ARTIKEL GILAMOLOGI

Assalamulaikum Wr.Wb… اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

BERAT/MASSA MATERI (ZAT/SEL) ALAM SEMESTA SELALU SAMA?

(Gilamologi Sebuah Kajian Alternatif Filsafat Bebas)

By: Filsuf Gila

Bismillahhirohmanirohim… بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya,”

(Al Hajr 22;8)

"Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?"

(Al Anbiyaa 21;10)

“Ini lah (Qur’an) pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang sungguh-sungguh meyakininya."

(Al-Jathiya 45: 20)

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”

(Injil 1 Tesalonika. 5:21)

“Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu laku-kan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.” (Ulangan 12:32)

ISLAM AJARAN TAUHID

ISLAM AJARAN TAUHID
"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (Al Ikhlas 112;1-4)

Senin, 04 April 2011

Perbandingan Konsep Keimanan (JILID 27 Hal 174-180)


Perbandingan Konsep Keimanan
 Dari penjelasan antara Konsep Keimanan Islam dan Keimanan Kristen sebelumnya, Apa Kelebihan dan Kekurangannya dari masalah keimanan diatas? Mari kita telaah dengan SWOT Analisys (Strenght, Weakness, Oportunity and Treath) sederhana.
Kelebihan. (Strenght)
Kelebihan Keimanan Islam adalah, dikarenakan umat Muslim mengalami proses berpikir dan pencarian keimanannya, maka pada saat Muslim tersebut mencapai tingkatan MEMAHAMI saja, akan sulit bagi siapapun untuk menggoyahkan keimanan seorang Mu’min. Karena pada tingkatan ini, Syariat dan Tarekat dalam ajaran agama Islam bukan lagi dipandang sebagai “Kewajiban”, melainkan sudah merupakan “Kebutuhan” Hidup. Sedangkan bagi umat Muslim yang hanya sampai tingkatan “Mengerti kebawah” atau Syariat/Tarekat, memang masih mudah untuk dipengaruhi. Oleh sebab itulah, maka Umat Muslim pada tingkatan ini masih harus selalu diingatkan dan  didorong untuk terus belajar, Shalat 5 Waktu, membaca Alquran, singkatnya melakukan latihan pembelajaran secara terus menerus.
Sedangkan kelebihan Keimanan Kristen adalah lebih mudah bagi orang-orang yang menginginkan sesuatu yang serba pasti, mudah ditakut-takuti dengan dosa (dosa turunan) dan cara-cara pintas (instant) untuk memperoleh pahala-pahala Ketuhanan, karena janji-janji (Doktrin) pembebasan dosa (ditanggung Yesus), penebusan dosa dan jaminan keselamatan, hal yang sangat tidak masuk diakal. Dengan berbagai macam cara dihalakan untuk dapat memasukan seseorang pada Keimanan Kristen, seperti dalam ayat ini:
“Tetapi biarlah begitu, aku ini tiada membebankan kamu, melainkan sebab tjerdik, aku tangkap kamu dalam muslihat(2 Korintus 12:16; Perdjandjian Baharu, The Gideons International, 1970).
Atau dalam Terjemahan baru
“Baiklah, aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu, tetapi--kamu katakan--dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya. “(2 Korintus 12:16)
Apakah karena kecerdikan orang diminta masuk sebuah keyakinan? Apakah agama bicara tentang tipu Muslihat atau kebenaran? Ayat diatas inilah yang sering digunakan penginjil atau misionaris untuk menghalalkan segala cara.
Agama Islam tidak pernah memahami ini karena dalam Agama Islam.
Bahwa tidaklah seseorang yang berdosa akan menanggung dosa yang lain.” (Qs 53 An Najm 38-39)
Dalam Islam, Keselamatan itu justru berada dalam panduan Hidup umat Islam yaitu AlQuran :
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Al-I Imran 3;103)
Dan Allah memberikan pengampunan dosa pada mereka, jika mereka memeluk Islam dan bertobat:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (Al Fath 48;1-3)
Dan Allah-lah yang akan memberikan ketenangan dalam Hati.
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (Al Fath 48;1-3)
Dari masalah kelebihan ini saja, saya berani mengambil sebuah hipotesis bahwa: Semakin tinggi tingkat intelektual seseorang, maka semakin kuat seseorang untuk mencari Keimanan yang mengandung Kebenaran Mutlak melalui sebuah proses pengetahuan (kaidah ilmiah). Sebaliknya, semakin rendah tingkat intelektual seseorang, maka semakin banyak orang memilih keimanan karena didoktrinisasi agama/kepercayaan.
Kekurangan (Weakness)
Kekurangan Keimanan Islam adalah tidak mudah bagi setiap orang untuk langsung meyakini apa yang tertuang dalam Kitab Suci AlQuran untuk mencapai keimanannya, karena harus memenuhi/melalui proses pembelajaran terlebih dahulu. Jadi manusia yang sudah berhenti belajar atau tidak mau belajar, maka sulit baginya untuk mencapai pemahaman tentang ajaran Islam yang benar.
bSedangkan kekurangan Keimanan Kristen adalah Kekhawatiran bagi para pemimpin agamanya dimana umatnya yang mulai berpikir kritis dan mencari pembenaran-pembenaran dengan akal budi manusianya dan pengetahuan ilmiahnya untuk membedah kebenaran-kebenaran dalam Kitab Suci Alkitabnya tersebut. Pertanyaan tentang janji-janji kepastian, penebusan dosa dan lain sebagainya. Kekhawatiran tersebut sangat sederhana yaitu kebalikan Proses dari Keimanan Islam. Karena mudahnya mengartikan Iman sebagai sebuah bentuk dari rasa “percaya” dan secepatnya memeluk agama kristen, maka proses alami akal manusia akan bekerja justru setelah orang tersebut dianggap beriman dalam agama Kristen . Semakin Umat Kristen tahu tentang ilmu pengetahuan dan mengkomparasikan ilmu pengetahuannya tersebut dengan Alkitab, maka semakin menurunlah tingkat Keimanannya. Penurunan ini banyak disebabkan oleh pembuktian oleh diri mereka sendiri atau literatur ilmiah berdasarkan kaidah ilmiah yang membuktikan Injil banyak mengandung Kebenaran Relatif (buatan manusia) dan mengecilkan sifat Ke-Maha-an Tuhannya sendiri. seperti dalam proses menurunnya Keimanan Kristen dibawah ini : MENG-IMAN-I menjadi sekedar MEYAKINI menjadi sekedar MEMAHAMI menjadi  sekedar MENGERTI menjadi sekedar TAHU menjadi TIDAK TAHU dan akhirnya menjadi ATHEIS. Kekuatan pikiran dari kaum Atheis banyak mempengaruhi kaum Religius di Barat, Alquran mengidentifikasi hal ini:
“Apakah mereka diperintah oleh fikiran-fikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas?” (At Thur 52;32)
Hal ini dibuktikan oleh hasil Riset yang datanya kita bisa dapatkan dalam Wikipedia mengenai Demografi penganut Atheis. Dimana kita tahu selama ini Negara Barat mayoritasnya adalah beragama Kristen.
“Survei tahun 2005 yang dipublikasi dalam Encyclopædia Britannica menunjukkan bahwa kelompok non-religius mencapai sekitar 11,9% populasi dunia, dan ateis sekitar 2,3%. Jumlah ini tidak termasuk orang-orang yang memeluk agama ateistik, seperti agama Buddha. Survei November-Desember 2006 yang dilakukan di Amerika Serikat dan lima negara Eropa, dan dipublikasi di Financial Times menunjukkan bahwa orang Amerika (73%) cenderung lebih percaya kepada tuhan/dewa atau makhluk tertinggi dalam bentuk apapun daripada orang Eropa. Di antara orang dewasa Eropa yang disurvei, orang Italia adalah yang paling banyak percaya (62%) dan orang Perancis adalah yang paling rendah (27%). Di Perancis, 32% mengaku dirinya sebagai ateis, dan 32% lainnya mengaku sebagai agnostik (hampir 50% atheis,red). Survei resmi Uni Eropa memberikan hasil-hasil berikut: 18% populasi Uni Eropa tidak percaya pada tuhan; 27% yakin akan keberadaan beberapa "makhluk halus atau roh", manakala 52% percaya pada tuhan-tuhan tertentu. Proporsi orang yang percaya naik menjadi 65% pada orang-orang yang putus sekolah pada usia 15; responden survei yang menganggap dirinya berasal dari latar belakang keluarga yang keras juga lebih cenderung percaya pada tuhan daripada yang merasa dirinya tumbuh di lingkungan tanpa aturan yang keras.
Pada sensus pemerintah Australia pada tahun 2006, pada pertanyaan yang menanyakan Apakah agama anda? Dari keseluruhan populasi, 18,7% mencentang kotak tak beragama ataupun menulis sebuah respon yang diklasifikasikan sebagai non-religius (humanisme, agnostik, ateis). Pertanyaan ini bersifat sukarela dan 11,2% tidak menjawab pertanyaan ini.  Pada sensus Selandia Baru 2006 yang menanyakan Apakah agama anda?, 34,7% mengindikasikan tidak beragama, 12,2% tidak merespon ataupun keberatan untuk menjawab pertanyaan tersebut. ”

