Islam yang menitikberatkan pada pendalaman Akidah/ajaran Tauhid manusia dan Nilai tambah dari Logika Ketuhanan itu sendiri.  Tingkatan Marifat sudah lebih dekat pada Filsafat Ketuhanan. Artinya dalam memperdalam agama (menambah Keimanan dan Ketaqwaan), khususnya Islam, tidak dapat hanya sekedar diperbincangkan masalah dosa atau tidak berdosa, surga dan neraka, pahala dan tidak dapat pahala dan seterusnya. Hal itu dibahas dalam tingkatan syariat/khilafiyah dan tarekat semata. Tetapi Islam dengan Kitab Suci AlQurannya dapat ditelaah dan menelaah lebih jauh tentang kehidupan manusia, baik dari sisi Hakikat maupun Marifatnya. Dari sisi Ilmu Pengetahuan manusia, AlQuran adalah sumber ilmu pengetahuan dan sumber dari ilmu Filsafat Islam. Dari ilmu Filsafat Islam inilah banyak melahirkan landasan ilmu pengetahuan modern seperti aljabar, astronomi, ilmu kesehatan/kedokteran dan lain sebagainya.
Perbedaan dan penggolongan pendekatan filsafat manusia antara Idealis dan Materialistis ini muncul disebabkan pertanyaan dan perdebatan, Apakah sebuah benda muncul karena adanya “PIKIRAN/ROH” akan diciptakan benda tersebut, ataukah sebuah “PIKIRAN/ROH” timbul disebabkan karena adanya kenyataan benda itu sendiri sebelumnya? Pertanyaan atau perdebatan yang sangat kritis, logis dan rasional sekaligus menunjukan kesombongan manusia akan akal budinya. Akal budi yang seharusnya menuntun pada kebijaksanaan dan keimanan, bukan pada eksistensi  dan arogansi ke-Manusiannya semata dengan meniadakan Penciptanya dan menyetarakanNya.
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?".(Al-I Imran 3;79-80)
Pada masa perkembangan awal filsafat, para ahli Filsasat mempertanyakan hal diatas dengan pemahaman Ideal = Roh = Jiwa dan Material = Benda = Zat/Sel. Sehingga pertanyaan itu berkembang menjadi, apakah Roh yang membuat benda itu ada atau benda yang mengakibatkan Roh itu ada?
Permulaan perdebatan ini dalam sejarah tertulis sejak mazhab Miletos pada abad ke 6 SM. Pelopornya adalah Thales dan murid-muridnya Anaximandros dan Anaximenes. Didalam wikipedia:
“Thales menyatakan bahwa air adalah prinsip dasar (dalam bahasa Yunani arche) segala sesuatu. Air menjadi pangkal, pokok, dan dasar dari segala-galanya yang ada di alam semesta. Berkat kekuatan dan daya kreatifnya sendiri, tanpa ada sebab-sebab di luar dirinya, air mampu tampil dalam segala bentuk, bersifat mantap, dan tak terbinasakan. Argumentasi Thales terhadap pandangan tersebut adalah bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup. Selain itu, air adalah zat yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair, dan gas) tanpa menjadi berkurang.
Selain itu, ia juga mengemukakan pandangan bahwa bumi terletak di atas air. Bumi dipandang sebagai bahan yang satu kali keluar dari laut dan kemudian terapung-apung di atasnya.
Thales berpendapat bahwa segala sesuatu di jagat raya memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam benda hidup tetapi juga benda mati. Teori tentang materi yang berjiwa ini disebut hylezoisme. Argumentasi Thales didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena mampu menggerakkan besi.”

Pendapat Thales dibantah oleh muridnya sendiri Anaximandros dengan Teori Apeiron (sudah dijelaskan sebelumnya diatas). Anaximandros mendapat dukungan dari murid Thales lainnya yaitu Anaximenes (545-526 SM). Walaupun dukungan itu tidak seratus persen, seperti yang saya kutip dari wikipedia :
"Salah satu kesulitan untuk menerima filsafat Anaximandros tentang to apeiron yang metafisik adalah bagaimana menjelaskan hubungan saling mempengaruhi antara yang metafisik dengan yang fisik. Karena itulah, Anaximenes tidak lagi melihat sesuatu yang metafisik sebagai prinsip dasar segala sesuatu, melainkan kembali pada zat yang bersifat fisik yakni udara.
Tidak seperti air yang tidak terdapat di api (pemikiran Thales), udara merupakan zat yang terdapat di dalam semua hal, baik air, api, manusia, maupun segala sesuatu. Karena itu, Anaximenes berpendapat bahwa udara adalah prinsip dasar segala sesuatu. Udara adalah zat yang menyebabkan seluruh benda muncul, telah muncul, atau akan muncul sebagai bentuk lain. Perubahan-perubahan tersebut berproses dengan prinsip "pemadatan dan pengenceran" (condensation and rarefaction. Bila udara bertambah kepadatannya maka muncullah berturut-turut angin, air, tanah, dan kemudian batu Sebaliknya, bila udara mengalami pengenceran, maka yang timbul adalah api. Proses pemadatan dan pengenceran tersebut meliputi seluruh kejadian alam, sebagaimana air dapat berubah menjadi es dan uap, dan bagaimana seluruh substansi lain dibentuk dari kombinasi perubahan udara.
Pembentukan alam semesta menurut Anaximenes adalah dari proses pemadatan dan pengenceran udara yang membentuk air, tanah, batu, dan sebagainya Bumi, menurut Anaximenes, berbentuk datar, luas, dan tipis, hampir seperti sebuah meja. Bumi dikatakan melayang di udara sebagaimana daun melayang di udara. Benda-benda langit seperti bulan, bintang, dan matahari juga melayang di udara dan mengelilingi bumi. Benda-benda langit tersebut merupakan api yang berada di langit, yang muncul karena pernapasan basah dari bumi. Bintang-bintang tidak memproduksi panas karena jaraknya yang jauh dari bumi. Ketika bintang, bulan, dan matahari tidak terlihat pada waktu malam, itu disebabkan mereka tersembunyi di belakang bagian-bagian tinggi dari bumi ketika mereka mengitari bumi. Kemudian awan-awan, hujan, salju, dan fenomena alam lainnya terjadi karena pemadatan udara.
Jiwa manusia dipandang sebagai kumpulan udara saja. Buktinya, manusia perlu bernafas untuk mempertahankan hidupnya. Jiwa adalah yang mengontrol tubuh dan menjaga segala sesuatu pada tubuh manusia bergerak sesuai dengan yang seharusnya. Karena itu, untuk menjaga kelangsungan jiwa dan tubuh. Di sini, Anaximenes mengemukakan persamaan antara tubuh manusiawi dengan jagat raya berdasarkan kesatuan prinsip dasar yang sama, yakni udara. Tema tubuh sebagai mikrokosmos (jagat raya kecil) yang mencerminkan jagat raya sebagai makrokosmos adalah tema yang akan sering dibicarakan di dalam Filsafat Yunani. Akan tetapi, Anaximenes belum menggunakan istilah-istilah tersebut di dalam pemikiran filsafatnya."

