ARTIKEL GILAMOLOGI

Assalamulaikum Wr.Wb… اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

BERAT/MASSA MATERI (ZAT/SEL) ALAM SEMESTA SELALU SAMA?

(Gilamologi Sebuah Kajian Alternatif Filsafat Bebas)

By: Filsuf Gila

Bismillahhirohmanirohim… بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya,”

(Al Hajr 22;8)

"Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?"

(Al Anbiyaa 21;10)

“Ini lah (Qur’an) pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang sungguh-sungguh meyakininya."

(Al-Jathiya 45: 20)

“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”

(Injil 1 Tesalonika. 5:21)

“Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu laku-kan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.” (Ulangan 12:32)

ISLAM AJARAN TAUHID

ISLAM AJARAN TAUHID
"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (Al Ikhlas 112;1-4)

Senin, 07 Maret 2011

Pendekatan Analisis Informasi, Analisis Kesesatan Berpikir dan Teori-teori Gilamologi. (JILID 13 Hal 86-96)


Pendekatan Analisis Informasi, Analisis Kesesatan Berpikir dan Teori-teori Gilamologi.
 
Pada saat saya sampaikan tulisan ini, sesuai dengan apa yang sudah saya ceritakan dari awal, bahwa sumber informasi berasal dari email, artikel dan sebagainya, perlulah dikaji dan dianalisis terlebih dahulu informasi tersebut. Analisis yang akan dipakai dalam Analisis Informasi adalah analisis komparasi pustaka, baik secara manusal maupun tehnologi (internet). Gilamologi juga adalah alat cermin bagi mreka yang berpikir dan terlibat diskusi dalam Milist. Beberapa analisis yang dilakukan terhadap metode berpikir dan pola tingkah laku para peserta Milist. Kemudian hasil analisis itu juga akan dianalisis metode berpikir dengan analisis dan pendekatan teori Kesesatan Berpikir. Teori Kesesatan berpikir itu antara lain (wikipedia):
KESESATAN BERPIKIR/LOGIKA
Kesesatan adalah kesalahan yang terjadi dalam aktivitas berpikir karena penyalahgunaan bahasa (verbal) dan/atau relevansi (materi). Kesesatan (fallacia, fallacy) merupakan bagian dari logika yang mempelajari beberapa jenis kesesatan penalaran sebagai lawan dari argumentasi logis. Kesesatan karena ketidaktepatan bahasa antara lain disebabkan oleh pemilihan terminologi yang salah sedangkan ketidaktepatan relevansi bisa disebabkan oleh:
(1) pemilihan premis yang tidak tepat (membuat premis dari proposisi yang salah), atau
(2)  proses penyimpulan premis yang tidak tepat (premisnya tidak berhubungan dengan kesimpulan yang akan dicari).
Klasifikasi Kesesatan
Dalam sejarah perkembangan logika terdapat berbagai macam tipe kesesatan yang dalam penalaran. Walaupun model klasifikasi kesesatan yang dianggap baku hingga saat ini belum disepakati para ahli, mengingat cara bagaimana penalaran manusia mengalami kesesatan, sangat bervariasi, namun secara sederhana kesesatan dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu kesesatan formal dan kesesatan material.
Kesesatan Formal
Kesesatan formal adalah kesesatan yang dilakukan karena bentuk (formal) penalaran yang tidak tepat atau tidak sahih. Kesesatan ini terjadi karena pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logika mengenai term dan proposisi dalam suatu argumen (lihat hukum-hukum silogisme).
Kesesatan Material
Kesesatan material adalah kesesatan yang terutama menyangkut isi (materi) penalaran. Kesesatan ini dapat terjadi karena faktor bahasa (kesesatan bahasa) yang menyebabkan kekeliruan dalam menarik kesimpulan, dan juga dapat teriadi karena memang tidak adanya hubungan logis atau relevansi antara premis dan kesimpulannya (kesesatan relevansi). Setiap kata dalam bahasa memiliki arti tersendiri, dan masing-masing kata itu dalam sebuah kalimat mempunyai arti yang sesuai dengan arti kalimat yang bersangkutan. Maka, meskipun kata yang digunakan itu sama, namun dalam kalimat yang berbeda, kata tersebut dapat bervariasi artinya. Ketidakcermatan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat itu dapat menimbulkan kesesatan penalaran.

Kesesatan Bahasa

Setiap kata dalam bahasa memiliki arti tersendiri, dan masing-masing kata dalam sebuah kalimat mempunyai arti yang sesuai dengan keseluruhan arti kalimatnya.
Maka, meskipun kata yang digunakan itu sama, namun dalam kalimat yang berbeda, kata tersebut dapat bervanasi artinya. Ketidakcermatan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat itu dapat menimbulkan kesesatan penalaran. Berikut ini adalah beberapa bentuk kesesatan karena penggunaan bahasa

Kesesatan Aksentuasi

Pengucapan terhadap kata-kata tertentu perlu diwaspadai karena ada suku kata yang harus diberi tekanan. Perubahan dalam tekanan terhadap suku kata dapat menyebabkan perubahan arti. Karena itu kurangnya perhatian terhadap tekanan ucapan dapat menimbulkan perbedaan arti sehingga penalaran mengalami kesesatan.
Kesesatan aksentuasi verbal
Contoh:
* Serang (kota) dan serang (tindakan menyerang dalam pertempuran)
§         Apel (buah) dan apel bendera (menghadiri upacara bendera)
§         Mental (kejiwaan) dan mental (terpelanting)
§         Tahu (masakan, makanan) dan tahu (mengetahui sesuatu)
Kesesatan aksentuasi non-verbal
Contoh sebuah iklan:
"Dengan 2,5 juta bisa membawa motor"
Mengapa bahasa dalam iklan ini termasuk kesesatan aksentuasi non-verbal (contoh kasus):
Karena motor ternyata baru bisa dibawa (pulang) tidak hanya dengan uang 2,5 juta tetapi juga dengan menyertakan syarat-syarat lainnya seperti slip gaji, KTP, rekening listrik terakhir dan keterangan surat kepemilikan rumah.
Contoh ungkapan:
Apa dan Ha
memiliki arti yang berbeda-beda bila:
* diucapkan dalam keadaan marah
§         diucapkan dalam keadaan bertanya
§         diucapkan untuk menjawab panggilan.

Kesesatan Ekuivokasi

Kesesatan ekuivokasi adalah kesesatan yang disebabkan karena satu kata mempunyai lebih dari satu arti. Bila dalam suatu penalaran terjadi pergantian arti dari sebuah kata yang sama, maka terjadilah kesesatan penalaran.
Kesesatan Ekuivokasi verbal
Adalah kesesatan ekuivokasi yang terjadi pada pembicaraan dimana bunyi yang sama disalah artikan menjadi dua maksud yang berbeda.
Contoh:
* bisa (dapat) dan bisa (racun ular)
Seorang pasien berkebangsaan Malaysia berjumpa dengan seorang dokter Indonesia. Setelah diperiksa, doktor memberi nasihat, "Ibu perlu menjaga makannya."
Sang pasien bertanya, "Boleh saya makan ayam?". Sang dokter menjawab "Bisa."
Sang pasien bertanya, "Boleh saya makan ikan?". Sang dokter menjawab "Bisa."
Sang pasien bertanya, "Boleh saya makan sayur?". Sang dokter menjawab "Bisa."
Sang pasien merasa marah lalu membentak "Kalau semua bisa (beracun), apa yang saya hendak makan...?”
Kesesatan Ekuivokasi non-verbal
Contoh:
* Menggunakan kain/ pakaian putih-putih berarti orang suci. Di India wanita yang menggunakan kain sari putih-putih umumnya adalah janda
§         Bergandengan sesama jenis pasti homo
§         Menggelengkan kepala (berarti tidak setuju), namun di India menggelengkan kepala dari satu sisi ke sisi yang lain menunjukkan kejujuran

Kesesatan Amfiboli

Kesesatan Amfiboli (gramatikal) adalah kesesatan yang dikarenakan konstruksi kalimat sedemikian rupa sehingga artinya menjadi bercabang. Ini dikarenakan letak sebuah kata atau term tertentu dalam konteks kalimatnya. Akibatnya timbul lebih dari satu penafsiran mengenai maknanya, padalahal hanya satu saja makna yang benar sementara makna yang lain pasti salah.
Contoh:
Dijual kursi bayi tanpa lengan.
§         Arti 1: Dijual sebuah kursi untuk seorang bayi tanpa lengan.
§         Arti 2: Dijual sebuah kursi tanpa dudukan lengan khusus untuk bayi.
Penulisan yang benar adalah: Dijual kursi bayi, tanpa lengan kursi.
Contoh lain:
Kucing makan tikus mati.
§         Arti 1: Kucing makan, lalu tikus mati
§         Arti 2: Kucing makan tikus lalu kucing tersebut mati
§         Arti 3: Kucing sedang memakan seekor tikus yang sudah mati.