Kesempatan (Oportunity)
Dari hasil analisis dan hipotesis saya diatas, dibandingkan dengan hasil riset tersebut menjelaskan Semakin tinggi tingkat intelektual seseorang, maka semakin kuat seseorang untuk mencari Keimanan yang yang mengandung Kebenaran Mutlak melalui sebuah proses pengetahuan. Oleh sebab itu banyak kaum Kristen dan kelompok anti agama yang berusaha menghalangi masuknya Islam ke negara-negara Barat dengan cara propaganda-propaganda teroris, HAM, persamaan Gender (Feminisme), ideologisme Manusia, pembatasan ibadah kaum Muslim di Barat dsb. Karena pada saat masyarakat Barat memiliki kemudahan akses terhadap informasi tentang Islam yang benar, maka dikhawatirkan terjadi Muslimisasi di negara-negara Barat.
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya." (As-Shaff 61:8)
Sebaliknya, semakin rendah tingkat intelektual seseorang, maka semakin banyak orang memilih karena doktrinisasi agama (“Proporsi orang yang percaya naik menjadi 65% pada orang-orang yang putus sekolah pada usia 15”) karena mudah dimanipulasi. Semakin tinggi tingkat intelektual seseorang, maka pencarian dengan ilmu pengetahuan akan kebenaran mutlak semakin dibutuhkan untuk pencapai Keimanan. Artinya bahwa hasil Riset ini menerima hipotesis saya. Bagaimana sebuah hasil riset/survey lagi menegaskan dan membenarkan hipotesis saya (wikipedia) “
“Sebuah surat yang dipublikasi di Nature pada tahun 1998 melaporkan sebuah survei bahwa kepercayaan pada tuhan personal (bersifat manusiawi,red) ataupun kehidupan setelah mati berada dalam posisi terendah di antara para anggota Akademi Sains Nasional AS, hanya 7,0% anggota yang percaya pada tuhan personal, dibandingkan dengan lebih dari 85% masyarakat AS secara umumnya. Pada tahun yang sama pula, Frank Sulloway dari Massachusetts Institute of Technology dan Michael Shermer dari California State University melakukan sebuah kajian yang menemukan bahwa pada sampel survei mereka yang terdiri dari orang dewasa AS yang "dipercayai" (12% Ph.D dan 62% lulusan perguruan tinggi), 64%-nya percaya pada Tuhan, dan terdapat sebuah korelasi yang mengindikasikan menurunnya tingkat kepercayaan seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan. Korelasi yang berbanding terbalik antara keimanan dengan kecerdasan juga telah ditemukan pada 39 kajian yang dilakukan antara tahun 1927 sampai dengan tahun 2002, menurut sebuah artikel dalam Majalah Mensa. Penemuan ini secara luas sesuai dengan meta-analisis statistis tahun 1958 yang dilakukan oleh Profesor Michael Argyle dari Universitas Oxford. Ia menganalisa tujuh kajian riset yang telah menginvestigasi korelasi antara sikap terhadap agama dengan pengukuran inteligensi pada pelajar-pelajar sekolah dan perguruan tinggi AS. Walaupun korelasi negatif ditemukan dengan jelas, analisis ini tidak mengidentifikasi sebab musababnya, namun menilai bahwa faktor-faktor seperti latar belakang keluarga yang otoriter dan kelas sosial mungkin memainkan sebagian peran penting.”