Perdebatan ini terus menghangat sampai munculnya Mazhab Elea yang dipelopori oleh Xenophanes (570-480 SM). Xenophanes adalah guru dari Parmenides. Dalam Wikipedia Xenophanes menjelaskan :
“Xenophanes menyatakan bahwa manusia tidak dapat mendapatkan pengetahuan yang mutlak. Akan tetapi, di saat yang sama, manusia harus mencari pengetahuan tersebut walaupun hanya berupa suatu kemungkinan. Hal itu ditunjukkannya melalui dua fragmen berikut:
"Dewa-dewi tidak menyatakan segala sesuatu kepada manusia sejak awalnya, tetapi setelah waktu berlalu, manusia menemukan banyak hal dengan cara mencarinya sendiri."(fragmen 18)
"Tidak ada manusia yang pernah melihat ataupun mengetahui kebenaran tentang dewa-dewi serta semua hal yang kukatakan. Karena jika ada orang yang berkata mengetahui semuanya, maka sebenarnya ia tidaklah tahu, melainkan hanya mempercayai tentang segala sesuatu."(fragmen 34)
Fragmen 18 menunjukkan kemungkinan mencari pengetahuan melalui penelitian. Sedangkan fragmen 34 menolak kemungkinan manusia mendapatkan pengetahuan yang mutlak, setidaknya untuk hal-hal yang menurut Xenophanes sulit. Oleh karena itu, perlu dibedakan antara kebenaran, pengetahuan, dan kepercayaan.
Xenophanes menentang cara pandang orang Yunani pada waktu itu terhadap dewa-dewi. Ia memberikan kritik terutama kepada Herodotos dan Hesiodos yang memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat Yunani. Menurut kedua penyair itu, dewa-dewi melakukan pelbagai perbuatan yang memalukan, seperti pencurian, zinah, dan penipuan satu sama lain. Di sini, Xenophanes membantah antropomorfisme dewa-dewi, maksudnya penggambaran dewa-dewi dalam rupa manusia. Menurut Xenophanes, manusia selalu menaruh sifat-sifat manusia kepada dewa-dewi sesuai kehendak mereka. Misalnya saja, dewa-dewi dilahirkan sebab manusia juga dilahirkan, dan bahwa dewa-dewi memakai pakaian, suara, dan rupa seperti manusia. Xenophanes memberikan argumentasi sesuai bukti yang ia temukan:
"Seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia, tentunya kuda akan menggambarkan dewa-dewi menyerupai kuda, sapi akan menggambarkan dewa-dewi menyerupai sapi, dan dengan demikian mereka akan menggambarkan tubuh dewa-dewi serupa dengan tubuh mereka." "Orang Etiopia mempunyai dewa-dewi yang berkulit hitam dan berhidung pesek, sedangkan orang-orang Thrake mengatakan bahwa dewa-dewi mereka bermata biru dan berambut merah."
Xenophanes dapat menyimpulkan bahwa antropomorfisme terhadap dewa-dewi tidaklah tepat sebab ia telah melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan melihat pelbagai kepercayaan mereka. Karena itu, ia menjadi yakin bahwa semua itu bukanlah konsep dewa-dewi yang tepat. Ia menyatakan bahwa sebenarnya hanya ada "Satu yang meliputi Semua". Maksudnya di sini serupa dengan konsep "Tuhan" namun tidak sama dengan monoteisme sebab ia juga menyebutnya dalam bentuk jamak.
Menurut Xenophanes, "yang Satu meliputi Semua" ini tidak dilahirkan dan tidak memiliki akhir, artinya bersifat kekal. Hal ini berbeda dengan konsep dewa-dewi yang dilahirkan dan dapat mati. Ia tidak menyerupai makhluk duniawi mana pun, baik manusia ataupun binatang. Ia juga tidak memiliki organ seperti manusia, namun mampu melihat, berpikir, dan mendengar. Ia juga senantiasa menetap di tempat yang sama namun menguasai segala sesuatu dengan pikirannya saja.
Xenophanes berpendapat bahwa matahari berjalan terus dengan gerak lurus, dan setiap pagi terbitlah matahari baru. Gerhana disebabkan matahari jatuh ke dalam lubang. Ia juga memandang bintang-bintang sebagai awan-awan yang berapi sehingga bersinar ketika malam. Sinar itu seperti batu bara yang memerah dan ketika pagi hari api dari awan itu padam kembali. Segala sesuatu dipandang berasal dari bumi, dan bumi pula yang menjadi tujuan akhir segala sesuatu. Manusia berasal dari bumi dan air. Sedangkan laut adalah sumber dari segala air dan juga angin. Samudra yang luas menghasilkan awan-awan, angin, dan juga sungai-sungai. Pelangi dipandang sebagai awan yang berwarna-warni.
Kemudian bumi berada dalam proses peredaran terus-menerus. Tanah menjadi lumpur, lalu menjadi air laut. Sebaliknya, laut menjadi lumpur, lalu menjadi tanah. Untuk membuktikan teori ini, Xenophanes menunjukkan bahan bukti empiris, yakni fosil-fosil kerang laut. Fosil-fosil tersebut berada dalam batu. Hal itu menunjukkan bahwa dulu batu tersebut merupakan lumpur.”