Kesesatan Metaforis

Disebut juga (fallacy of metaphorization) adalah kesesatan yang terjadi karena pencampur-adukkan arti kiasan dan arti sebenarnya. Artinya terdapat unsur persamaan dan sekaligus perbedaan antara kedua arti tersebut. Tetapi bila dalam suatu penalaran arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya maka terjadilah kesesatan metaforis, yang dikenal juga kesesatan karena analogi palsu.
Contoh:
Pemuda adalah tulang punggung negara.
Penjelasan kesesatan: Pemuda disini adalah arti sebenarnya dari orang-orang yang berusia muda, sedangkan tulang punggung adalah arti kiasan karena negara tidak memiliki tubuh biologis dan tidak memiliki tulang punggung layaknya mahluk vertebrata.
Pencampur adukan anti sebenarnya dan anti kiasan dari suatu kata atau ungkapan ini sering kali disengaja seperti yang terjadi dalam dunia lawak Kesesatan metaforis ini dikenal pula dengan nama kesesatan karena analogi palsu
Lelucon dibawah ini adalah contoh dari kesesatan metaforis:
Pembicara 1: Binatang apa yang haram?
Pembicara 2: Babi
P 1:   Binatang apa yang lebih haram dari binatang yang haram?
P 2:   ?
P 1:   Babi hamil! Karena mengandung babi. Nah, sekarang binatang apa yang paling haram? Lebih haram daripada babi hamil?
P 2:   ?
P 1:   Babi hamil di luar nikah! Karena anak babinya anak haram..

Kesesatan Relevansi

Kesesatan Relevansi adalah sesat pikir yang terjadi karena argumentasi yang diberikan tidak tertuju kepada persoalan yang sesungguhnya tetapi terarah kepada kondisi pribadi dan karakteristik personal seseorang (lawan bicara) yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan isi argumennya.
Kesesatan ini timbul apabila orang menarik kesimpulan yang tidak relevan dengan premis nya. Artinya secara logis kesimpulan tersebut tidak terkandung dalam/ atau tidak merupakan implikasi dari premisnya.
Jadi penalaran yang mengandung kesesatan relevansi tidak menampakkan adanya hubungan logis antara premis dan kesimpulan, walaupun secara psikologis menampakkan adanya hubungan - namun kesan akan adannya hubungan secara psikologis ini sering kali membuat orang terkecoh.

Argumentum ad Hominem 1

Argumentum ad hominem adalah argumen diarahkan untuk menyerang manusianya secara langsung. Penerapan argumen ini dapat menggambarkan tindak pelecehan terhadap pribadi individu yang menyatakan sebuah argumen.
Hal ini keliru karena ukuran logika dihubungkan dengan kondisi pribadi dan karakteristik personal seseorang yang sebenarnya tidak relevan untuk kebenaran atau kekeliruan isi argumennya.
Argumen ini juga dapat menggambarkan aspek penilaian psikologis terhadap pribadi seseorang. Hal ini dapat terjadi karena perkbedaan pandangan.
Ukuran logika (pembenaran) pada sesat pikir argumentum ad hominem 1 adalah kondisi pribadi dan karakteristik personal yang melibatkan: gender, fisik, sifat, dan psikologi.
Contoh 1:
Tidak diminta mengganti bohlam (bola lampu) karena seseorang itu pendek.
Kesesatan: tingkat keberhasilan pergantian sebuah bola lampu dengan menggunakan alat bantu tangga tidak tergantung dari tinggi/ pendeknya seseorang.
Contoh 2:
Seorang juri lomba menyanyi memilih kandidat yang cantik sebagai pemenang, bukan karena suaranya yang bagus tapi karena parasnya yang lebih cantik dibandingkan dengan kandidat lainnya, walaupun suara kandidat lain ada yang lebih bagus.

Argumentum ad Hominem 2

Berbeda dari argumentum ad hominem 1, argumentum ad hominem 2 menitikberatkan pada hubungan yang ada diantara keyakinan seseorang dan lingkungan hidupnya. Pada umumnya argumentum ad hominem 2 ini menunjukkan pola pikir yang diarahkan pada pengutamaan kepentingan pribadi; yaitu: suka-tidak suka, kepentingan kelompok-bukan kelompok, dan hal-hal yang berkaitan dengan SARA.
Contoh 3:
Pembicara G: Saya tidak setuju dengan apa yang Pembicara S katakan karena ia bukan orang Islam .
Kesesatan: ketidak setujuan bukan karena hasil penalaran dari argumentasi, tetapi karena lawan bicara berbeda agama.
Bila ada dua orang yang telibat dalam sebuah konflik atau perdebatan, ada kemungkinan masing-masing pihak tidak dapat menemukan titik temu dikarenakan mereka tidak mengetahui apakah argumen masing-masing itu benar atau keliru. Hal ini terjadi ketika masing-masing pihak beragumen atas dasar titik tolak dari ruang lingkup yang berbeda satu sama lain.
Contoh 4:
Argumentasi apakah Isa adalah Tuhan Yesus (Kristen) ataukah seorang nabi (Islam).
Ini adalah sebuah contoh argumentasi yang tidak akan menemukan titik temu karena berangkat dari keyakinan dan ilmu agama yang berbeda
Contoh 5:
Dosen yang tidak meluluskan mahasiswanya karena mahasiswanya berasal dari suku yang ia tidak suka dan sering protes di kelas, bukan karena prestasi akademiknya yang buruk.
Argumentum ad hominem 1 dan argumentum ad hominem 2 adalah argumentasi-argumentasi yang mengarah kepada hal-hal negatif dan biasanya melibatkan emosi.

Argumentum ad baculum

Argumentum ad baculum (latin: baculus berarti tongkat atau pentungan) adalah argumen ancaman mendesak orang untuk menerima suatu konklusi tertentu dengan alasan bahwa jika ia menolak akan membawa akibat yang tidak diinginkan.
Argumentum ad baculum banyak digunakan oleh orang tua agar anaknya menurut pada apa yang diperintahkan, contoh menakut-nakuti anak kecil:
Bila tidak mau mandi nanti didatangi oleh wewe gombel (sejenis hantu yang mengerikan).
Argumen ini dikenal juga dengan argumen ancaman yang merupakan pernyataan atau keadaan yang mendesak orang untuk menerima suatu konklusi tertentu dengan alasan jika menolak akan membawa akibat yang tidak diinginkan.
Contoh argumentum ad baculum:
1.       Seorang anak yang belajar bukan karena ia ingin lebih pintar tapi karena kalau ia tidak terlihat sedang belajar, ibunya akan datang dan mencubitnya.
2.       Pengendara motor yang berhenti pada lampu merah bukan karena ia menaati peraturan tetapi karena ada polisi yang mengawasi dan ia takut ditilang.
3.       Pegawai bagian penawaran yang berbohong kepada pembeli agar produk yang ia jual laku, karena ia takut dipecat bila ia tidak melakukan penjualan.
Jenis argumentum ad baculum yang juga dapat terjadi adalah mengajukan gagasan (yang seringkali bersifat tuntutan) agar didengar dan dipenuhi oleh pihak penguasa, namun gagasan itu didasari oleh penalaran yang samasekali irasional dan argumen yag dikemukakan tidak memperlihatkan hubungan logis antara premis dan kesimpulannya.
Penolakan mahasiswa akan skripsi sebagai syarat kelulusan dengan alasan skripsi mahal dan menjadi "akal-akalan" dosen.

Argumentum ad Misericordiam

(Latin: misericordia artinya belas kasihan) adalah sesat pikir yang sengaja diarahkan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara dengan tujuan untuk memperoleh pengampunan/ keinginan.
Contoh:
1.       Pengemis yang membawa anak bayi tanpa celana dan digeletakkan tidur di trotoar.
2.       Pencuri motor yang beralasan bahwa ia miskin dan tidak bisa membeli sandang dan pangan.