Ancaman (Treath)
Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi 10 sampai 20 tahun yang akan datang, jika fenomena ini terus terjadi. Klaim bahwa negara-negara Barat sebagai Negara mayoritas Kristen sebentar lagi akan sirna, lebih tepatnya lagi Negara-negara Barat lebih condong sebagai Negara yang mayoritas Atheis. Suatu tantangan dan ancaman besar bagi Pemimpin-pemimpin Kristen di Barat mengenai fenomena survey diatas. Di satu sisi mereka berusaha mempertahankan eksistensinya, tetapi disisi lain keyakinan masyarakat Barat semakin merosot terhadap Kristen dan Alkitabnya, ditambah dengan hasil-hasil penemuan Ilmiah yang banyak menggugurkan Kebenaran Mutlaknya. Dan Para Pemimpin Kristen sedang mencari cara/doktrin/propaganda untuk tetap membuktikan bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah Kebenaran Mutlak yang harus bersih dan suci dari noda manusia dan perselisihan ayat. Kebenaran Mutlak dan logis yang justru ditawarkan oleh agama Islam.
Usaha membendung Islam yang dianggapnya sebagai ancaman, karena proses merosotnya keyakinan masyarakat Barat terhadap Kristen justru memberikan peluang kepada agama Islam untuk berkembang disana. Politik “Islamfobia” dengan teori pencitraan media dan propaganda politik terus dilakukan setelah runtuhnya komunisme. Setelah  runtuhnya komunisme, masyarakat Barat mencari musuh baru untuk menciptakan rasa nasionalisme dan persaudaraan seiman umat Kristen dunia, yaitu Islam. Karena tanpa musuh, Nasionalisme itu akan luntur secara perlahan-lahan. Terlebih lagi bagi negara yang menganut Nsionalisme dengan dukungan ekonomi negaranya berasal dari industri Militer atau persenjataan. Islam disamakan seperti ancaman komunisme masa lalu.
Merosotnya Keimanan umat Kristen oleh kaum Atheis sudah diidentifikasi dalam Alquran.
“Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya? Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At Thur 52;41-43)
Belum lagi tingkat dan kualitas pendidikan yang semakin baik di Indonesia. Bagi umat Kristen, jika disadari berdasarkan survey diatas, maka pendidikan adalah sumber ancaman utama bagi umat Kristen. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang yang artinya semakin tinggi rasional dan logis manusia tersebut, maka makin sulitlah doktrin gereja bekerja. Kristen agama yang baik untuk masa kegelapan (kebodohan) seperti masa kaum pagan di Barat. Ditambah dengan teror Laskar Inquisisi, maka Kristen cepat sekali perkembangannya di Barat. Sedangkan bagi Umat Islam, semakin tinggi tingat pendidikan, maka ini bukanlah ancaman melainkan sebaliknya adalah sebuah kesempatan emas yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan.
AlQuran menegaskan :
Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil. (Al-i Imran 3;3)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung Ke...JILID 28 Hal 180-185

Minggu, 03 April 2011

Konsep Keimanan Kristen 2 (JILID 26 Hal 169-174)


Konsep Keimanan Kristen (2)