Sampai sekarang perdebatan itu belum berakhir. Saling berpengaruh dan saling menguasai satu sama lainnya. Pencarian fenomena Ketuhanan Barat yang tidak memiliki akhir, karena Ego manusia. Ego manusia mengatasnamakan Kesadaran Tertinggi manusia. Ada hal menarik dari Pernyataan-pernyataan Filsuf pada zaman dahulu. Terlihat sekali bahwa pendalaman diri sendirinya begitu kuat. Di satu sisi Kesadaran akibat perenungan dan diskusi Filsafat mereka  menghasilkan banyak kebenaran, tetapi di satu sisi juga mengandung Kesalahan. Itulah sejatinya Logika Manusia sebagai pengusung Kebenaran Relatif. Ada beberapa kalimat yang hampir mirip (Plagiat) antara Manuscript  (catatan) para filsuf dengan apa yang disampaikan dalam AlKitab Injil, nanti akan saya bahas.
Pertentangan antara penganut Filsafat Materialistis dengan penganut Filsafat Materialistis lainnya adalah (konon ini adalah pertanyaan tertua juga) yang mempertanyakan, lebih dahulu mana “Induk Ayam” dengan “Telur”?
Pertanyaan diatas ternyata sudah terjawab oleh AlQuran itu sendiri. Ada sumbangan pemikiran untuk Gilamologi dari seseorang dari Milist bernama Syafa, Hidayahnya menunjukan ada ayat yang berbunyi:
“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)". (Al-I Imran 3;27)
Sebuah ayat yang begitu dalam yang menunjukan tanda-tanda keberadaan Tuhan. Sebuah jawaban dari pertanyaan “yang mati menjadi hidup (ayam) dan dari hidup menjadi mati (telur)”, dengan perumpamaan “malam dimasukan pada siang dan siang dimasukan pada malam”. Sebuah ayat yang menambahkan pertanyaan kaum Filsuf Materialistis yaitu, Lebih dahulu mana Malam atau Siang pada penciptaan alam semesta ini? Mengapa manusia yang berpijak dibumi akan mengalami masalah siang dan malam? Mengapa manusia yang berada di angkasa luar tidak mengalami siang dan malam? Apakah adanya perbedaan ruang sehingga menjadikan dua kondisi menjadi satu kondisi? Mengapa Saya yakin Filsuf Materialistis hanya mengejar pertanyaan yang berkaitan dengan kebendaan (Materilaistis) dikaitkan dengan roh itu sendiri. Bagaimana yang menyangkut pergantian kondisi alam (siang dan malam) yang kita alami sampai saat ini sehari-hari?
Tetapi saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang pertama. Karena perdebatan ini terus berlangsung dimana Para Filsafat Materialistis selalu ngotot dengan pertanyaan, bagaimana menjelaskan secara logis/rasional KETIDAKNYATAAN dapat menghasilkan KENYATAAN, atau sebaliknya? Sedangkan perkembangan ilmu pengetahuan dan logika manusia itu sendiri terbatas. Nah, Gilamologi salah satunya akan menjawab masalah ini yang akan dijelaskan secara lengkap dalam Transformasi Materi (Zat/Sel), tetapi agar semua pihak lebih nyaman untuk terus membaca tulisan ini, maka Gilamologi coba menjawab dulu dengan pendekatan logis, terutama bagi penganut Filsafat Manusia Materialistis dan Filsafat Ketuhanan Barat. Ada dua pendekatan paling logis dan sangat dipercaya oleh kaum Filsafat Materialistis yang akan saya lakukan, yaitu Pendekatan Teori Matematika dan Pendekatan Hasil Eksperimental.
“Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim. (Al Ankabut 29:49)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung Ke...JILID 19 Hal: 128-135

Jumat, 11 Maret 2011

Filsafat 4 (JILID 17 Hal 117-121)