Argumentum ad populum

(Latin: populus berarti rakyat atau massa) Argumentum ad populum adalah argumen yang dibuat untuk menghasut massa, rakyat, kelompok untuk membakar emosi mereka dengan alasan bahwa pemikiran yang melatarbelakangi suatu usul atau program adalah demi kepentingan rakyat atau kelompok itu sendiri. Argumen ini bertujuan untuk memperoleh dukungan atau membenarkan tindakan si pembicara.
Di sini pembuktian logis tidak diperlukan/ tidak digunakan. Yang dipentingkan ialah menggugah perasaan massa pendengar, membangkitkan semangat dan membakar emosi orang banyak agar menerima suatu pernyataan tertentu.

Argumentum auctoritatis

(Latin: auctoritas berarti kewibawaan) adalah sesat pikir dimana nilai penalaran ditentukan oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya. Jadi suatu gagasan diterima sebagai gagasan yang benar hanya karena gagasan tersebut dikemukakan oleh seorang yang sudah terkenal karena keahliannya 
Sikap semacam ini mengandaikan bahwa kebenaran bukan sesuatu yang berdiri sendiri (otonom), dan bukan berdasarkan penalaran sebagaimana mestinya, melainkan tergantung dari siapa yang mengatakannya (kewibawaan seseorang).
argumentasi ini sangat mirip dengan argumentum ad hominem, bedanya dalam argumentum ad hominem yang menjadi acuan adalah pribadi orang yang menyampaikan gagasan (dilihat dari disenangi/ tidak disenangi), maka dalam argumentum auctoritatis ini dilihat dari siapa (posisinya dalam masyarakat/ keahliannya/ kewibawaannya) yang mengemukakan.
Contoh:
§         Apa yang dikatakan ulama A pada kampanye itu pasti benar.
§         Apa yang dikatakan pastor B dalam iklan itu pasti benar.
§         Apa yang dikatakan Rhoma Irama pasti benar.
§         Apa yang dikatakan pak dokter pasti benar.
§         "Saya yakin apa yang dikatakan beliau adalah baik dan benar karena beliau adalah seorang pemimpin yang brilian, seorang tokoh yang sangat dihormati, dan seorang dokter yang jenius"

Argumentum ad verecundiam

Argumentum ad verecundiam adalah argumentasi yang diberikan dengan sengaja tidak terarah kepada persoalan yang sesungguhnya tetapi dibuat sedemikian rupa untuk membangkitkan perasaan malu si lawan bicara.
Contoh 1:
Pembicara G: Saya merasa aneh mengapa Pembicara S tidak setuju dengan pernyataan saya
Pembicara S: Memang kamu orang aneh..
Argumentum ad verecundiam juga digunakan sebagai pembenaran, dan sering dipakai dalam iklan :
Contoh 2:
"Orang pintar pasti minum jamu tolak angin!"
Contoh 3:
"Bila anda benar-benar seorang pembela kebenaran maka anda pasti akan membenarkan apa yang saya katakan karena yang saya katakan ini adalah benar"

lgnoratio elenchi

Ignoratio elenchi adalah kesesatan yang terjadi saat seseorang menarik kesimpulan yang sebenarnya tidak memiliki relevansi dengan premisnya. Loncatan sembarangan dari premis ke kesimpulan yang memiliki hubungan semu (tidak benar-benar berhubungan) biasanya dilatar belakangi oleh prasangka, emosi, dan perasaan subyektif. Ignoration elenchi juga dikenal sebagai kesesatan penggambaran seseorang (Image), " Halo Impact" , atau stereotyping.
Contoh:
1.       Orang yang baru keluar dari penjara pasti jahat.
2.       Orang Madiun pasti komunis.
3.       Si Ucup kalau datang pasti hendak berhutang.
4.       Orang Sagitarius pasti playboy.
5.       Anak bungsu pasti manja.
6.       Seorang wanita terlihat di lokalisasi pasti pelacur (padahal ia pedagang nasi bungkus).
Ignoratio elenchi mirip dengan generalisasi namun pernyataan yang dapat digolongkan ke dalam kesesatan ini lompatan kesimpulannya harus jauh.

Argumentum ad ignoratiam

Adalah kesesatan yang terjadi dalam suatu pernyataan yang dinyatakan benar karena kesalahannya tidak terbukti salah, atau mengatakan sesuatu itu salah karena kebenarannya tidak terbukti ada.
Contoh 1:
Tuhan, setan, dan hantu itu tidak ada karena...belum pernah lihat.
Contoh 2:
Seorang tersangka pencuri didakwa bersalah karena pada saat kejadian ia sedang tidur sendirian di rumahnya dan tidak memiliki alibi/orang yang bersaksi yang melihat bahwa ia benar sedang tidur.
Contoh 3:
Dinosaurus itu tidak ada karena...dinosaurus itu apa sih?
Pernyataan diatas merupakan sesat pikir karena belum tentu bila seseorang tidak mengetahui sesuatu itu ada/ tidak bukan berarti sesuatu itu benar-benar tidak ada.

Petitio principii

Adalah kesesatan yang terjadi dalam kesimpulan atau pernyataan pembenaran dimana didalamnya premis digunakan sebagai kesimpulan dan sebaliknya, kesimpulan dijadikan premis. Sehingga meskipun rumusan (teks/ kalimat) yang digunakan berbeda, sebetulnya sama maknanya.
Contoh:
Belajar logika berarti mempelajari cara berpikir tepat, karena di dalam berpikir tepat ada logika..
Guru: "Kelas dimulai jam 7:30 kenapa kamu datang jam 8:30?"
Murid: "Ya, karena saya terlambat.."
Kesesatan petitio principii juga dikenal karena pernyataan berupa pengulangan prinsip dengan prinsip.

Kesesatan non causa pro causa (post hoc ergo propter hoc/ false cause)

Kesesatan yang dilakukan karena penarikan penyimpulan sebab-akibat dari apa yang terjadi sebelumnya adalah penyebab sesungguhnya suatu kejadian berdasarkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan. Orang lalu cenderung berkesimpulan bahwa peristiwa pertama merupakan penyebab bagi peristiwa kedua, atau peristiwa kedua adalah akiat dari peristiwa pertama - padahal urutan waktu saja tidak dengan sendirinya menunjukkan hubungan sebab-akibat.
Kesesatan ini dikenal pula dengan nama kesesatan post-hoc ergo propter hoc (sesudahnya maka karenanya)
Contoh:
Seorang pemuda setelah diketahui baru putus cinta dengan pacarnya, esoknya sakit. Tetangganya menyimpulkan bahwa sang pemuda sakit karena baru putus cinta.
Kesesatan: Padahal diagnosa dokter adalah si pemuda terkena radang paru-paru karena kebiasaannya merokok tanpa henti sejak sepuluh tahun yang lalu.

Kesesatan aksidensi

Adalah kesesatan penalaran yang dilakukan oleh seseorang bila ia memaksakan aturan-aturan/ cara-cara yang bersifat umum pada suatu keadaan atau situasi yang bersifat aksidental; yaitu situasi yang bersifat kebetulan, tidak seharusnya ada atau tidak mutlak.
Contoh:
1.       Gula baik karena gula adalah sumber energi, maka gula juga baik untuk penderita diabetes.
2.       Orang yang makan banyak daging akan menjadi kuat dan sehat, karena itu vegetarian juga seharusnya makan banyak daging supaya sehat.

Kesesatan karena komposisi dan divisi

Kesesatan karena komposisi terjadi bila seseorang berpijak pada anggapan bahwa apa yang benar (berlaku) bagi individu atau beberapa individu dari suatu kelompok tertentu pasti juga benar (berlaku) bagi seluruh kelompok secara kolektif.
Contoh:
1.       Badu ditilang oleh polisi lalu lintas di sekitar jalan Sudirman dan Thamrin dan polisi itu meminta uang sebesar Rp. 100.000 bila Badu tidak ingin ditilang, maka semua polisi lalu lintas di sekitar jalan sudirman dan thamrin adalah pasti pelaku pemalakan.
2.       Maulana Kusuma anggota KPU sekaligus dosen kriminologi di UI melakukan korupsi, maka seluruh anggota KPU yang juga dosen di UI pasti koruptor.
Kesesatan karena divisi terjadi bila seseorang beranggapan bahwa apa yang benar (berlaku) bagi seluru kelompok secara kolektif pasti juga benar (berlaku) bagi individu-individu dalam kelompok tersebut.
Contoh 1:
Banyak pejabat pemerintahan korupsi. Yahya Zaini adalah anggota DPR, maka Yahya Zaini juga korupsi.
Contoh 2: Umumnya pasangan artis-artis yang baru menikah pasti lalu bercerai.
Dona Agnesia dan Darius adalah pasangan artis yang baru menikah, pasti sebentar lagi mereka bercerai.