 Simpulan Gilamologi apapun simpulannya (Empiris, Rasionalis maupun Historis) akan sulit dibuktikan “jejak”nya bahwa Tuhan dalam Alkitab Injil adalah sesuatu yang memiliki sifat Ke-“Maha”-an melebihi apapun di Alam semesta. Hukum Tuhan harus lolos 100% dari uji penyangkalan prinsip falsifabilitas. Apakah sebuah jawaban ilmiah memperbolehkan manusia untuk menjawab dengan menggunakan awalan kata “Yah, itu kan…” (berdasarkan opini pribadi) atau menggunakan kata “Yang penting,…” (keputusasaan ilmiah).
“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (An Nahl 16: 71)
Tuhan bagi umat Kristen dijelaskan dalam bentuk dan sifat-sifat seperti Manusia atau menurut Xenophenes sebagai antropomorfisme (Tuhan dibuat sesuai kehendak manusia dan menyerupai sifat-sifat manusia) agar seolah-olah nyata. Inilah maksud saya menjelaskan diawal bahwa Agama Kristen sudah terkontaminasi oleh Filsafat Ketuhanan Barat.
“Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (Israa 17;22)
Bagi umat Kristen “yang penting” Keimanan Kristen adalah keimanan yang dilingkupi Roh Kudus (doktrin Gereja). Diduga Doktrin Keimanan Kristen dipelopori oleh Paulus (organisasi Ke-Gerejaan) dan mulai dikembangkan pada abad ke-13 oleh Pemikir Kristen Thomas Aquinas (1125-1274). Dimana Ajaran Thomas Aquinas mengajarkan (wikipedia) :
“Thomas mengajarkan Allah sebagai "ada yang tak terbatas" (ipsum esse subsistens). Allah adalah "dzat yang tertinggi", yang memunyai keadaan yang paling tinggi. Allah adalah penggerak yang tidak bergerak. Tampak sekali pengaruh filsafat Aristoteles dalam pandangannya.
Dunia ini dan hidup manusia terbagi atas dua tingkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan ia bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati). "Tabiat kodrati bukan ditiadakan, melainkan disempurnakan oleh rahmat," demikian kata Thomas Aquinas.
Mengenai manusia, Thomas mengajarkan bahwa pada mulanya manusia memunyai hidup kodrati yang sempurna dan diberi rahmat Allah. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, rahmat Allah (rahmat adikodrati) itu hilang dan tabiat kodrati manusia menjadi kurang sempurna. Manusia tidak dapat lagi memenuhi hukum kasih tanpa bantuan rahmat adikodrati. Rahmat adikodrati itu ditawarkan kepada manusia lewat gereja. Dengan bantuan rahmat adikodrati itu manusia dikuatkan untuk mengerjakan keselamatannya dan memungkinkan manusia dimenangkan oleh Kristus.
Mengenai sakramen, ia berpendapat bahwa terdapat tujuh sakramen yang diperintahkan oleh Kristus, dan sakramen yang terpenting adalah Ekaristi (sacramentum sacramentorum). Rahmat adikodrati itu disalurkan kepada orang percaya lewat sakramen. Dengan menerima sakramen, orang mulai berjalan menuju kepada suatu kehidupan yang baru dan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang menjadikan ia berkenan kepada Allah. Dengan demikian, rahmat adikodrati sangat penting karena manusia tidak bisa berbuat apa-apa yang baik tanpa rahmat yang dikaruniakan oleh Allah.
Gereja dipandangnya sebagai lembaga keselamatan yang tidak dapat berbuat salah dalam ajarannya. Paus memiliki kuasa yang tertinggi dalam gereja dan Pauslah satu-satunya pengajar yang tertinggi dalam gereja. Karya teologis Thomas yang sangat terkenal adalah "Summa Contra Gentiles" dan "Summa Theologia".
Salah satu filsuf Kristen yang mengkritik pemikiran Thomas Aquinas adalah Gordon H. Clark. Bukunya "God's Hammer" halaman 67 sampai 71 berisi kritikan beliau terhadap Thomas. Terjemahan bebas saya
"Dalam sejarah pemikiran Kristen, antithesis antara iman dan reason (akal budi) telah didekati dengan berbagai metode. Perdebatan antara sesama Kristen dan antara Kristen dengan kaum sekuler kadang-kadang mengakibatkan kebingungan karena istilah yang dipakai tidak selalu didefinisikan dengan jelas. Bukan hanya Agustinus dan Kant memiliki pandangan yang berbeda tentang natur iman, namun istilah akal budi (reason) sendiri mengandung arti yang bermacam-macam. Setelah memberikan gambaran singkat tentang latar belakang historis, penulis berharap menghindari kebingungan seperti itu dengan mengemukakan definisi akal budi (reason) yang mungkin membantu pembelaan terhadap wahyu sebagai sesuatu yang rasional”.
Upaya Skolastik Abad Pertengahan Dalam gambaran historis singkat ini, metode untuk menghubungkan iman dan rasio yang pertama dibahas adalah filsafat Thomistik Gereja Roma Katolik. Selain persetujuan (assent) pribadi orang percaya, dalam system ini iman artinya informasi yang diwahyukan yang ada dalam Alkitab, tradisi, dan suara hidup dari gereja Roma. Akal budi artinya informasi yang dapat diperoleh melalui pengamatan inderawi terhadap alam dan diinterpretasi intelek. Rasionalis abad ketujuhbelas membedakan akal budi (reason) dengan sensasi [inderawi], Thomas membedakan akal budi (reason) dan wahyu. Kebenaran akal budi adalah kebenaran yang dapat diperoleh melalui kemampuan indera dan intelek alamiah manusia tanpa bantuan anugerah supranatural.
Definisi iman dan akal budi ini mengakibatkan wahyu hanya “tidak masuk akal” (unreasonable) secara verbal; wahyu tidak dapat disebut tidak masuk akal atau irasional dalam pengertian yang merendahkan. Kadang-kadang kita curiga kaum sekuler menggunakan verbalisme untuk memberikan kesan yang menakutkan.
Thomisme memang menekankan ketiadaan kompatibilitas antara iman dan akal budi, namun ketiadaan kompatibilitas itu bersifat psikologis semata. Kalau Alkitab mewahyukan bahwa Allah ada dan kita percaya Alkitab, maka kita memiliki kebenaran iman. Namun demikian, menurut Thomisme adalah memungkinkan untuk mendemonstrasikan keberadaan Allah melalui pengamatan terhadap alam. Aristoteles berhasil melakukannya. Namun, kalau seseorang telah secara rasional mendemonstrasikan proposisi ini, orang itu tidak lagi “percaya”, dia tidak lagi menerima proposisi itu berdasarkan otoritas; dia “mengetahui” proposisi itu. Secara psikologis tidak mungkin pada saat yang sama “percaya” dan “mengetahui” satu proposisi. Seorang guru mungkin memberitahu siswanya bahwa segitiga memiliki 180o dan sang siswa percaya perkataan sang guru; namun setelah si siswa mempelajari buktinya, maka dia tidak lagi menerima teorema berdasarkan kata-kata guru. Si siswa sudah mengetahui sendiri. Tidak semua proposisi wahyu dapat didemonstrasikan dengan filsafat rasional; tetapi ada kebenaran-kebenaran yang dapat didemonstrasikan yang juga telah diwahyukan kepada manusia, karena Allah tahu bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan intelektual seperti Aristotle; karena itu Allah mewahyukan beberapa kebenaran itu, walaupun dapat didemonstrasikan, demi kebanyakan umat manusia.
Muatan (content) wahyu yang tidak dapat didemonstrasikan (seperti doktrin Trinitas dan sakramen), walaupun berada di luar jangkauan akal budi seperti definisi di atas, tidaklah irasional atau nonsensical. Kaum Muhammadean (Islam) Abad Pertengahan dan kaum humanis modern dapat saja mengklaim bahwa doktrin Trinitas tidak rasional, namun akal budi cukup mampu untuk mendemonstrasikan bahwa keberatan yang dikemukakan keliru/salah (fallacious). Kebenaran iman yang lebih tinggi tidak bertentangan dengan kesimpulan akal budi manapun; sebaliknya doktrin wahyu melengkapi apa yang tidak dapat dicapai oleh akal budi. Kedua rangkaian kebenaran ini, atau lebih tepatnya kebenaran yang diperoleh dari dua metode berbeda ini saling melengkapi. Bukannya menjadi penghalang bagi akal budi, iman berfungsi memberi peringatan kepada seorang pemikir bahwa dia melakukan kesalahan. Kita tidak boleh memandang seorang percaya sebagai seorang yang harus dibebaskan dari penjara imannya; iman hanya membatasi dari kesalahan. Dengan demikian iman dan akal budi serasi satu dengan yang lain.
Hanya satu kritik yang akan penulis kemukakan tentang sistem ini, tetapi kritik ini dipandang sangat penting oleh kaum Thomist dan penentangnya. Kalau argumune kosmologis bagi keberadaan Allah merupakan kesalahan logika, maka Thomisme dan pandangannya tentang hubungan antara iman dan akal budi tidak dapat dipertahankan .
Kesulitan yang dialami argumen kosmologis adalah ketidakmemadaian wahyu umum seperti dibahas sebelumnya. Kalau diasumsikan bahwa semua pengetahuan (knowledge) dimulai dengan pengalaman inderawi dan karena itu pada saat orang memandang alam tanpa pengetahuan tentang Allah, maka segala kemalangan (calamities) manusia dan keterbatasan serta perubahan di alam semesta – seberapapun luasnya galaksi-galaksi yang ada – menghalangi kesimpulan tentang satu pribadi Allah yang Mahakuasa dan juga Baik.
Terhadap keberatan-keberatan ini, yang dikemukakan dengan tajam oleh David Hume, dapat ditambahkan kritik khusus formulasi Aristotelian Thomas Aquinas. Tiga keberatan akan dikemukakan. Pertama, Thomisme tidak dapat bertahan tanpa konsep potentialitas (potentiality) dan aktualitas (actuality), namun Aristotle tidak pernah berhasil mendefinisikannya. Sebaliknya dia [Aristotle] mengilustrasikannya dengan perubahan fenomena lalu mendefinisikan perubahan atau gerak (motion) dalam hal aktualitas (actuality) dan potentialitas (potentiality). Untuk memberikan justifikasi terhadap keberatan ini, diperlukan terlalu banyak apparatus teknis yang tidak bisa diakomodasi dalam tulisan ini. Dan kalau pembaca menghendaki, dia tidak perlu memberi penekanan pada keberatan pertama.
Kedua, Thomas berargumentasi bahwa kalau kita melacak penyebab gerak (motion), kita tidak dapat meneruskan berjalan mundur tanpa batas. Alasan yang secara eksplisit diberikan dalam Summa Theologica untuk menyangkali hal itu adalah kalau hal itu terjadi maka tidak akan ada Penggerak/Penyebab Pertama (First Mover). Namun alasan yang digunakan sebagai premis ini jugalah yang digunakan sebagai kesimpulan di akhir argumen. Argumen ini dimaksudkan untuk membuktikan keberadaan First Mover, namun First Mover ini diasumsikan dulu sebagai sesuatu yang ada untuk menolak infinite regress (mundur tidak terbatas). Karena itu jelas argumen ini adalah sebuah kekeliruan (fallacy).
Alasan ketiga yang akan kita bahas lebih rumit. Namun karena terkait dengan hal yang banyak diperdebatkan saat ini, maka pantas diberikan perhatian lebih.
Bagi Thomas Aquinas, ada dua cara mengenal Allah. Pertama melalui teologi negatif. Hal itu tidak akan kita bahas di sini. Kedua melalui metode analogi. Karena Allah adalah pure being, tanpa bagian, yang esensiNya identik dengan keberadaanNya, maka istilah-istilah yang diterapkan pada Allah tidak dapat digunakan tepat dengan cara yang sama dengan pada saat diterapkan pada ciptaan. Kalau dikatakan bahwa seorang manusia bijaksana dan Allah bijaksana, harus diingat bahwa kebijaksanaan manusia adalah kebijaksanaan yang diperoleh/dipelajari, sementara itu Allah tidak pernah belajar. Pikiran manusia tunduk kepada kebenaran; kebenaran adalah pimpinannya. Namun pikiran Allah adalah penyebab kebenaran karena Allah memikirkannya, atau mungkin lebih baik diformulasikan, Allah adalah kebenaran. Karena itu istilah pikiran tidak memiliki arti yang tepat sama pada manusia dan pada Allah. Hal ini tidak hanya berlaku untuk istilah-istilah di atas, tetapi juga pada gagasan tentang eksistensi. Karena keberadaan Allah adalah esensiNya – identitas yang tidak dapat diduplikasikan- maka bahkan kata keberadaan (existence) tidak berlaku sama (univocal) pada Allah dan pada ciptaan.
Pada saat yang sama, Thomas tidak mengakui bahwa istilah-istilah itu juga memiliki arti berbeda sama sekali (equivocal). Pada saat dikatakan bahwa playboys lead fast lives, while ascetics fast, kata [fast] dalam kedua anak kalimat itu tidak memiliki arti yang sama. Walaupun huruf-huruf dan pengucapannya sama, kandungan intelektual dalam kedua anak kalimat itu berbeda sama sekali. Thomas memilih jalan tengah antara perbedaan makna (equivocation) dan kesatuan makna ketat (strict univocity) dengan mengatakan bahwa kata-kata bisa digunakan secara analogis; dan dalam hal Allah dan manusia, predikat yang digunakan diterapkan secara analogis.
Jika makna analogis dari bijaksana atau keberadaan memiliki bidang arti yang sama [bagi manusia dan Allah], maka bidang arti ini pasti dapat dikemukakan dengan menggunakan satu istilah yang berlaku untuk keduanya. Istilah ini dapat digunakan untuk Allah dan untuk manusia. Namun Thomas menekankan bahwa tidak ada istilah yang dapat diterapkan demikian. Implikasinya adalah semua sisa kemungkinan makna identik di antara keadaan terhapus. Namun kalau memang demikian adanya, bagaimana sebuah argument – argument kosmologis – secara formal syah kalau premis menggunakan satu istilah dengan pengertian tertentu dan dalam kesimpulannya menggunakan istilah yang sama dengan arti yang berbeda sama sekali? Premis argument kosmologis berbicara tentang eksistensi penggerak/penyebab (mover) dalam kisaran pengalaman manusia; kesimpulannya terkait dengan keberadaan Penggerak/Penyebab Pertama. Namun, jika istilah ini tidak dapat dipahami dengan pengertian yang sama, maka argument tersebut keliru/salah (fallacious).
Karena itu, upaya untuk secara Thomistik menghubungkan iman dan akal budi gagal – lebih karena pandangannya tentang akal budi dari pada terhadap iman-; perlu ada upaya lain untuk membela rasionalitas wahyu.”