FILSAFAT (4)
Hasil –hasil dari kaum Filsafat Idealis dan Filsafat Materialistis (Filsafat Manusia) ini kita kenal sebagai bentuk Kebudayaan dan Peradaban. Kebudayaan adalah kemajuan manusia dalam bidang pemikiran yang dianggap sebagai sumbangsih dari hasil dari kebanyakan kaum Filsafat Idealis. Sedangkan Peradaban adalah kemajuan manusia dalam bidang Materi yang banyak disumbangkan oleh Kaum Filsafat Materialistis. Walaupun tidak selamanya harus selalu demikian, dimana kedua-duanya memberikan kontribusi pada kemajuan manusia dalam bentuk Kebudayaan dan Peradaban. Sedangkan Filsafat Ketuhanan (khususnya agama) banyak memberikan sumbangsih pada aspek Nilai-nilai Etika/Moral Kebudayaan dan peradaban  itu sendiri. Khusus agama Islam dalam Kitab Sucinya mengandung sumber segala sumber ilmu pengetahuan yang dapat memberikan kontribusi ilmu pengetahuan pada kebudayaan dan peradaban itu sendiri.
Pengetahuan menurut John Locke ternyata dapat dilakukan dengan dua pendekatan sumber yaitu, Pengetahuan yang bersumber dari Proses Pemikiran Rasio Manusia (Rasionalis) dan Pengetahuan yang bersumber dari Proses Pengalaman (Empirisme). John Locke tampaknya mencari jalan tengah antara pemikiran Thomas Hobbes (Empirisme) dan kaum Rasionalisme. Seperti yang saya dapatkan dari wikipedia:
“John Locke (lahir 29 Agustus 1632 – meninggal 28 Oktober 1704 pada umur 72 tahun) adalah seorang filsuf dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan empirisme. Salah satu pemikiran Locke yang paling berpengaruh di dalam sejarah filsafat adalah mengenai proses manusia mendapatkan pengetahuan. Ia berupaya menjelaskan bagaimana proses manusia mendapatkan pengetahuannya. Menurut Locke, seluruh pengetahuan bersumber dari pengalaman manusia. Posisi ini adalah posisi empirisme yang menolak pendapat kaum rasionalis yang mengatakan sumber pengetahuan manusia yang terutama berasal dari rasio atau pikiran manusia. Meskipun demikian, rasio atau pikiran berperan juga di dalam proses manusia memperoleh pengetahuan. Dengan demikian, Locke berpendapat bahwa sebelum seorang manusia mengalami sesuatu, pikiran atau rasio manusia itu belum berfungsi atau masih kosong. Situasi tersebut diibaratkan Locke seperti sebuah kertas putih (tabula rasa) yang kemudian mendapatkan isinya dari pengalaman yang dijalani oleh manusia itu. Rasio manusia hanya berfungsi untuk mengolah pengalaman-pengalaman manusia menjadi pengetahuan sehingga sumber utama pengetahuan menurut Locke adalah pengalaman.
Lebih lanjut, Locke menyatakan ada dua macam pengalaman manusia, yakni pengalaman lahiriah (sense atau eksternal sensation) dan pengalaman batiniah (internal sense atau reflection). Pengalaman lahiriah adalah pengalaman yang menangkap aktivitas indrawi yaitu segala aktivitas material yang berhubungan dengan panca indra manusia. Kemudian pengalaman batiniah terjadi ketika manusia memiliki kesadaran terhadap aktivitasnya sendiri dengan cara 'mengingat', 'menghendaki', 'meyakini', dan sebagainya. Kedua bentuk pengalaman manusia inilah yang akan membentuk pengetahuan melalui proses selanjutnya.”

Dari penjelasan tentang pengolongan-penggolongan (distingsi) Filsafat ini saja, seharusnya manusia yang berakal dapat mulai saling memahami. Pilihan pendekatan mana yang ia gunakan dan apa yang digunakan lawan bicaranya? Seseorang yang menggunakan pendekatan Filsafat Ketuhanan Barat tentunya akan mengajak berdiskusi tentang fenomena, bentuk dan keberadaan Tuhan itu sendiri terlebih dahulu. Kemudian seseorang yang menggunakan pendekatan Filsafat Ketuhanan Timur/ Timur Tengah sudah pasti akan mengabaikan masalah fenomena, bentuk dan keberadaan Tuhan tersebut. Karena hal ini menurut mereka keberadaan Tuhan secara hukumnya sudah dapat dikatakan/dinyatakan sebagai “Inkrah” (sudah Mutlak disepakati).
Parahnya lagi kaum Materialistis dari Filsafat Manusia (khususnya Atheis), seringkali mengatakan bahwa Kaum Bertuhan/Beragama adalah orang-orang yang percaya terhadap teori orang-orang Primitif. Mereka tidak menyadari, bahwa ilmu pengetahuan mereka yang sekarang adalah hasil teori atau perkembangan dari kaum sebelumnya (termasuk primitif juga). Mereka justru mempercayai teori yang banyak berguguran oleh ilmu pengetahuan sekarang ini. Contohnya, Teori Evolusi yang diagung-agungkan kaum Humanisme (rasionalis dan Materialistis) sudah digugurkan oleh tulisan yang menggemparkan yaitu buku “Atlas Penciptaan” karangan Harun Yahya (Adnan Oktar). Kaum Humanis/Atheis sekarang sedang mencari cara-cara baru untuk membuktikan bahwa Tuhan “tidak ada”. Artinya Ilmu pengetahuan mereka yang didasari dari kebenaran relatif kaum primitif dulu digugurkan oleh kebenaran relatif sekarang ini.
“Apakah mereka diperintah oleh fikiran-fikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?” (At Thur 52;32)
Sedangkan kaum beragama (khususnya Islam) justru menggunakan sumber ilmu pengetahuan dari kaum yang dianggap lama (primitif) tetapi mengandung kebenaran Mutlak (Kitab Suci), yang justru dengan penemuan ilmu pengetahuan sekarang menegaskan bahwa sumber ilmu pengetahuan kaum beragama berasal dari Kebenaran Mutlak kaum Primitif. Jadi mana yang lebih baik, Ilmu pengetahuan yang bersumber dari kebenaran relatif kaum primitif, atau kebenaran mutlak dari kaum primitif?
Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa," (Al Baqara 2;4)
Beberapa ayat AlQuran sudah memberikan tanda-tanda tentang ilmu pengetahuan, dan dalam Alkitab saya temukan ada ayat yang mengatakan:
“Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14;24-26)
Dari pernyataan kaum atheis tentang pengetahuan dan perbandingan ayat-ayat Kitab Suci  diatas, tinggal kita buktikan mana yang terbukti sebagai sebuah Kebenaran Mutlak.
Perdebatan sering timbul, karena kaum Filsafat Ketuhanan Barat bukan sekedar mempertanyakan eksistensi Tuhan kaum Filsafat Timur/Timur Tengah, tetapi seringkali mereka meniadakan bahkan menghina Tuhan yang sudah dianggap ada oleh Kaum Filsafat Ketuhanan Timur. Agama Kristen yang berasal dari Timur tengah, justru perkembangan dan penyusunan Kitab Sucinya terjadi di Barat (Roma). Sehingga diduga Kristen dan AlKitab sekarang banyak dipengaruhi oleh kaum Filsafat Barat. Karena jika kaum Kristen menyadari hal ini, maka mereka tidak keluar dari ajaran Taurat yang merupakan sumber dari AlKitab Injil (penggenapan Taurat). Dalam Alkitab Injil dijelaskan:
Janganlah mengira bahwa Aku datang untuk membatalkan Taurat atau kitab para nabi. Aku datang tidak untuk membatalkannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” (Matius .5:17-19).
Kemudian AlQuran membantu memyempurnakan hal ini:
“Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri." (Al-I Imran 3:84)
“dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. "(Al Baqara 2;4)
Oleh sebab itu harus dijelaskan pada pembuka kalimat, hendak menggunakan pendekatan Filsafat apa, untuk memahami pendekatan masing-masing? topik yang akan dibahas apa? Tujuan yang hendak dicapai dan seterusnya.
Anda mau masuk dalam golongan yang mana?
“Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hati (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha mengehui segala sesuatu”.( An Nur 24:64)
Dengan memahami golongan mana yang kita anut masing-masing, akan memudahkan sebuah diskusi berjalan. Memudahkan awal dan akhir sebuah diskusi, serta topik yang akan didiskusikan. Sebuah diskusi yang sehat yang akan memberikan kazanah baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Bukan sekedar doktrin/dogma agama tertentu untuk memaksakan Keimanannya pada orang lain yang berbeda Keimanan. Inilah tujuan pemahaman Filsafat dari sebuah Gilamologi.
"Dan perumpamaan- perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu."(Al ankabut 29:43)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung Ke...JILID 18 Hal: 121-128