Kesesatan karena pertanyaan yang kompleks

Kesesatan ini bersumber pada pertanyaan yang sering kali disusun sedemikian rupa sehingga sepintas tampak sebagai pertanyaan yang sederhana, namun sebetulnya bersifat kompleks.
Jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maksud dari kesesatan ini adalah karena pertanyaan yang diajukan sangat kompleks, bukan hanya pertanyaan yang memerlukan jawaban ya atau tidak. Contoh pertanyaan sederhana, dengan pertanyaan ya atau tidak
Contoh:
Apakah kamu yang mengambil majalah ku? ... Jawab ya atau tidak
Pertanyaan ini sulit dijawab hanya dengan ya dan tidak, apalagi bila yang ditanya merasa tidak pernah mengambilnya.

Teori diatas baru beberapa teori metode berpikir dan kesesatannya. Tetapi Teori diatas sudah cukup membantu kita untuk melhat dan membuktikan bagaimana seseorang menjawab dan menggunakan metode berpikirnya dalam memecahkan suatu masalah dengan logika. Kemudian menggunakan nalarnya untuk menghasilkan logika yang baik, benar dan tepat. Jika seseorang menggunakan metodenya sesuai dengan teori diatas, maka orang tersebut mengalami kesesatan logika.
Contoh salah satu Kesesatan Logika yang terjadi pada Kitab Suci Alkitab Injil.
“Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.” (Kejadian 21;12)
Kemudian dilanjutkan dengan ini
Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu." (Kejadian 21;13)
Inilah yang disebut Kesesatan Logika “Bertumpuk”. Artinya ada mengandung kesesatan bahasa, relevansi, materi dan Kesesatan lainnya. Bayangkan seorang laki-laki kawin dengan beberapa wanita entah itu seorang waita baik-naik, hamba sahaya, Pelacur dan sebagainya, anaknya selalu akan disebut sebagai “keturunan” laki-laki tersebut. Dan perhatikan pada kejadian 21;12 kata yang dipergunakan adalah “sebab yang akan disebut keturunanmu” . Kata tersebut menimbulkan kesesatan Amfiboli, dmana  pengertiannya bahwa ada 2  atau lebih pihak yang disebut anak sah, tetapi hanya satu yang disebut sebagai keturunan laki-laki tersebut. Kemudian akrena ini adalah sebuah Kitab Suci, maka seolah-olah pernyataan tersebut masuk diakal/logis, padahal hal ini mengandung kesesatan Argumentum ad Populum. Hanya karena ingin menunjukan eksistensi Ishak terhadap Ismail, maka penggunaan bahasa AlKitab justru menimbulkan kesesatan logika.
Kemudian perhatikan Kejadian 21;13, Kata “tetapi” justru menegaskan bahwa laki-laki tersebut memiliki keturunan lain. Dari Kesesatan Logika 2 ayat ini saja  sudah dapat disimpulkan ada hal yang sangat tidak masuk diakal dalam AlKitab. Belum lagi makna yang terkandung dalam AlKitab berarti memaknai bahwa “ada pembeda/Diskriminasi” terhadap anak atau keturunan. Bayangkan jika ayat ini sudah mengajarkan diskriminasi terhadap anak kandung sendiri, apalagi terhadap manusia lainnya?
“Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.” (Sad 38;2)
Nanti untuk melihat perilaku dan metode berpikir gilamologinya adalah dengan mengunakan pendekatan teori-teori Gilamologi. Antara lain:
a.      TEORI MENGALIHKAN PERHATIAN
Suatu bentuk upaya mengalihkan peserta ke dalam topik yang jauh dari inti permasalahannya. Tujuannya lagi-lagi supaya yang bersangkutan dianggap mengusung Kebenaran  dan supaya ucapannya didengar.
b.      TEORI JEBAKAN
Suatu upaya menunggu dan mencari kelemahan serta kesalahan argumen seseorang, dimana kelemahan atau kesalahan itu diharapkan dapat terjadi dari seseorang dan kemudian dijebak dan difokuskan pada titik kesalahan atau kelemahannya tersebut.
c.      TEORI PENYERANGAN PRIBADI.
Jika seseorang yang sudah tidak mampu lagi menangani orang lain berdasarkan kemampuannya sendiri (kejepit), maka dia akan menyerang Pribadi seseorang melalui Kelemahan atau kesalahannya. Kalau perlu Kelemahan atau Kesalahan masa lalu. Tujuannya adalah untuk menjatuhkan kredibilitas pihak lawan.
d.      TEORI HIU..
“Jangan ngajak  hiu berantem di air, tetapi ajak hiu berantem didarat”
e.      TEORI BUMERANG.
Seberapa kuat dia melempar, semakin kuat pula kembali pada pemiliknya. Tapi hati2…orang yang tidak ahli menangkap senjata bumerang ini, malah akan membunuh pelemparnya sendiri. Dia selalu MELEMPAR PERTANYAAN dan PERNYATAAN dimana dia sudah tahu kekuatan dari lemparannya tersebut dan dia sudah ahli menangkapnya artinya kalau dia melempar dan kena sasaran, maka matilah buruannya.
f.        TEORI SEBAB AKIBAT
Akibat selalu ada sebabnya dan akibat dapat menimbulkan sebab..apakah sebab itu menyebabkan penyebab tersebut mengakibatkan satu akibat itu atau akibat lain???.... apakah benar sebab itu penyebab dari sebab yang menimbulkan akibat itu? Adakah variabel sebab lain yang dapat menjadi penyebab dari sebab tersebut sehingga menjadi peyebat akibat yang mengakinbbatkan sebab lain ????
g.      TEORI LABELING
h.      TEORI CHARATER ASSASINATION
i.        TEORI KONSPIRASI
j.         TEORI JATI DIRI BERGANDA
k.      TEORI KESESATAN BERPIKIR
l.         TEORI PARADIGMA TERBALIK
m.    TEORI KONTRADIKSI KONSEP
n.      Dan teori-teori lainnya yang akan dijelaskan sesuai dengan topiknya.
Sungguh nenarik dalam melihat teori-teori Gilamologi, apalagi setelah melihat fakta-fakta di dalam Milist yang menunjukan bahwa teori tersebut benar adanya. Jadi jika kita melihat ada jawaban yang mulai tidak berdasar dan ngawur, mintalah mereka untuk membaca teori-teori diatas terlkebih dahulu.
“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.”(Nuh 71;7)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung Ke...JILID 14 Hal 96-104

Sabtu, 05 Maret 2011

Contoh Perbedaan Hukum Dan Teori (JILID 12 Hal: 78-86)