Menariknya dari ajaran Thomas Aquinas ini adalah pernyataan bahwa Gereja dan Ke-pausan adalah lembaga yang “tidak pernah” salah. Tetapi disisi lain seminar-seminar yang diadakan oleh umat Kristen menemukan banyak kesalahan dalam Alkitab nya. Hal yang tidak masuk diakal, dimana Alkitabnya sebagai landasan dasar gereja dinyatakan salah 82%, tetapi lembaga Gereja dan Paus-nya menyatakan tidak pernah salah. Apakah ini kontradiksi? Apakah doktrin gereja ini berasal dari Alkitab atau pemikiran manusia yang berada pada lembaga Gereja/Kepausan demi kepentingan sesuatu?
“Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hati (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha mengehui segala sesuatu. (An Nur 24;64)
Pendekatan Iman akibat Proses Belajar dan Keimanan yang didapatkan dari Dogma suatu institusi tertentu tentunya akan menghasilkan tingkat keimanan yang berbeda.
Janganlah kamu kira bahwa orang-orang yang kafir itu dapat melemahkan (Allah dari mengazab mereka) di bumi ini, sedang tempat tinggal mereka (di akhirat) adalah neraka. Dan sungguh amat jeleklah tempat kembali itu.” ( An Nur 24:57)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung Ke...JILID 27 Hal 174-180