Filsafat 3 (JILID 16 Hal 111-117)


FILSAFAT (3)

Setelah membahas Filsafat Manusia dimana point (a). adalah Filsafat Manusia Idealis pada jilid sebelumnya, maka saya lanjutkan Filsafat manusia yang kedua yaitu :
b.      Filsafat Materialistis
      Filsafat tentang manusia yang hanya mempercayai segala sesuatu yang dapat di indrakan manusia (Materialistis/Empiris). Mereka mengusung pemahaman bahwa Tidak ada keterlibatan Pihak Ketiga (Roh) atau Pihak yang tidak kasat mata.dalam peristiwa di alam semesta ini. Mereka hanya percaya bahwa semua peristiwa itu sudah merupakan kejadian alam yang dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Contohnya adalah Filsafat Atheis, dimana para atheisme ini juga ternyata terbagi menjadi 2 golongan besar yaitu Atheisme Implisit dan Atheisme Eksplisit. Atheisme Implisit adalah penganut Atheisme murni fundamentalis, artinya secara tegas mereka tidak mempercayai keberadaan Tuhan (Tuhan tidak ada). Sedangkan Atheis Eksplisit adalah Atheisme yang masih dapat mendiskusikan tentang keberadaan Tuhan (ragu-ragu). Atheis Eksplisit biasanya dipengaruhi oleh Filsafat Idealis dari Filasafat Ketuhanan Barat, misalnya kelompok Agnostik (kepercayaan bahwa tidak ada bukti tentang keberadaan Tuhan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa Tuhan itu ada).
      Pemikiran tentang Filsafat Materialisme sendiri dikembangkan Kelompok Rasionalisme dari pemikiran Aristotelean pada awalnya. Kelompok ini menjelaskan (wikipedia) :
“Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui  iman, dogma, atau ajaran agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme dan atheisme, dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul. Meskipun begitu, ada perbedaan dengan kedua bentuk tersebut:
§         Humanisme dipusatkan pada masyarakat manusia dan keberhasilannya. Rasionalisme tidak mengklaim bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah lainnya. Ada rasionalis-rasionalis yang dengan tegas menentang filosofi humanisme yang antroposentrik.
§         Atheisme adalah suatu keadaan tanpa kepercayaan akan adanya Tuhan atau dewa-dewa; rasionalisme tidak menyatakan pernyataan apapun mengenai adanya dewa-dewi meski ia menolak kepercayaan apapun yang hanya berdasarkan iman. Meski ada pengaruh atheisme yang kuat dalam rasionalisme modern, tidak seluruh rasionalis adalah atheis.
Di luar diskusi keagamaan, rasionalisme dapat diterapkan secara lebih umum, misalnya kepada masalah-masalah politik atau sosial. Dalam kasus-kasus seperti ini, yang menjadi ciri-ciri penting dari perpektif para rasionalis adalah penolakan terhadap perasaan (emosi), adat-istiadat  atau kepercayaan yang sedang populer.
Pada pertengahan abad ke-20, ada tradisi kuat rasionalisme yang terencana, yang dipengaruhi secara besar oleh para pemikir bebas dan kaum intelektual. Rasionalisme modern hanya mempunyai sedikit kesamaan dengan rasionalisme kontinental yang diterangkan René Descartes, yaitu yang dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah: "Aku berpikir maka aku ada". (Ing: I think, therefore I am)
Perbedaan paling jelas terlihat pada ketergantungan rasionalisme modern terhadap sains yang mengandalkan percobaan dan pengamatan, suatu hal yang ditentang rasionalisme kontinental sama sekali.”