Contoh Perbedaan Hukum Dan Teori


Mari kita bedah sedikit  tentang perbedaan antara hukum dan teori. Kaum Atheis sangat mengagungkan mengenai Fisika sebagai Bapak dari Ilmu pengetahuan. Sedangkan saya akan mengatakan bahwa Filsafat adalah Bapaknya ilmu pengetahuan manusia. Sedangkan Kitab suci Alquran adalah sumber dari ilmu pengetahuan manusia.
Jadi jika ada yang mengatakan susunannya seperti ini :
Fisika => Filsafat => Ilmu pengetahuan terapan
Maka saya akan mengatakan bahwa dalam Islam, sistematika berpikirnya :
Alquran (Kitab Suci) => Filsafat => Fisika, Matematika dan Ilmu Murni lainnya => Ilmu pengetahuan terapan.
Urutan inilah yang disebut dengan metode berpikir Deduktif. Artinya Alquran adalah “sumber dari sumber Ilmu pengetahuan”, yang menginspirasi manusia yang berakal untuk berpikir Filsafat dan merumuskan dalam pemikiran ilmu manusia yaitu Fisika (diamati fenomenanya) dan matematika (dihitung kuantitasnya) atau ilmu murni lainya sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Sedangkan Filsafat adalah “Bapaknya ilmu pengetahuan” Manusia.
Sedangkan jika kita balik urutannya, maka itulah yang disebut dengan metode berpikir Induktif. Artinya jika kita menemukan salah satu Hukum Filsafat atau Fisika kemudian kita bandingkan dengan hukum pada Kitab Suci, Inilah metode Induktif. Kedua metode berpikir ini nanti akan membuktikan bahwa Ktab Suci Alquran adalah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan manusia.
Kita ambil contoh Hukum Gravitasi (gaya tarik bumi) untuk melihat perbedaan antara hukum dengan teori. Hukum Gravitasi ditemukan oleh Newton “katanya”. Padahal umat Islam lebih meyakini bahwa ini adalah sudah tercantum dalam Kitab suci Alquran, salah satunya :
“Dan pada sisi Allah-lah kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]
Dimana manusia lebih mengagungkan penemuan manusia lainnya. Atau karena Newton hidup sebelum mengenal dan membaca Alquran. Coba jika Newton membaca Alquran, maka dia tidak perlu repot-repot menunggu tidur dibawah pohon apel dan kejatuhan buahnya. Karena kejatuhan buah itulah maka Newton bertanya pada dirinya, Mengapa benda selalu jatuh kebumi? Ini adalah pertanyaan Filsafat, bukan ujug-ujug ilmu Fisika. Dari pertanyaan Filsafat inilah Newton mencoba melakukan penelitian dengan pengamatan dan pembuktian sehingga melahirkan hukum Gravitasi dan teori fisikanya yaitu rumusan gravitasi dan konstanta gravitasi.
Hukum Gravitasi mengatakan bahwa “ gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel yang mempunyai massa di alam semesta.”. Secara lengkapnya seperti ini:
Hukum Newton (1687):
"Dua benda saling menarik dengan suatu gaya yang sebanding-laras dengan massa-massa dari kedua benda tersebut dan sebanding-balik dengan kuadrat dari jarak antara kedua benda itu.
Dan ini sudah dipercaya oleh semua manusia di jagat bumi ini sebagai sebuah bagian hukum alam sampai sekarang ini. Hukum dalam definisinya belum bicara secara detail tentang rumus dan konstanta. Hukum berbicara secara umum tentang hukum alam yang didefinisikan dengan konsep, etimologi dan terminologi yang jelas. Hukum biasanya disampaikan atau didefinisikan dengan simbol kalimat bahasa yang umum. Hukum adalah wilayah Filsafat, bukan wilayah Fisika bukan matematika. Hukum alam Fisika adalah bagian dari Filsafat Hukum alam semesta raya. Dan Hukum Gravitasi yang dicetuskan/ditemukan oleh Newton saja (Hukum Gaya Tarik bumi), bagi saya baru bagian sedikit dari Hukum Tuhan tentang Hukum-hukum “Gaya Tarik menarik Alam Semesta”, nanti saya akan saya jelaskan. Hukum Gravitasi baru setitik dari ilmu pengetahuan manusia tentang Hukum “Gaya Tarik Menarik” menurut Hukum Allah. Hukum Gravitasi ditemukan pada abad ke 17, sedangkan AlQuran diturunkan pada abad ke 6. Apakah Alquran adalah perbuatan manusia?
Sedangkan rumusan dan konstanta gravitasi yang kita akui sekarang adalah baru sebagai teori, bukan sebagai hukum. Hal ini terbukti bahwa rumusan Gravitasi yang dipergunakan oleh Newton masih banyak menggunakan variabel asumsi ceteris paribus (dianggap sama atau dianggap mendekati nol atau variabel yang tidak terlalu berpengaruh). Newton waktu melakukan penelitian dilakukan pada tempat yang terbatas dan pengukuran jarak yang terbatas pula. Tetapi hal ini masih berlanjut sampai sekarang sebagai standar penelitian, dimana penelitian biasanya menggunakan standar suhu, tekanan, kecepatan angin di dalam ruangan (Laboratorium). Semua itu untuk memudahkan penemuan standar rumusan fisika terlebih dahulu.
Kemudian pengetahuan tentang sifat materi/zat tersebut pada waktu itu masih terbatas. Misalnya Newton tidak menggunakan perbedaan variabel Kerapatan partikel lingkungan (udara) untuk menghitung pengaruh friksi (gaya gesek) lingkungannya terhadap benda yang jatuh. Kemudian Newton juga tidak menghitung perbedaan jarak (lebih tinggi/jauh), kecepatan angin, gaya perlawanan benda, pengaruh gaya tarik lain, titik berat suatu benda yang dijatuhkan, berat jenis benda yang dijatuhkan  serta bentuk dan luas penampang dari benda yang dijatuhkan, bahkan mungkin hal/varibel lain yang belum dideteksi/ terpikirkan manusia. Hal ini dianggap normal karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan tehnologi pada waktu itu, serta keterbatasan manusia.
Mengenai Kerapatan Partikel udara, 2 jenis benda yang berbeda dengan berat yang sama bila dijatuhkan dari ketinggian 100 m akan berbeda waktu jatuhnya dengan benda yang dijatuhkan dari 10.000 m pada lokasi yang sama. Hal ini karena dipengaruhi kerapatan partikel udara pada ketinggian 100 m berbeda dengan kerapatan partikel udara pada ketinggian 10.000 m. Kemudian juga bila 2 jenis benda yang berbeda dengan berat yang sama bila dijatuhkan dari ketinggian 1000 m yang lingkungannya memiliki tingkat kelembaban udara rendah akan berbeda waktu jatuhnya dengan lingkungan yang memiliki tingkat kelembaban udara tinggi (lingkungan/lokasi berbeda). Tingkat kelembaban udara ini menyangkut kerapatan partikel udara tersebut, sehingga menimbulkan perbedaan friksi (gaya gesek) terhadap benda yang dijatuhkan. Sehingga konstanta gravitasi tidak mutlak sama. Kerapatan partikel ini tidak akan berpengaruh (dianggap nol) jika ketinggiannya rendah dan berat benda dijatuhkan lebih berat daripada partikel udara.
Perbedaan jarak sangat mempengaruhi konstanta gravitasi. Semakin jauh jarak benda yang akan dijatuhkan ke bumi terhadap bumi, semakin melemah gaya tarik bumi tersebut. Sehingga konstanta gravitasi tidak mutlak sama.
Materi/zat tidak selalu apa yang kasat mata. Materi atau zat yang berbentuk partikel-partikelpun bertebaran di muka bumi. Mengenai Berat Jenis benda atau zat tersebut, saya meyakini bahwa berat jenis suatu benda berpengaruh pada konstanta gaya tarik bumi. Jika Gaya tarik bumi lebih besar atau kuat daripada berat jenis suatu zat, maka benda tersebut akan jatuh ke bumi. Sedangkan bila konstanta Gaya tarik bumi lebih kecil dari berat jenis benda/zat tersebut, maka benda/zat tersebut tidak akan jatuh kebumi. Jika ada gaya tarik lain yang lebih besar dari gaya tarik bumi dan lebih besar daripada berat jenis benda tersebut, maka benda tersebut akan menuju kepada gaya tarik lain yang lebih besar tersebut. Dan jika berat jenis benda/zat tersebut lebih besar dari gaya tarik bumi dan lebih besar dari gaya tarik lainya, maka benda/zat tersebut akan melayang-layang diudara (tidak tertarik oleh gaya tarik bumi dan tidak tertarik pula oleh gaya tarik lainnya).
Sampai disini saja, mungkin orang bertanya, dari mana saya dapat mengetahui hal ini, tentu saja dari Alquran yang menyebutkan :
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” ( Al Hadiid 57;4).
Ayat Alquran menjelaskan apa yang akan jatuh ke bumi (ditarik gaya gravitasi) dan apa yang akan keluar dari bumi (menolak gaya gravitasi bumi atau ada gaya tarik lain).
Luar biasa bukan Alquran dengan ilmu pengetahuannya. Contohnya zat/benda gas yang melayang-layang diudara, apakah benda/zat tersebut jatuh ke bumi? Tidak bukan. Atau air yang menguap, apakah akan jatuh ke bumi? Tidak bukan, tetapi pada saat uap air itu berkumpul diawan dan melakukan transformasi zat/materi sehingga membentuk formasi partikel baru setetes air yang berat jenisnya lebih kecil dari gaya tarik bumi, maka air setetes air tersebut jatuh ke bumi, karena berat jenisnya lebih kecil daripada gaya tarik bumi. Sedangkan mengenai Gaya tarik lain yang saya maksudkan adalah kemungkinan bahwa sinar matahari/energi panas matahari mengandung gaya tarik terhadap zat-zat yang ada di bumi. Dan mungkin saja ada gaya tarik lain dari luar bumi yang lebih kuat yang akan mempengaruhi benda yang dijatuhkan tersebut. Misalnya pula pengaruh gaya tarik bulan terhadap pasang surut air laut. Apakah Newton menghitung variabel-variabel ini dalam rumusannya? Sayangnya saya bukan ahli Fisika dan Matematika, sehinga saya tidak dapat lebih mendalam lagi tentang hal ini. Saya hanyalah seorang yang belajar tentang Filsafat dan Metode berpikir manusia saja.
Gaya perlawanan dari benda/zat yang dijatuhkan tersebut adalah gaya penolakan terhadap gaya gravitasi bumi. Misalnya sebuah Roket yang meluncur keruang angkasa adalah benda yang melawan gaya gravitasi bumi. Sama seperti pada berat jenis, bila gaya perlawanan ini lebih besar dari gaya tarik bumi, maka benda akan meluncur keatas, demikian sebaliknya. Mungkin saja dalam beberapa zat/materi yang ada di bumi yang memiliki kaidah dan melakukan gaya perlawanan seperti sebuah roket tersebut secara alami (seperti sebuah jet pendorong), yang melakukan perlawanan terhadap gaya gravitasi bumi. Selain gaya dorong jet pada roket tersebut, kita bisa juga mengambil contoh gaya dorong kepak sayap burung yang melawan gaya gravitasi bumi bumi. Alquran menggambarkan hal ini dengan hukum kekuatan:
“Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (Ar Rahman 55;33)
Gaya Bantu adalah gaya perlawanan yang arahnya menuju gravitasi bumi. Gaya tersebut dipergunakan justru bukan unutk melawan melainkan membantu percepatannya jatuh ke bumi. Roket yang arahnya menuju ke bumi, maka gaya dorongnya adalah gaya bantu untuk mempercepat jatuh ke bumi.
Titik Berat mempengaruhi kecepatan jatuh sebuah benda. Semakin banyak titik beratnya, maka semakin lambat dia turun. Atau misalnya sebuah benda yang memiliki titik berat yang merata pada bentuk (Volume) dan luas penampang yang lebar/luas, maka waktu jatuh ke buminya akan semakin lambat. Misalnya jika anda melempar 2 buah panci, panci satu diberikan konsentrasi berat pada lantai pancinya dan yang satu panci pada bibir pancinya. Maka pada saat jatuh panci yang titik beratnya pada lantai panci, maka dia akan jatuh dimana lantai panci akan menghadap kebawah (ke bumi) akan lebih cepat jatuh. Sedangkan panci yang satu lagi bibir pancinya yang akan menghadap kebawah (ke bumi). Bagi Panci yang bibir pancinya menghadap kebawah (ke bumi), dimana ada volume/ruangnya akan menangkap/menahan udara lebih besar di dalamnya, maka gaya friksinya semakin kuat, sehingga jatuh ke bumi akan lebih lambat daripada panci yang lantainya menghadap kebawah (ke bumi).
Bentuk dan luas penampang saling terkait dengan titik berat diatas, jika semakin besar bentuk dan luas penampangnya dengan titik berat yang merata, maka jatuh benda tersebut akan semakin lambat. Misalnya kita jatuhkan meja dan bola bowling dengan berat yang sama. Meja yang memiliki luas tersebut kita beri pemberat yang sama pada keempat sudutnya. Maka jika bola bowling dan Meja tersebut dijatuhkan dari ketinggian misalnya 1000 m, maka saya yakin bahwa bola bowling akan jatuh terlebih dahulu. Mengapa? Karena bentuk dan luas penampang bola bowling lebih kecil dari meja dan titik beratnya ada pada satu titik berat. Sedangkan meja yang memiliki luas penampang yang lebih luas dan memiliki 4 titik berat yang sama pada sudutnya dan titik berat yang merata pada luas penampangnya. Maka luas penampang meja tersebut akan menghambat laju atau gesekannya semakin kuat dengan udara, sehingga meja menjadi lambat untuk jatuh. Bentuk dan luas penampang ini dapat dikatakan pula sebagai aerodinamika benda tersebut.
Karena Rumusan yang banyak menggunakan asumsi tersebut diatas, maka percepatan gravitasi Newton yaitu 9,8 m/det ternyata mengandung relatifitas dan berbeda tergantung lokasinya di bumi. Percepatan gravitasi yang diakui sekarang adalah kisaran 9 m/det s/d 10 m/det. Seperti yang diungkapkan dalam Wikipedia:
“Percepatan gravitasi suatu obyek yang berada pada permukaan laut dikatakan ekivalen dengan 1 g, yang didefinisikan memiliki nilai 9,80665 m/s2. Percepatan di tempat lain seharusnya dikoreksi dari nilai ini sesuai dengan ketinggian dan juga pengaruh benda-benda bermassa besar di sekitarnya. Umumnya digunakan nilai 9,81 m/s2 untuk mudahnya.”