Konsep Keimanan Kristen 1 (JILID 25 Hal 165-169)


Konsep Keimanan Kristen (1)

Sedangkan Keimanan Kristen dinyatakan sebagai sebuah Doktrin yang harus dipatuhi oleh kaumnya untuk langsung MENG-IMAN-I agamanya terlebih dahulu atas nama Tuhan Yesus Kristus (tanpa proses), kemudian proses pemahamannya akan melalui Hermeneutika dan doktrin gereja atau ahli kitabnya. Dengan tegas Alkitab Injil mengatakan :
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat “ (Ibrani 11:1)
Bagaimanapun Kristen dibandingkan Islam lebih dahulu dikenal sebagai agama samawi yang dikenal oleh Kebudayaan Barat yang pada saat itu sudah bosan dengan pencarian Tuhan dengan agama Paganisme mereka. Tetapi Dari pernyataan Iman Kristen dalam ayat Alkitab Injil inilah, tidak salah jika ada gerakan rasionalis yang menentangnya. Bagaimana manusia akan mengimani bersamaan dengan pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya belum terjawab bahkan mungkin terjadi konflik rasional dalam otaknya mulai bekerja. Alkitab Injil yang dianggap sebagai Kitab Suci umat Kristen, terseok-seok menghadapi gerakan-gerakan ini.
Gerakan Rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Kemudian diikuti oleh gerakan Empirisme. Empirisme menyatakan bahwa pengalaman adalah asal dari segala pengetahuan. Empirisme melahirkan ide tentang Materialisme. Menurut Hobbes, filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat berupa fakta yang dapat diamati. Segala yang ada ditentukan oleh sebab tertentu, yang mengikuti hukum ilmu pasti dan ilmu alam. Yang nyata adalah yang dapat diamati oleh indera manusia, dan sama sekali tidak tergantung pada rasio manusia (bertentangan dengan rasionalisme). Dan Kitab Suci Alkitab tidak dapat membuktikan dirinya sebagai Bukti Empiris yang merupakan hasil perbuatan (objek) dari sifat ke-Maha-an Logos (Tuhan).
Pertentangan yang cukup dalam pada Kebudayan Barat antara kaum Religius (agama samawi), Rasionalis dan Empiris, yang kemudian diikuti oleh perkembangan kaum Atheis dan pendukung tradisional Paganis dimasa-masa abad pertengahan. Sehingga sekarang ini gelombang bangsa Barat menjadi Atheis semakin besar, ditambah dengan gerakan-gerakan bawah tanah kaum materialisme dan organisasi sempalan Gereja.
Jika kita komparasikan ayat Ibrani 11;1 dengan Hadist Rasul Nabi Muhammad dari Abu Huairah, maka pemahaman IMAN dalam Kristen itu adalah pemahaman IHSAN dalam Islam. Jadi selama ini terjadi atau ada perbedaan pemahaman secara etimologi (definisi) “Iman” antara keimanan Kristen dengan Islam. Konsep Iman Kristen itu sama dengan Konsep Ihsan dalam Islam, tetapi jauh dalam tingkatannya. Iman bagi Kristen adalah sebagai tujuan akhir, sedangkan bagi umat Islam Iman adalah bagian dari sebuah proses, dimana tujuan akhirnya adalah Ihsan.
Analoginya adalah, bagaimana seseorang yang akan naik ke atas sebuah tiang. Jika manusia bisa naik keatas tiang tertinggi, maka dia akan mudah memahami dan melihat lingkungannya lebih jelas (Iman dalam Kristen atau Ihsan dalam Islam). Umat Islam menyarankan untuk memanjat dari bawah, ikuti prosesnya, taat dan taqwa dalam menjalaninya, dan belajar dari orang (Nabi Muhammad) yang sudah berpengalaman memanjat tiang tersebut. Sedangkan umat Kristen menyarankan supaya manusia harus berada diatas tiang dulu baru akan memahaminya. Bagaimana manusia akan sampai atas, jika dia tidak memanjatnya dari bawah terlebih dahulu? Apakah umat Kristen memahami Iman sebagai bentuk Imajinasi manusia yang berada di bawah, kemudian membayangkan dirinya sudah diatas (Iman Kristen), kemudian tinggal dengarkan cerita dari pendeta tentang bagaimana suasana diatas tiang dan apa yang dilihat pendeta (Doktrin)? Dan percayalah Gereja dan pendeta tidak pernah salah, karena sudah dipenuhi oleh Roh Kudus.
Perbedaan ini juga akan nyata pada saat umat Kristen mulai bertanya dan mempertanyakan soal Keimanan kepada ahli agamanya. Jika umat Kristen mempertanyakan masalah-masalah kritis Keimanan dalam Kitab Sucinya, maka manusia tersebut akan dianggap tidak dilingkupi Roh Kudus/Ke-Terang-an Tuhan Yesus (Kafir). Artinya dalam Kristen, manusia harus beriman dahulu, soal memahami alkitab dan ilmu pengetahuan nanti akan ditentukan oleh Roh Kudus yang datang pada manusia itu atau tidak, dan jika nanti dinyatakan oleh Tuhan Yesus. Keimanan Kristen adalah hadirnya Roh Yesus secara nyata kedalam diri tiap Kristen, dan mungkin hadir dalam “bahasa Roh” (Kesurupan kalau dalam agama Islam). Pengetahuan keimanan Kristen akan hadir bersamaan masuknya roh kudus kedalam diri manusia tersebut. Bagi umat Kristen ada pemisahan yang jelas antara ilmu pengetahuan dengan Keimanan. Dalam Alkitab menurut umat Kristen tidak berisi ilmu pengetahuan.
“Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. “(Al Anam 6;100)
Keimanan Kristen bukanlah sebuah panduan hidup yang berisikan juga konsep ilmu pengetahuan. Alkitab Injil dianggap oleh umat Kristen sendiri bukanlah sumber ilmu pengetahuan. Keimanan Kristen tidak dapat didekati oleh ilmu pengetahuan, karena menurut kaum Kristen, Kitab Suci Alkitab hanya cerita dari saksi-saksi manusia tentang perjalanan Tuhan yang menjadi manusia. Alkitab Injil hanya dapat dipahami oleh Keimanan Kristen itu sendiri. Artinya pula, jika anda menemukan hal-hal yang tidak logis, ragu-ragu maupun logis, hal ini akan sama saja dimata umat Kristen.
Berdasarkan penjelasan tentang teori dan hukum yang saya jelaskan, Alkitab Injil secara jelas memperlihatkan hukum Tuhan dalam ayat:
“Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (Markus 12;29)
Kemudian Konsili-konsili yang dilakukan pada abad berikutnya mengeluarkan Hukum Trinitas yang merupakan hukum kesepakatan manusia. Apakah dalam keimanan Kristen, Hukum Tuhan dapat digugurkan oleh hukum manusia? Mana yang umat Kristen yakini, percaya dan Imani,  Hukum Tuhan atau Hukum Manusia? Secara ilmiah, Apakah hukum alam dapat digugurkan secara serta-merta oleh teori atau hipotesis baru manusia tanpa pengujian terlebih dahulu? Mana yang dijadikan landasan hukumnya, Alkitab yang menyatakan dengan tegas dan jelas sebagai Hukum terutama, atau kesepakatan para ahli agama?
Seringkali umat Kristen menjawab bahwa kontradiksi atau perselisihan dalam penceritaan perjalanan Tuhan itu seperti beberapa wartawan yang meliput dan ceritanya tidak harus sama. Tentu saja secara rasional dan logis itu seolah-olah bisa diterima, tetapi wartawan yang meliput satu peristiwa yang sama tentunya “substansi” peristiwanya haruslah sama. Sedangkan tentang metode atau gaya penulisan memang bisa berbeda. Misalnya, Apakah logis bila seorang wartawan satu mengatakan bahwa “Yudas mati gantung diri” yang lainnya mengatakan “Yudas mati dengan isi perutnya keluar”. Kemudian kedua wartawan tersebut adalah teman seperguruan yang setiap hari bertemu muka dan dapat saling mengkonfirmasi peliputannya.
Sedangkan umatnya sekarang akhirnya dengan cerdas menjelaskan teori yang begitu detail tentang bagaimana sejarah kebiasaan bunuh diri dari bangsa Israel yaitu dengan menggunakan kuda dengan sudah mempersiapkan tali di lehernya pada salah satu ujungnya dan ujung lainnya diikatkan kait. Kemudian kuda itu berlari dan si pelaku akan melemparkan tali yang ujungnya pengait tersebut serta berharap kaitnya akan terkait di pohon dan dia tergantung hingga mati. Tetapi dalam kasus Yudas, kaitnya gagal mengait dan dia terjatuh serta perutnya terkena kait sehingga isi perutnya keluar.
Begitu hebat dan detailnya dalam membuat tafsir opini pada kedua ayat tersebut supaya tidak terlihat ada kontradiksi, tetapi mengapa begitu sulit dalam menjelaskan kaitan antara Konsep hukum Tuhan dan Hukum Manusia? Hebat dalam membuat sebuah kaitan tentang ayat-ayat yang jelas mengandung kontradiksi, tetapi tidak dapat tegas menjelaskan kaitan dan perbedaan antara kata “Firman Tuhan” dalam pembuka Alkitab Injil dengan kata  “Cerita Manusia”. Metode berpikir yang menggunakan standar ganda dalam Keimanan Kristen dalam upaya memepertahankan kebenaran dari penyangkalan prinsip Falsifabilitas.
“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (Al Israa 17;15)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung Ke...JILID 26 hAL 169-174