      Pemikiran materialisme sendiri diperkuat dan ditegaskan oleh Thomas Hobbes (1588-1679) sebagai penganut aliran Empirisme, sekaligus menentang kaum Rasionalisme, seperti dalam wikipedia :
“Inti pemikiran Hobbes berakar pada empirisme (berasal dari bahasa Yunani empeiria yang berarti 'berpengalaman dalam, berkenalan dengan'). Empirisme menyatakan bahwa pengalaman adalah asal dari segala pengetahuan. Menurut Hobbes, filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat berupa fakta yang dapat diamati. Segala yang ada ditentukan oleh sebab tertentu, yang mengikuti hukum ilmu pasti dan ilmu alam. Yang nyata adalah yang dapat diamati oleh indera manusia, dan sama sekali tidak tergantung pada rasio manusia (bertentangan dengan rasionalisme). Dengan menyatakan yang benar hanyalah yang inderawi, Hobbes mendapatkan jaminan atas kebenaran.
Hobbes dikenal sebagai salah seorang perintis kemandirian filsafat. Hobbes berpendapat bahwa selama ini, filsafat banyak disusupi gagasan religius. Hobbes menegaskan bahwa obyek filsafat adalah obyek-obyek lahiriah yang bergerak beserta ciri-cirinya. Menurutnya, substansi yang tak dapat berubah, seperti Allah, dan substansi yang tak dapat diraba secara empiris, seperti  roh, malaikat, dan sebagainya, bukanlah obyek dari filsafat. Hobbes menyatakan bahwa filsafat harus membatasi diri pada masalah kontrol atas alam.
Berdasarkan pemikiran tersebut, Hobbes menyatakan hanya ada empat bidang di dalam filsafat, yakni:
1.       Geometri, yang merupakan refleksi atas benda-benda dalam ruang.
2.       Fisika, yang merupakan refleksi timbal-balik benda-benda dan gerak mereka.
3.       Etika, yang dalam pengertian Hobbes dekat dengan psikologi.  Maksudnya, refleksi atas hasrat dan perasaan manusia serta gerak-gerak mentalnya.
4.       Politik, yang adalah refleksi atas institusi-institusi sosial.
Hobbes menyatakan bahwa keempat bidang tersebut saling berhubungan satu sama lain. Karena itulah, Hobbes berpandangan bahwa masyarakat dan manusia dapat dilihat melalui gerak dan materi dalam fisika.
Sebagai penganut empirisme, Hobbes menganggap bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman semata-mata. Tidak seperti kaum rasionalis, pengenalan dengan akal hanyalah mempunyai fungsi mekanis. Pengenalan dengan akal dimulai dengan kata-kata yang menunjuk pada tanda-tanda tertentu yang sebenarnya sesuai dengan kebiasaan saja. Pengertian-pengertian umum hanyalah nama belaka, yaitu sebagai nama bagi gambaran-gambaran ingatan tersebut, bukan nama benda pada dirinya sendiri. Pengamatan indrawi terjadi karena gerak benda-benda di luar manusia yang menyebabkan adanya rangsangan terhadap indra manusia. Rangsangan tersebut diteruskan ke otak, dan dari otak ke jantung. Di dalam jantung timbullah reaksi tertentu yang merespons pengamatan tersebut.
Pandangan Hobbes tentang manusia dimulai dengan pertanyaan: apa yang menggerakkan manusia? (what makes him tik?). Di sini, Hobbes membandingkan manusia dengan sebuah jam tangan yang bergerak secara teratur karena ada onderdil-onderdil di dalamnya. Hobbes memandang manusia secara mekanis belaka. Manusia adalah setumpuk material yang bekerja dan bergerak menurut hukum-hukum ilmu alam.  Untuk itu, ia menyingkirkan segala macam anggapan moral-metafisik tentang manusia. Misalnya saja, pandangan bahwa manusia memiliki kodrat sosial, kebebasan, keabadian jiwa, dan sebagainya. Jiwa dan akal budi hanya dianggap sebagai bagian dari proses mekanis di dalam tubuh.
Setelah mengetahui seluruh kaitan antara onderdil-onderdil dari sebuah jam tangan, maka kita dapat mengetahui prinsip kerja yang menyebabkan jam tangan itu bergerak. Kesimpulan akhir Hobbes mengenai faktor penggerak manusia adalah psikis manusia, yakni nafsu. Nafsu yang paling kuat dari manusia adalah nafsu untuk mempertahankan diri, atau dengan kata lain, ketakutan akan kehilangan nyawa. Dari dasar pemikiran itulah Hobbes kemudian merumuskan pandangannya tentang negara yang amat terkenal.”