Sedangkan konstanta G (Konstanta Gravitasi) kira-kira sama dengan 6,67 × 10−11 N m2 kg−2. Sekali lagi teori manusia tidak sanggup membuat kepastian bilangan Percepatan dan konstantanya, hanya pendekatan saja. Teorinya memang dapat gugur oleh teori berikutnya, tetapi hukumnya sendiri tidak berubah. Inilah perbedaan antara hukum dan teori.
Dari gambaran diatas, sebenarnya Gilamologi ingin membuat distingsi besarnya saja, bahwa Hukum selalu memiliki 2  pengaruh besar. Dalam Hukum Gravitasi pengaruh tersebut terbagi :
1.      Pengaruh Internal
Pengaruh yang disebabkan oleh benda/zat atau objek/subjek yang diamati dari dalam dirinya sendiri. Hal ini disebabkan kelengkapan sistem yang sudah melekat pada benda/zat itu sendiri. Misalnya Berat jenis, Massa, Titik berat benda/zat, bentuk dan luas penampang, gaya perlawanan atau hal-hal yang muncul atau sudah ada pada benda/zat tersebut. Malah ada teori yang belum terpecahkan atau teori yang belum dapat dibuktikan menyebutkan bahwa gaya gravitasi timbul karena adanya partikel gravitron dalam setiap atom.
2.      Pengaruh Eksternal.
Sedangkan pengaruh Ekternal adalah pengaruh-pengaruh yang berasal dari luar benda/zat atau objek/subjek yang sedang diamati. Misalnya dalam hukum Gravitasi diatas seperti Kerapatan Partikel lingkungan, Gaya tarik lain (pengaruh konstanta gravitasi benda lainnya), jarak, dan variabel eksternal lainnya.
Semakin luas dan dalam (Holistis) variabel itu dipergunakan dalam teori manusia, maka semakin mendekati hukum alam yang sebenarnya hukum alam yang ditemukan manusia tersebut.
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (Az Zumar 39;3)
Dari penjelasan diatas, Apakah manusia sekarang sudah mampu membuat konstanta atau menemukan secara lengkap tentang gaya tarik lain yang mempengaruhi gaya tarik bumi (gravitasi). Apakah manusia sudah dapat melihat variabel-variabel yang lebih mendalam tentang gaya tarik bumi dan gaya tarik lainnya? Manusia akan menjawab, waktulah yang akan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Bagaimanapun manusia akan selalu tergantung pada variabel KETERBATASAN DAN terkungkung oleh variabel Ruang dan Waktu. Mengapa harus menunggu waktu jika hal itu sudah disuratkan dan  disiratkan dalam Alquran?
 “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)". (Al-I Imran 3;27)
Dari balik ayat diatas ini saja, kita dapat melihat ilmu pengetahuan didalamnya. Filsafat manusia kita akan bertanya, Apa yang hidup dari yang mati dan yang mati dari yang hidup? Ini bukan semata-mata ayat tentang hukum etika dan moral, melainkan ayat sumber ilmu pengetahuan. Apakah ada sebuah energi (hidup) yang dilepaskan oleh benda mati? Atau apapun itu, Alquran mempersilahkan manusia yang berilmu dan berakal untuk mengkaji bagi kepentingan kemakmuran dan kesejahteraan hidup umat manusia.
Kitab (Al Quraan ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quraan) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya.” (Az Zumar 39;1-2)
Bodoh dan egoisnya manusia karena hendak membuktikan bahwa dirinya lebih besar daripada Allah SWT. Betapa sombongnya, arogan dan tersesatnya manusia, serta melampaui batas hendak melebihi apa yang sudah dibuktikan secara jelas dan nyata dalam AlQuran sebagai bukti Alquran adalah sumber ilmu pengetahuan dan Alquran membuktikan secara Empiris bukti keberadaan dan Kekuasaan Allah SWT.
“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (Taha 20;110)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
“Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat". (Saba 34;50)
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung Ke-...JILID 13 Hal: 86-96 