Sabtu, 02 April 2011

Konsep Keimanan Islam 2 (JILID 24 Hal 160-165)


Konsep Keimanan Islam (2)

Tingkatan terakhir adalah Keimanan dalam tingkatan Marifat, inilah proses yang akan dilalui oleh umat Islam dalam Proses dari MEMAHAMI sampai menjadi MENG-IMAN-I. Proses antara Memahami dan mengimani inilah yang disebut dengan YAKIN. Tingkatan Iman yang ada pada tingkatan ini disebut sebagai “Haqqul Yaqin”.
Sama seperti contoh diatas, jika kita ajukan pertanyaan kepada tingkatan Marifat, Mengapa Shalat harus sujud? Selain jawaban syariat dan hakikat diatas, maka Kaum Marifat akan menjelaskan Ibadah Shalat itu sendiri dikaitkan dengan nilai-nilai Kehidupan manusia secara luas dan dalam (Holistis) dan dengan Penciptaan alam semesta (Keilahian). Pada tingkatan ini, orang ini biasanya akan menyesuaikan pembicaraanya dengan level dari lawan pembicaranya. Jika lawan bicaranya dinilai sebagai seorang Syariat/tarekat, maka orang ini akan menyesuaikan dengan kemampuannya, sambil sedikit ditambah dengan pemahaman hakikat dan marifatnya. Jadi jangan disalah artikan bahwa orang yang masih dalam tingkatan syariat dan tarekat adalah bukan orang yang tidak beriman. Ingat bahwa semenjak mengucapkan kalimah Syahadat (Tauhid), umat Islam sudah masuk kedalam proses keimanannya (Mukmin/manusia yang beriman), hanya kadarnya saja yang berbeda. Artinya proses Iman bertingkat itu hanya untuk memahami distingsi kadar keimanannya dan ketaqwaan dalam ajaran Islam.
“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),”( Al Inshiqaq 84;19)
Tingkatan diatas bukanlah suatu beban, tetapi disesuaikan dengan kemampuan atau kesanggupan masing-masing.
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta'atlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [At Taghabun 64:16]
Artinya Islam memberikan pilihan kepada manusia, dimana secara kodrat manusia dari sisi akal budinya akan berproses.
”Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya...” [Al Mu'minuun:62]
Dan melalui proses akal budi inilah, Islam meyakini manusia akan menemukan kebenaran dalam Islam dengan Kitab Suci AlQurannya dengan Taufiq Hidayah dari Allah SWT.
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)."(Al Baqara 2;272)
Dari ayat diatas juga ditunjukan bahwa apapun yang ada di alam semesta ini hanyalah Milik Allah. Manusia hanya mendapatkan titipan-Nya. Sehingga apapun yang dilakukan manusia haruslah melalui dan diridhoi pemilikNya. Belajarlah terus maka manusia akan menemukan Islam dalam kehidayahan-Nya. Karena Alquran berisi panduan hidup lengkap yang melingkupi didalamnya adalah ilmu pengetahuan. Panduan yang berisi pengetahuan dan bimbingan kehidupan sejak manusia dilahirkan sampai nanti dimatikan dan dibangkitkan kembali.
“dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.”(An Nisaa 4;68)
Dalam hal berpikirpun umat Islam sudah jelas sikapnya terhadp hukum yang belaku pada Alquran, jikalau Tidak Logis =  Tinggalkan = Haram, Ragu-ragu = Abaikan atau Konsultasikan dengan ahli agama, Logis = Yakini = Imani.= Halal.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Israa 17;36)
Dalam AlQuran jelas ditegaskan apabila perdebatan muncul atau keragu-raguan muncul dan bagaimana sebuah hidayah hadir :
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (An Nisaa 4;83)
Perdebatan tentang Keimanan juga akan dijawab oleh AlQuran sendiri :
“Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam". Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Al-I Imran 3;20)
Sebuah cerita pengalaman proses keimanan yang didapatkan penulis dari www.dakwatuna.com (keyword: Maryam Jameelah), tentang proses keimanan seorang Intelektual Wanita Yahudi menjadi Muslim (Mualaf) :
“…Maryam Jameelah, seorang intelektual, penulis di bidang agama, filsafat, sejarah dan peradaban. Ia meyakini teks-teks Al-Qur’an dengan keimanan yang dalam. Pemikiran Barat pun mendapat pukulan balik darinya.
Lahir di New York, Amerika Serikat, 3 Mei 1934. Sebelum masuk Islam, ia bernama Margaret Marcus. Dia seorang pemikir dari keluarga Yahudi yang dibesarkan dalam masyarakat multinasional, New York City.
“Seandainya ada pertanyaan kepadaku bagaimana mengetahui perihal Islam? Aku hanya mampu menjawab, pengalaman pribadikulah yang mengantarkan pada keyakinanku. Keteguhanku akan aqidah Islam datang secara perlahan dan tenang namun penuh keyakinan.”
Lewat bacaannya terhadap literatur sejarah bangsa Arab, dia menemukan bahwa Islam besar dan agung bukan karena bangsa Arab, tapi justru orang Arab menjadi beradab karena Islam. Pemikiran Maryam dipengaruhi oleh Abul A’la Al-Maududi. Beliau telah membimbing Maryam memahami Islam lewat korespondensi sejak Desember 1960 sebelum dia masuk Islam hingga Mei 1962 dan akhirnya hijrah ke Pakistan.
Maryam Jameelah tidak pernah kendur menghadapi para penghujat Islam. Sikap kritisnya terhadap paham sekularisme dan materialisme dari dulu hingga kini demikian gigihnya. Itu ditunjukkan dengan usaha yang tidak mengenal penat dan lelah terhadap cita-cita luhur dan agung ini. Tokoh mujahidah ini mengangkat Islam sebagai satu jawaban paling tepat dan merupakan satu-satunya kebenaran yang dapat memberi petunjuk, tujuan serta nilai pada persoalan hidup dan mati…”