      Kemudian lahirlah para pemikir Materialisme lainnya yang semakin memperkuat eksistensi mereka seperti pemikiran Imanuel Kant, Karl Marx dan lain-lain. Sedangkan pemikiran Imanuel Kant antara lain (wikipedia) :
"Immanuel Kant (Königsberg, 22 April 1724 - Königsberg, 12 Februari 1804) adalah seorang filsuf Jerman. Karya Kant yang terpenting adalah Kritik der Reinen Vernunft, 1781. Dalam bukunya ini ia “membatasi pengetahuan manusia”. Atau dengan kata lain “apa yang bisa diketahui manusia.” Ia menyatakan ini dengan memberikan tiga pertanyaan:
§         Apakah yang bisa kuketahui?
§         Apakah yang harus kulakukan?
§         Apakah yang bisa kuharapkan?
Pertanyaan ini dijawab sebagai berikut:
§         Apa-apa yang bisa diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan panca indra. Lain daripada itu merupakan “ilusi” saja, hanyalah ide.
§         Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan istilah “imperatif kategoris”. Contoh: orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila hal ini diangkat menjadi peraturan umum, maka apabila semua orang mencuri, masyarakat tidak akan jalan.
§         Yang bisa diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah yang memutuskan pengharapan manusia.
Ketiga pertanyaan di atas ini bisa digabung dan ditambahkan menjadi pertanyaan keempat: “Apakah itu manusia?”

      Pemikiran Materialistis ini dipertegas dan semakin radikal oleh pemikiran  Marx Stirner (1805), dalam wikipedia:
“Max Stirner  adalah seorang filsuf Jerman yang terkenal dengan teorinya tentang individualisme radikal. Sebenarnya Max Stirner adalah nama samaran, sedangkan nama aslinya adalah Kasper Schmidt. Stirner dilahirkan di Bayreuth pada tahun 1805. Karya terpenting Stirner adalah buku berjudul "Individu dan Miliknya" (dalam bahasa Jerman "Der Einzige und sein Eigenthum") yang terbit pada tahun 1845. Ia meninggal pada tahun 1856.
Stirner memberikan prioritas kepada kehendak dan insting manusia mengatasi akal budi, dan dengan begitu ia mendorong suatu individualisme radikal. Setiap manusia unik dan bebas dari segala sesuatu. Bagi Stirner, yang bernilai hanyalah diri manusia itu sendiri, sehingga segala bentuk peraturan, ide-ide agamawi, dan nilai-nilai kemanusiaan lain dianggap sebagai ilusi dan hipnotis bagi masyarakat. Satu-satunya tujuan hidup seorang manusia adalah dirinya sendiri.”

      Hegelian bukannya tanpa kontra. Banyak Filsuf lain yang mengatakan bahwa kaum Hegelian adalah kaum Idealis yang mengambang, seperti yang diutarakan Soren A. Kierkegaard dalam wikipedia:
“Søren Aabye Kierkegaard (lahir di Kopenhagen, Denmark, 5 Mei 1813 – meninggal di Kopenhagen, Denmark, 11 November 1855 pada umur 42 tahun) adalah seorang filsuf dan teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark. Kierkegaard sendiri melihat dirinya sebagai seseorang yang religius dan seorang anti-filsuf, tetapi sekarang ia dianggap sebagai bapaknya filsafat eksistensialisme. Kierkegaard menjembatani jurang yang ada antara filsafat  Hegelian  dan apa yang kemudian menjadi Eksistensialisme. Kierkegaard terutama adalah seorang kritikus Hegel pada masanya dan apa yang dilihatnya sebagai formalitas hampa dari Gereja Denmark. Filsafatnya merupakan sebuah reaksi terhadap dialektik Hegel.
Banyak dari karya-karya Kierkegaard membahas masalah-masalah agama seperti misalnya hakikat iman, lembaga Gereja Kristen, etika dan teologi Kristen, dan emosi serta perasaan individu ketika diperhadapkan dengan pilihan-pilihan eksistensial. Karena itu, karya Kierkegaard kadang-kadang digambarkan sebagai eksistensialisme Kristen dan psikologi eksistensial. Karena ia menulis kebanyakan karya awalnya dengan menggunakan berbagai nama samaran, yang seringkali mengomentari dan mengkritik karya-karyanya yang lain yang ditulis dengan menggunakan nama samaran lain, sangatlah sulit untuk membedakan antara apa yang benar-benar diyakini oleh Kierkegaard dengan apa yang dikemukakannya sebagai argumen dari posisi seorang pseudo-pengarang. Ludwig Wittgenstein  berpendapat bahwa Kierkegaard "sejauh ini, adalah pemikir yang paling mendalam dari abad ke-19".
Pemikiran Kierkegaard, sebagai kritik atas Hegel, menekankan pada aspek subjektivisme. Mengingat seluruhnya pada dasarnya adalah manifestasi dari apa yang disebut Hegel sebagai fenomenologi roh maka individu manusia direduksi menjadi kawanan. Hal ini akan melenyapkan individu dari tanggung jawab pribadinya secara etis bahkan juga melenyapkan eksistensi individu di dalam kerumunan kawanan. Penekanan pada eksistensi individu inilah yang menjadikan Kierkegaard dianggap sebagai bapak eksistensialisme yang dipopulerkan oleh Sartre kelak.
Pemikiran lain yang menarik adalah sebuah dialektika eksistensialis yang menggambarkan perkembangan religiusitas manusia dari apa yang disebutnya tahap estetis, tahap etis, hingga tahapan religius. Tahap pertama adalah tahap estetis yaitu ketika manusia bereksistensi berdasarkan prinsip kesenangan indrawi, sebagaimana arti kata estetis yang bermakna mengindra. Tokoh dalam peradaban barat yang menjadi contoh adalah Don Juan yang memburu kesenangan. Tahapan kedua dicapai dengan satu lompatan menuju tahap dimana manusia bereksistensi dengan pertimbangan moral universal dalam kerangka benar dan salah. Tokoh yang dapat dijadikan contoh adalah Socrates yang mengorbankan dirinya demi prinsip moral universal. Tahap terakhir adalah tahap keimanan puncak yang tidak dapat dinilai dengan penilaian moral universal namun menemui sifat paradoks keimanan. Tokoh yang dijadikan teladan adalah Ibrahim (atau Abraham) dalam kisah penyembelihan anaknya (Ishak dalam agama Kristen dan Ismail dalam agama Islam) yang tindakannya tersebut, sebagai manifestasi dari keimanannya, tidak dapat dinilai dengan penilaian moral universal. Sebuah tindakan yang mengandung dasar paradoks karena di satu sisi Ibrahim menyerahkan diri sepenuhnya, dan kehilangan segala-galanya, dengan gerakan imannya dan di sisi lain, secara bersamaan, dia mendapatkan segalanya dengan cara yang baru. Sebuah kegilaan ilahi, sesuatu yang tidak dikutuk tapi justru dianjurkan oleh Kierkegaard, yang akan tampak absurd apabila dimasukkan ke dalam kategori moral universal.”