Jumat, 04 Maret 2011

Kajian Landasan Berpikir 3 (JILID 11 Hal: 70-78)


Kajian Landasan Berpikir (3)
  
 
Dari penjelasan diatas dapatlah saya mendistingsi kembali tentang konsep “Hukum”. Dimana Hukum yang ditemukan, dilahirkan atau direkayasa manusia memiliki variabel keterbatasan dan terkungkung oleh Ruang dan Waktu. Oleh sebab itu Distingsi hukum yang saya temukan adalah: 

 1.      Hukum Manusia.
Hukum yang ditemukan, dilahirkan atau direkayasa manusia dari sebuah uji metodologi ilmiah manusia untuk menjadi sebuah fakta dan landasan berpikir bagi ilmu pengetahuan lainnya atau selanjutnya. Karena Hukum manusia masih memiliki variabel KETERBATASAN dan Terkungkung oleh RUANG dan WAKTU maka K.R Popper berani mengeluarkan prinsip Falsifabilitas. Hukum manusia akan gugur pula seiring ditemukannya hukum baru yang dapat menggugurkan hukum yang ditemukannya tersebut. Artinya pula hukum manusia adalah hukum yang masih memiliki sifat relatifitas (belum Mutlak). Walaupun tidak/belum mengandung Kebenaran Mutlak, Hukum manusia sudah cukup untuk membuktikan sebagai sebuah kebenaran yang mendekati kebenaran mutlak.
2.      Hukum Tuhan
Sedangkan Hukum Tuhan adalah hukum yang mengandung Kebenaran Mutlak yang diturunkan, difirmankan atau diwahyukan oleh Tuhan (Allah SWT) kepada umat manusia sebagai landasan berpikir manusia bagi kehidupannya. Karena Hukum Tuhan diturunkan oleh Zat yang memiliki sifat Ke”Maha”an, tidak memiliki variabel Keterbatasan dan tidak terkungkung oleh Ruang dan Waktu, maka Hukum Tuhan adalah Kebenaran Mutlak. Contoh Hukum Tuhan yang Mutlak :
 “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” [Al Anbiyaa’:35]
Ilmu pengetahuan manapun akan menyatakan bahwa “SEMUA” mahluk yang hidup PASTI akan mati. Sesuatu yang pasti adalah kebenaran Mutlak (Hukum Tuhan). Sampai kapanpun, waktu akan membuktikan bahwa hukum tersebut mutlak adanya.
Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang didalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman (Al Maidah 5;43)
Karena Kebenaran Mutlak inilah pula yang dapat dibuktikan oleh manusia sebagai alat bukti keberadaan-Nya dan sebagai inspirator bagi penemuan dan pelahiran ilmu pengetahuan yang sudah dan mungkin belum diketahui oleh manusia. Oleh sebab ini pula Hukum Tuhan tidak boleh gugur oleh Hukum Manusia. Hukum Tuhan tidak boleh runtuh oleh prinsip Falsifabiltas. Hukum Tuhan yang berada pada sebuah Kitab Suci.
“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu.” (At Tauba 9;112)
Mengapa selama ini Kitab Suci tidak digunakan sebagai landasan berpikir pada dunia pendidikan atau ilmiah? Pertama, hal ini disebabkan para filsafat barat sebagai acuan para ilmuwan sekarang menyatakan bahwa penelitian ilmiah haruslah mengesampingkan dahulu masalah Tuhan, dengan alasan agar lebih objektif dan lebih kritis. Kedua, Pola pemikiran filsafat barat ini didukung oleh kaum materialistis dan evolusionis yang notabene menguasai media dan bidang ilmu pengetahuan itu sendiri, serta mereka anti Tuhan. Ketiga, Kaum Filsafat Barat meragukan Kitab Suci sebagai landasan berpikir karena yang mereka kenal selama ini di Barat adalah Alkitab Injil saja. Kitab Suci yang mereka duga memiliki kerusakan yang rasional dan logis menurut ilmu pengetahuan.
Atas dasar diataslah, maka Gilamologi sekarang mengajukan sebuah referensi dan kajian baru untuk dilihat bahwa Alquran bukanlah sebuah Kitab Suci biasa yang mengandung kesalahan akibat campur tangan manusia. Alquran adalah Kitab Suci yang mengandung Kebenaran Mutlak yang diturunkan oleh Sang Maha Mengetahui seluruh Jagat Raya ini, serta dapat dan harus dipergunakan sebagai landasan berpikir ilmiah.
Alquran berani mengajukan diri sebagai sebuah bukti Empiris keberadaan dan Kebesaran Tuhan, serta menegaskan bentuk Kebenaran Mutlak (Tidak pernah salah dan lupa) ditegaskan dalam ayat :
“Berkata Fir'aun: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?". Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa; Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” (Taha 20;49-54)
Dari penjelasan dan ayat diatas dapatlah kita simpulkan bahwa tujuan dari ilmu pengetahuan adalah memecahkan “Rahasia Hukum Alam” untuk dapat dimanfaatkan manusia demi pedoman hidup, serta kemakmuran dan kesejahteraannya.
Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu". (Taha 20;98)
Tidaklah mungkin ilmu pengetahuan manusia sekarang bertentangan dengan Hukum Alam. Semua ilmu terapan manusia jika kita urut asal-usulnya dan metode penemuannya, maka akan berkesesuaian dengan hukum alam. Artinya semua ilmu manusia sekarang pasti akan bermuara pada hukum alam. Hukum alam yang memiliki kebenaran Mutlak. Kebenaran Mutlak yang diyakini umat beragama ada dalam Kitab Sucinya, khususnya Alquran.
Contohnya ilmu komputer dan mesin Komputer itu sendiri. Bagaimanapun Komputer dapat dilahirkan karena adanya bilangan binary yang mampu menerjemahkan bahasa Mesin menjadi bahasa manusia. Bahasa Binary sendiri ditemukan manusia karena hasil dari menyelidiki alam tentang “Ada” dan “Tiada”, maka lahirlah konsep bilangan “1” (Satu) dan 0 (Nol). Bayangkan jika Al Khawarizmi tidak menemukan angka Nol, Komputer tidak akan pernah lahir.
Nubuatan tentang suatu fenomena atau peristiwa sejarah memang tidak selalu berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tetapi suatu peristiwa yang digambarkan pada satu Kitab Suci dan terbuktti kebenarannya dimasa berikutnya, haruslah berdasarkan hukum Historis. Yaitu suatu kejadian itu harus terjadi setelah tahun diturunkannya Kitab Suci tersebut.
Contohnya adalah Nubuatan Kemenangan Bizantium (Romawi) atas Persia.
"Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang)." (Al Qur'an, 30:1-4)
Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Artinya bahwa apa yang ada di dalam Alquran terbukti sebagai Kebenaran Mutlak. Jelasnya nanti ada dalam Jilid Alquran dan Ilmu pengetahuan.
Sedangkan pencatatan sejarah yang terjadi sebelum Kitab Suci hadir dan tertulis pada Kitab Suci haruslah dibuktikan dengan penemuan bukti-bukti historis yang bukti-bukti tersebut sudah mengalami proses uji ilmiah.
Contoh dalam Ayat Alquran tertulis tentang penemuan mayat Ramses II yaitu Firaun yang mengejar Musa sampai ke Laut Merah.
"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Fir'aun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (QS. 10:92)
Pada waktu Qur-an disampaikan kepada manusia oleh Nabi Muhammad, semua jenazah Fir'aun-Fir' aun yang disangka ada hubungannya dengan Exodus oleh manusia modern terdapat di kuburan-kuburan kuno di lembah raja-raja (Wadi al Muluk) di Thebes, di seberang Nil di kota Luxor. Pada waktu itu manusia tak mengetahui apa-apa tentang adanya kuburan tersebut. Baru pada abad 19 orang menemukannya seperti yang dikatakan oleh Qur-an jenazah Fir'aunnya Exodus selamat. Pada waktu ini jenazah Fir'aun Exodus disimpan di Museum Mesir di Cairo di ruang mumia, dan dapat dilihat oleh penziarah. Jadi hakekatnya sangat berbeda dengan legenda yang menertawakan yang dilekatkan kepada Qur-an oleh ahli tafsir Alkitab Injil, R.P. Couroyer. Artinya bahwa apa yang ada di dalam Alquran terbukti sebagai Kebenaran Mutlak.
Dari sinilah asal muasal pencarian manusia terhadap Tuhan yang dianggap sebagai pencipta dari Rahasia Hukum Alam Semesta tersebut. Jika Tuhan adalah pencipta alam semesta, maka semestinyalah Tuhan juga memberikan informasi kepada manusia tentang pengetahuan alam semesta itu sendiri pada Firman-Nya (Kitab Suci). Sekarang tinggal manusia melihat, mengamati, membaca, menguji, mengaplikasikan dan meyakini Kitab Suci mana yang membuktikan bahwa Kitab Suci itu adalah Firman Tuhan yang mengandung Kebenaran Mutlak. Atau bagaimana sebuah Kitab Suci akan mempertahankan klaimnya sebagai Kebenaran Mutlak (Firman Tuhan) dari uji prinsip Falsifabilitas? Sebuah uji prinsip yang sederhana sehingga dapat menghadirkan keberadaan Tuhan melalui Kitab Suci-Nya sebagai Bukti Empiris.
“Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (An Najm 53;18)
Permintaan bukti yang nyata (bukti empiris) oleh manusia ini juga sudah diketahui oleh Allah SWT melalui Alquran :
“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur'an), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. “(Al Baiyina 98;1-3)
Bukti-bukti yang menunjukan ilmu pengetahuan atau hukum-hukum alam yang berada pada Kitab Suci Alquran mempengaruhi dan menginspirasi para pemikir Islam pada masa awal Islam.
“Pada masa awal Islam dibangun badan-badan pendidikan dan penelitian yang terpadu. Observatorium pertama didirikan di Damaskus pada tahun 707 oleh Khalifah Amawi Abdul Malik. Universitas Eropa 2 atau 3 abad kemudian seperti Universitas Paris dan Univesitas Oxford semuanya didirikan menurut model Islam.
Para ilmuwan Islam seperti Al Khawarizmi memperkenalkan “Angka Arab” (Arabic Numeral) untuk menggantikan sistem bilangan Romawi yang kaku. Bayangkan bagaimana ilmu Matematika atau Akunting bisa berkembang tanpa adanya sistem “Angka Arab” yang diperkenalkan oleh ummat Islam ke Eropa.
Selain itu berkat Islam pulalah maka para ilmuwan sekarang bisa menemukan komputer yang menggunakan binary digit (0 dan 1) sebagai basis perhitungannya, kalau dengan angka Romawi (yang tak mengenal angka 0), tak mungkin hal itu bisa terjadi. Selain itu Al Khawarizmi juga memperkenalkan ilmu Algorithm (yang diambil dari namanya) dan juga Aljabar (Algebra). Beliau juga dikenal sebagai penemu angka Nol (0).
Omar Khayam menciptakan teori tentang angka-angka “irrational” serta menulis suatu buku sistematik tentang Mu’adalah (equation).
Di dalam ilmu Astronomi ummat Islam juga maju. Al Batani menghitung enklinasi ekleptik: 23.35 derajad (pengukuran sekarang 23,27 derajad).
Dunia juga mengenal Ibnu Sina (Avicenna) yang karyanya Al Qanun fit Thibbi diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard de Cremone (meninggal tahun 1187), yang sampai zaman Renaissance tetap jadi textbook di fakultas kedokteran Eropa.
Ar Razi (Razes) adalah seorang jenius multidisiplin. Dia bukan hanya dokter, tapi juga ahli fisika, filosof, ahli theologi, dan ahli syair. Eropa juga mengenal Ibnu Rusyid (Averroes) yang ahli dalam filsafat.
Ilmuwan Islam juga mengutamakan percobaan/eksperimen ketimbang Filsuf Yunani yang mengandalkan rasio. Ilmuwan Islam menemukan metode Ilmiah (Scientific Method) dengan pengamatan yang teliti, percobaan yang terkontrol, dan pencatatan-pencatatan yang hati-hati. Sebagai contoh Ibnu Al Haytham (Alhacen) dalam ”Book of Optics” (1021) dengan berbagai observasi empiris dan percobaan telah memperkenalkan Metode Ilmiah Modern. Rosanna Gorini menulis: ”Menurut mayoritas sejarawan, Alhaytham adalah pionir Metode Ilmiah Modern. Dengan bukunya dia merubah arti istilah Optik dan membuat berbagai percobaan sebagai bukti standar di bidangnya. Penyelidikannya bukan hanya berdasarkan teori, tapi bukti percobaan. Dan percobaannya sangat sistematis dan dapat diulang.” (Belajar Iman, Islam, dan Ihsan; Keutamaan Ilmu dan Kejayaan Islam di Bidang Ilmu Pengetahuan dan Wikipedia)
                             