Perhatikan baik-baik cerita diatas, Apakah seseorang masuk keimanan Islam karena cerita bertemu dengan “penampakan” (mistik)? Apakah karena bertemu dengan penampakan muka Tuhan (seperti manusia) atau malaikat atau atau dinyatakan oleh sesuatu atau hal mistis lainya? Karena cerita mimpi atau pengalaman gaib lainya? Karena doktrin agama Islam? Apakah karena menjelekan atau mencaci-maki agama lain (agama sebelumnya)? Apakah Seorang masuk Islam karena sekedar iming-iming surga dan pahala? Apakah karena ditakut-takuti dosa dan neraka? Karena iming-iming harta? Ataukah karena proses Keimanan seperti yang saya ceritakan diatas? Atau karena keinginannya sendiri untuk belajar dan berkorespodensi dengan orang yang menurutnya  mumpuni untuk diajak berdiskusi secara ilmiah, karena latar belakangnya seorang intelektual? Apakah karena hal mistis atau logis dan rasional?
Hati-hati karena cerita dan artikel Gilamologi ini, jika ada yang memulai perang konsep dengan Umat Muslim, jangan dipikirkan bahwa umat Muslim hendak menjadikan dan memaksa anda  masuk Islam. Gilamologi hanya mengingatkan kepada mereka yang mendustakan dan meniadakan Tuhan, akan ada sesuatu yang mereka alami dari tempat yang mereka tidak sadari.
“Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.” (An Nahl 16;26)
Justru andalah yang nanti akan memutuskan untuk mempelajari Islam dan mendapatkan hidayah Allah SWT dengan caranya sendiri.
“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangkasangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath Thalaaq:3]
Jika seseorang akan masuk atau keluar dari Islam, Apa yang akan dilakukan oleh Umat Muslim? Berbahagiakah atau langsung dibunuhnya? Tidak dua-duanya. Semua umat Muslim pasti akan melakukan hal yang sama, dimulai dengan pertanyaan, Apakah anda sudah yakin? Lebih baik pelajari dulu dan pikirkan baik-baik, serta memberikan literatur Islam yang mungkin dia masih salah persepsi dengan itu.  Setelah semua benar-benar dari dalam dirinya, biarkanlah itu sebagai pilihannya sendiri. Hal ini adalah pengalaman saya terhadap 2 orang teman wanita saya yang menjadi murtad, karena menikah dengan non muslim. Tetapi alhamdulilah sekarang menjadi Muslim kembali. Yang satu bercerai dan menikah kembali dengan muslim. Sedangkan yang satunya lagi, justru bisa membawa suaminya menjadi Mualaf. Dan 7 orang teman saya laki-laki dari agama lain yang menjadi Mualaf sampai sekarang. Dan Alhamdulilah, teman (dosen) saya yang saya ceritakan di milist juga sudah memutuskan untuk menjadi Mualaf.
Baru-baru ini saya juga menghadiri reuni (SMP dan SMA), ternyata 12 orang teman saya non Muslim menjadi Mualaf. Ada 3 orang diantaranya yang wanita yang langsung/sudah memakai jilbab dan salah seorangnya membuat saya kaget karena dulu ia mantan pengurus rohani Kristen (Saya tahu karena saya mantan OSIS). Ada dua orang wanita Muslim rekan saya lainnya yang menikah dengan laki-laki “Impor” yang menjadi Mualaf. Karena hal ini sempat mengejutkan saya, maka saya coba mencari informasi dari rekan-rekan, adakah rekan kita yang Murtad? Mohon maaf, hasilnya nihil.
Subhanallah..
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maa-idah 49-50)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung Ke...JILID 25 Hal 165-169