      Tetapi pendukung Hegel, menjadi begitu materialistisnya diungkapkan oleh pemikiran Karl Marx (1818-1883) yang terkenal adalah:
“Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas", sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis.”
      Kemudian yang paling menggegerkan adalah pemikiran Hans Kung. Padahal Hans Kung adalah seorang Pastor Katolik. Dialah yang pertamakali mendengungkan tentang “Kesamaan agama” dalam kerangka “Etika Global”, seperti dalam wikipedia :
“Pastor Hans Küng (lahir 19 Maret 1928 di Sursee, Canton Lucerne), adalah seorang teolog Swiss terkemuka, dan penulis yang produktif. Sejak 1995 ia menjadi Presiden dari Yayasan untuk Etika Global (Stiftung Weltethos). Küng adalah seorang pastor Katolik Roma, tetapi Vatikan telah mencabut haknya untuk mengajar teologi Katolik.
Pada akhir tahun 1960-an Küng menjadi teolog penting pertama Katolik Roma setelah skisma Gereja Katolik Lama pada akhir abad ke-19 yang menolak doktrin infalibilitas paus, khususnya dalam bukunya Infallible? An Inquiry ("Infalibel? Suatu Telaah") (1971). Akibatnya, pada 18 Desember 1979, izin mengajarnya sebagai seorang teolog Katolik Roma dicabut, namun ia tetap mengajar sebagai seorang profesor yang berjabatan dalam bidang teologi ekumenis di Universitas Tübingen hingga masa pensiunnya (Emeritierung) pada 1996. Hingga hari ini ia tetap merupakan kritikus yang gigih terhadap kewibawaan paus, yang disebutnya sebagai ciptaan manusia (dan karena itu dapat dibatalkan) dan bukan sesuatu yang ditetapkan oleh Allah. Küng tidak diekskomunikasi dan tetap menjabat sebagai seorang imam Katolik Roma.
Pada awal tahun 1990-an Küng memulai sebuah proyek yang dinamai Weltethos (Etika Global), yang merupakan upaya untuk menggambarkan kesamaan di antara agama-agama dunia (ketimbang menekankan hal-hal yang membedakan mereka) dan menyusun suatu susunan peraturan perilaku minimal yang dapat diterima oleh setiap orang. Visinya tentang suatu etika global terwujud dalam dokumen yang rancangan awalnya disusun oleh Küng, Menuju suatu Etika Global: Suatu Deklarasi Awal. Deklarasi ini ditandatangani pada Parlemen Agama-agama Dunia tahun 1993 oleh banyak pemimpin agama dan spiritual dari seluruh dunia. Belakangan proyek Küng ini memuncak menjadi "Dialog antar Peradaban" yang diselenggarakan oleh PBB, dan untuk itu Küng ditunjuk sebagai salah satu dari 19 "tokoh terkemuka." Meskipun proyek ini diselesaikan pada November 2001, tak lama setelah serangan teroris pada 11 September 2001, media AS tidak meliputnya. Hal ini dikeluhkan oleh Küng.
Berdasarkan pada kuliah-kuliah "Studium Generale" di Universitas Tübingen, terbitannya yang terbaru Der Anfang aller Dinge("Permulaan dari segala sesuatu") membahas hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama. Dalam sebuah analisis yang merentang dari fisika kuantum  hingga neurosains ia juga mengomentari perdebatan saat ini di Amerika Serikat mengenai evolusi, dan mengecam mereka yang menentang evolusi sebagai orang yang "naif [dan] tidak tercerahkan".

Perbedaan antara Filsafat Manusia dan Filsafat Ketuhanan adalah pada hasil akhirnya. Filsafat Manusia lebih menitikberatkan pada akal budi, Rasionalitas, Empiris, Materialistis dan logika manusia yang akan memberikan kontribusi terhadap konsep “Kesadaran”, “Kebijaksanaan” dan “Keilmuan” manusia. Sedangkan Filsafat Ketuhanan lebih menitikberatkan pada idealisme hati/perasaan, spiritualitas dan Metafisika seseorang yang akan memberikan kontribusi pada konsep “Kepercayaan”, “Keyakinan” dan “Keimanan/Ketaqwaan” manusia.
Di dalam Filsafat Manusia dikenal pembagiannya, seperti:
-         Filsafat Atheis.
-         Filsafat Hukum/ Legal.
-         Aksiologi
-         Etika (Moral)
-         Estetika
-         Epistomologi
-         Filsafat Alam
-         dsb
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi maha Kuasa." (QS. Ar-Ruum, 30: 54)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung Ke...Jilid 17 Hal: 117-121