Dari data diatas jelaslah sudah bagaimana Islam mengalami masa kejayaan dari sisi ilmu pengetahuan. Metode ilmiah yang sekarang diagung-agungkan oleh bangsa barat dan kaum atheis, justru umat Islam yang pertama menemukannya. Kaum barat yang meniru apa yang sudah dilakukan oleh Umat Islam pada awalnya sehingga ilmu pengetahuan sekarang memiliki kaidah-kaidah ilmiah. Lompatan besar ilmu pengetahuan terjadi setelah hadirnya Islam dengan Alquran-nya. Hal ini jelas akan terjadi karena Alquran membawa hukum-hukum ilmu pengetahuan didalamnya.
Masa perang saliblah yang menyebabkan banyaknya literatur-literatur ilmu pengetahuan Islam yang dicuri dan disembunyikan oleh bangsa Barat, malah diklaim mereka sekarang ini sebagai hasil kebudayaan barat.
Alquran yang memberikan banyak inspirasi kepada para pemikir Islam dengan memberikan petunjuk yang jelas dan beberapa dalam bentuk kiasan.
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Az Zariyat 51;20-21)
Allah SWT menegaskan bahwa Alquran adalah sumber ilmu pengetahuan yang membedakan yang nyata dan yang gaib secara jelas digambarkan:
“Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” [An Naml:75]
Bahwa AlQuran akan menjelaskan juga masalah yang besar (Penciptaan Alam) dan hal-hal yang kecil (hukum-hukum manusia) disebutkan juga :
“Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” [Al Qamar:53]
Allah SWT memberikan gambaran bahwa ada manusia yang akan membantah AlQuran tanpa ilmu pengetahuan. Dan AlQuran kembali menegaskan tentang pentingnya menggunakan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mengetahui tanda-tanda kebesaran Allah SWT, seperti dalam ayat:
“Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat, yang telah ditetapkan terhadap syaitan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.” (Al Hajj 22;3)
Artinya bahwa istilah yang sering dipakai untuk pembuktian sebuah Kitab Suci biasanya oleh para ahli kitab adalah tentang NUBUAT. Dikatakan bahwa sebuah alkitab menubuatkan sesuatu atau sebuah fenomena yang akan terjadi kemudian. Jadi sekarang Gilamologi hadir ingin memberikan gambaran kepada khalayak ramai tentang nubuatan apa yang ada di dalam Alquran.
Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu'min, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur'an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” (An Nisaa 4;162)
Gilamologi hadir dengan memberikan Nubuatan tentang ilmu pengetahuan yang ada di dalam Alquran. Apakah Nubuatan ilmu pengetahuan itu terbukti sekarang ini, ataukah hanya sebuah dongeng, khayalan atau ramalan semata? Ataukah Nubuat ilmu pengetahuan yang dikarang-karang?
“dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata.” (Ad Dukhan 44;19)
Dengan Nubuat Ilmu pengetahuan manusia di dalam Alquran,  Allah SWT berjanji :
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur 24;55)
“Inikah Tanda-tanda Kebesaran (Keberadaan) Allah?”
Semoga Hidayah Kebenaran Islam dari Allah SWT selalu bersama Anda.
Dan jika ada kesalahan tulisan..itu kesalahan saya sebagai Manusia Biasa.
May Allah Bless Us/You (MABU)!!!

Bersambung Ke-...JILID 11 Hal: 78-86